
Dear Diary,
Aku kira sudah agak mereda teror mahluk itu di keluargaku. Ternyata hari ini aku mendapat teror lagi. Hmm...
☠️☠️☠️
Siang itu sepulang sekolah Bang Ganjar langsung menuju ke meja makan. Setelah meneguk habis segelas air putih yang berada digelasnya. Dia segera mengambil nasi dan meletakkannya dipiringnya.
Dengan lahap Bang Ganjar memasukan makan siangnya ke dalam mulutnya. Tampak sangat lapar sekali dia siang ini. Ya, maklum saja siang menjelang sore begini, dia baru pulang sekolah.
Aku yang kala itu baru saja keluar dari kamar dan hendak menonton televisi di ruang keluarga. Tanpa sengaja mataku menoleh ke lantai satu. Tepat dimana Bang Ganjar duduk sembari menikmati makan siangnya. Langkah kakiku terhenti dan niat ingin menekan tombol ON pada televisi juga aku urungkan.
Mataku mengawasi keadaan dibawah sana. Ya, tepat di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Perlahan seseorang yang saat ini berada di belakang Bang Ganjar mendekat. Aku melihat orang itu tampak seperti perempuan dan berambut panjang.
"Mbak Yayuk!" Ucapku tanpa suara.
Aku berusaha tidak mengeluarkan suara apapun saat itu. Yang ingin aku lakukan hanya mengawasi gerak-geriknya saat ini. Lebih tepatnya gerak-gerik yang mencurigakan. Pasalnya dia berjalan sangat pelan mendekati Bang Ganjar yang tengah asyik makan.
"Mau ngapain Mbak Yayuk?" Batinku.
__ADS_1
Langkah kakinya semakin mendekat ke arah Bang Ganjar. Terus aku pantai dari sebelah tangga lantai dua. Aku berada diposisi yang menurutku strategis, karena aku dapat melihat kondisi di lantai satu dan dari situlah aku bisa berlari cepat jika terjadi sesuatu.
Mataku terbelalak tatkala melihat salah satu tangan Mbak Yayuk. Tangannya mencengkeram sesuatu. Dan kemudian dia mengangkat tangannya tersebut dan mengarahkan ke tubuh Bang Ganjar.
"Awas bang!" Aku berteriak saat itu juga.
"Mbak Yayuk!" Teriakku lagi.
Aku segera berlari menuju meja makan. Untung saja Bang Ganjar berhasil menghindar dari sasaran Mbak Yayuk. Segera aku merebut pisau yang ada digenggamannya. Aku buang pisau itu kesembarang arah. Kemudian aku pegang kedua tangan Mbak Yayuk.
"Ada yang tidak beres nih." Batinku saat memegang tangan Mbak Yayuk.
"Mbak Yayuk!" Panggilku lagi.
Rasanya aneh sekali tangan Mbak Yayuk saat ini. Aku yakin ini bukan Mbak Yayuk yang sebenarnya. Aku yakin tubuh Mbak Yayuk telah dikuasai oleh makhluk halus. Lama kelamaan genggaman tanganku yang awalnya terasa panas kini berubah menjadi dingin seketika.
"Mbak Yayuk!" Panggilku mencoba menyadarkan dia.
Aku tatap matanya, tatapannya tajam seperti seseorang yang menyimpan amarah. Tatapan yang sangat menakutkan. Setelah melihat tatapan itu, kini aku benar-benar yakin bahwa ini bukanlah Mbak Yayuk.
__ADS_1
"Bang Ganjar, tolong ikat tangan Mbak Yayuk!" Perintahku.
Dengan cepat Bang Ganjar mencari tali untuk mengikat tangan Mbak Yayuk. Setelah tangannya kami ikat. Mbak Yayuk kami dudukkan pada salah satu kursi di meja makan itu.
"Kenapa dik?" Tanya Bang Ganjar.
"Dia sempat melakukan percobaan pembunuhan bang. Dan dia bukan Mbak Yayuk. Ada sosok yang sedang menguasai tubuh Mbak Yayuk." Jawabku.
"Lalu kita harus bagaimana dik?" Tanya Bang Ganjar yang mulai panik.
Siang itu hanya aku, Bang Ganjar, dan Mbak Yayuk saja yang berada di rumah. Papa masih bekerja, sedangkan mama sedang pergi ke supermarket bersama Aira. Mendengar pertanyaan Bang Ganjar, aku juga bingung harus berbuat apa.
"Bang kita telepon mama saja." Kataku memberi ide.
"Oke, akan segera menelepon tante." Kata Bang Ganjar seraya berjalan menuju telepon rumah.
Aku masih tetap berada di dapur, menunggu tubuh Mbak Yayuk yang dikendalikan mahluk halus itu. Tatapan matanya masih sama, tidak berkurang sedikitpun. Sebenarnya aku takut, namun aku harus memeberanikan diriku.
☠️☠️☠️
__ADS_1
Siapa yang memasuki tubuh Mbak Yayuk?👻👻👻