Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Dibalik Kematian


__ADS_3

Dear Diary,


Ternyata kematian tidak semenakutkan cerita orang-orang. Aku melihat mereka berkumpul dan bahagia.


***


Aku benar-benar terkejut melihat seseorang yang kini berada dibelakang Bang Ganjar. Wanita itu tersenyum padaku, namun jelas sekali wajahnya begitu pucat. Mataku membulat sempurna untuk meyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi. Dan pemandangan dihadapanku saat ini adalah nyata.


"Mam ... Ma... " Panggilku lirih dengan tatapan kosong.


"Ada apa Kalista?" Mama bertanya padaku.


Aku diam karena masih terkejut dengan apa yang aku lihat saat ini. Mama menunjuk menyejajarkan wajah kita, sembari memegang kedua bahuku. Dia pun bertanya dan memastikan keadaanku.


"Ada apa Kalista?" Tanya mama.


"Apa kamu baik-baik saja?" Lanjutnya.


"Nak ...."


Pandanganku yang awalnya ke depan, kini aku beralih memandang mama.


"Ma... Itu ada Tante Ria." Kataku lirih.


"Mana?" Mama menoleh kesana kemari mencari apa yang aku maksud.


"Gak ada siapapun kok." Kata mama kemudian.


"Itu ma ... Dibelakang abang." Aku menunjuk ke arah Bang Ganjar.


"Gak ada siapa-siapa ah.. Jangan ngaco Kalista." Mama berbisik supaya yang lain tidak mendengar.


"Tapi ma ...."


"SsStt ..." Mama meletakkan telunjuknya di depan mulutku.


Aku pun cemberut, karena mama mengabaikan apa yang aku lihat. Sementara yang lain masih berdoa di dekat makam Tante Ria. Aku masih memastikan sosok tersebut. Ternyata di belakang Tante Ria ada seorang laki-laki dan seorang anak yang tampak menunggunya.


Benar-benar nyata apa yang saat ini aku saksikan. Ya, dibelakang Tante Ria ada Om Yudi. Berserta seorang anak laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan Bang Ganjar. Mereka berdua juga mengenakan pakaian serba putih.


"Siapa ya dia?" Tanyaku dalam hati.


"Kok mirip sekali dengan Bang Ganjar?"


"Dan kenapa Om Yudi juga ada disini?"


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dibenakku. Memenuhi pikiranku saat itu. Namun, tiba-tiba aku terpikirkan oleh perkataan Mike. Bahwa aku ini seorang indigo. Mungkin hanya aku disini yang bisa melihat keberadaan mereka.


"Oh iya, aku lupa kata-kata Mike." Batinku.


"Pantas saja mama tidak melihat Tante Ria."


Cukup lama kami berada di makam itu. Hingga tak terasa panas matahari semakin menyengat kulit kami. Papa mengajak kami semua kembali pulang.


"Sudah yuk nak." Ajak papa sembari memegang bahu Bang Ganjar.


"Kita pulang ya. Besok kita kemari lagi."


Papa membantu Bang Ganjar berdiri dari posisi awalnya yang berjongkok di dekat nisan. Bang Ganjar dituntun oleh papa. Kami mengikuti papa dari belakang. Ketika Bang Ganjar digandeng oleh papa untuk menjauh. Saat itu pula Tante Ria mundur dan mendekat ke tempat Om Yudi dan anak laki-laki. Dia tersenyum kepadaku. Dan aku pun membalas senyumnya.

__ADS_1


"Kalista kamu kenapa senyum-senyum?" Tanya mama.


"Pamitan ma." Jawabku singkat.


Seolah Tante Ria, Om Yudi, dan anak laki-laki itu melambaikan tangan kepadaku. Sebagai pamit dan ucapan selamat tinggal. Mereka semua tersenyum kepadaku. Samar-samar aku mendengar sesuatu.


"Titip Ganjar ya."


"Kami sudah bahagia disini."


Mendengar itu aku kembali melongo. Meyakinkan apakah itu suara asli atau hanya halusinasi. Aku tengok lagi Tante Ria dan dia mengangguk.


"Berati itu pesan asli." Batinku dan aku pun mengangguk ke arah Tante Ria.


Kami mulai beranjak meninggalkan kompleks pemakaman. Tante Ria, Om Yudi, dan anak laki-laki itu melambaikan tangan. Seolah melepas kepergian kami.


**


Malam ini aku dan Mike kembali rebahan di balkon rumah. Aku merasa malam yang sangat hampa, setalah melewati hari yang penuh air mata. Kesedihan yang teramat dalam masih membekas di keluarga besarku.


"Mike. Kenapa orang yang sudah meninggal dunia masih bisa ke bumi?" Tanyaku ditengah kehampaan malam itu.


Mike menatapku dalam dan tajam. Aku menjadi risih dan tidak enak hati. Apakah pertanyaanku telah menyinggung perasaannya.


