Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Ketukan Pintu


__ADS_3

Dear Diary,


Kali ini mahkluk itu menganggu mama dan papaku dengan ketukan pintu di malam hari. Ketukan itu terjadi bukan hanya sekali saja. Dan sebenarnya bukan hanya ketukan pintu saja, melainkan disertai kejadian janggal.


☠️☠️☠️


Setelah mengobrol cukup lama dengan Mike, aku pulang dengan terburu-buru. Langkahku panjang-panjang dan sesekali sedikit berlari. Takut jika mama mengkhawatirkan aku, karena ini sudah terlalu sore. Tidak biasanya aku pulang terlambat seperti ini.


Sesampainya di depan rumah, aku melihat Mbak Yayuk yang sedang menyirami tanaman. Perlahan dia menyiramkan air ke tumbuhan-tumbuhan berjenis bunga yang ditanam pada sekitar pagar pintu. Sesekali Mbak Yayuk berjongkok untuk mencabut rumput yang sekitarnya menganggu pertumbuhan tanaman bunga itu.


"Mbak Yayuk ... Mama mana?" Tanyaku seraya membuka pagar.


Mbak Yayuk hanya menunjukkan posisi mama dengan hari telunjuknya. Sedangkan matanya masih menatap tanaman yang sedang dia sirami. Aku pun segera berlari menghampiri mama.


Sama seperti Mbak Yayuk, mama sedang menyirami tanaman-tanamannya. Namun, tanaman yang mama siram sore itu adalah tanaman sayur-sayuran. Memang mama sangat suka menanam sayuran organik sendiri, daripada harus membeli pada pedagang. Dan tidak tahu pasti akan kualitasnya. Sekalian juga memanfaatkan lahan rumah yang memang dikelilingi oleh taman.


"Kok baru pulang sayang?" Tanya mama ketika melihat aku menghampirinya.


"Iya ma. Habis ngobrol sama temen dulu." Jawabku.


"Ya sudah sana makan siang dulu. Udah sore sih ini." Suruh mama.


"Oke ma." Jawabku seraya berjalan masuk ke rumah.