"Maafkan aku Mike." Ucapku meminta maaf.


"Apa kau marah padaku karena pertanyaanku?"


Sebelum menjawab Mike diam sejenak. Dia menatap langit malam ini yang diselimuti awan hitam.


"Orang meninggal yang tetap tinggal di bumi adalah sebuah jebakan atau pilihan." Ucapnya dengan tatapan kosong.


"Maksudnya?" Aku mengerutkan dahi seolah berpikir serius.


"Lalu kalau kamu jebakan atau pilihan?" Aku keceplosan.


Sesegera mungkin aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Seolah ingin menarik kembali kata-kataku yang barusan terucap. Aku tahu pertanyaan bodoh itu akan membuat Mike tersinggung.


"Mike maafkan aku." Ucapku lirih.


"Untuk apa?" Tanya Mike cuek.


"Atas pertanyaanku barusan. Pasti membuat kamu tersinggung ya." Aku menebak saja.


Mike tersenyum sinis mendengar ucapan maaf dariku. Memang sepertinya dia benar-benar tersinggung. Aku merasa sangat bersalah.


"Tenang saja. Pertanyaanmu wajar kok." Jawaban tak terduga keluar dari mulutnya.


"Aku masih berada di bumi karena itu pilihanku. Dan jika kamu bertanya padaku apa alasannya. Maaf aku tidak bisa mengatakannya." Lanjut Mike.


"Baiklah Mike. Terimakasih telah menjawab pertanyaan bodohku tadi, hehe."


Aku senang ternyata Mike tidak marah padaku.


"Mike apakah aku boleh bertanya sesuatu lagi?"


"Apa?"


"Tadi siang waktu di pemakaman Tante Ria dia menyampaikan pesan kepadaku dan melambaikan tangan. Apakah itu benar Tante Ria yang aku kenal atau mahluk lain?"

__ADS_1


"Itu benar tante kamu."


"Lalu apakah benar yang bersamanya tadi juga Om Yudi, suaminya Tante Ria?"


Mike pun menjawab pertanyaanku dengan menganggukkan kepalanya.


"Lalu siapa anak laki-laki itu?" Aku terus-terusan bertanya.


Jujur saja masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di otakku tentang kematian.


"Tanya saja pada mama atau keluargamu. Siapa anak kecil itu." Ucap Mike.


"Mungkin dia menunggu orang tua yang dia tunggu-tunggu untuk bersama-sama ke alam sana."


"Hah? Bisakah seperti itu?" Tanyaku heran.


"Bisa aja."


Aku memiringkan posisiku ke arah Mike. Layaknya seorang anak yang dibacakan sebuah dongeng oleh orang tuanya. Berharap Mike bisa memecahkan rasa penasaranku.


"Orang meninggal dunia itu meninggalkan tubuh fisiknya, nyawanya terlepas karena mati dan roh atau jiwanya akan berevolusi." Mike mulai menjelaskan.


"Ketika orang meninggal dunia, nyawanya terlepas dari tubuh fisiknya. Dan ubuh fisik itu yang akan dikuburkan. Sedangkan jiwanya akan selalu hidup dan terus berevolusi."


"Hah? Evolusi? Apa evolusi itu Mike?" Aku semakin dibuatnya bingung.


"Ceritanya akan sangat panjang. Biarkan waktu yang akan membantumu menjelaskan rahasia-rahasia kehidupan ini Kalista. Termasuk mengenai evolusi jiwa."


"Hehe." Aku tertawa dan mengaruk kepalaku yang tidak gatal.


Kenapa setiap kali berbicara dengan Mike aku selalu berada bodoh.


"Lalu jenis apa yang tadi aku lihat di pemakaman?"


"Itu adalah roh nya tante kamu Kalista."


"Oh jadi mereka saling menunggu ya? Antara Om Yudi dan Tante Ria, serta anak laki-laki itu."


"Mungkin saja mereka saling menunggu."


"Apakah bisa seperti itu Mike?"


"Bisa saja asal ada sebuah urusan, janji atau bahkan dendam yang masih tersisa di bumi. Maka si roh bisa terjebak atau memilih tinggal di bumi sampai urusan, janji atau dendamnya telah selesai."


"Oh begitu ya Mike."


Mike pun mengangguk.


"Untuk siapa anak laki-laki itu. Lebih baik kamu bertanya pada orang tuamu atau keluarga besarmu. Mungkin ada hubungannya dengan tante dan om kamu." Pesan Mike pada Kalista.


"Baiklah Mike." Aku pun tersenyum karena menyelesaikan teka-teki sosok yang bertemu denganku siang tadi di pemakaman Tante Ria.


***


Hmmm....


Siapa ya anak laki-laki itu?


Dan apa hubungannya dengan Tante Ria dan Om Yudi?

__ADS_1


Penasaran gak?


Lanjut bab selanjutnya yaaa!! 👻👻👻


__ADS_2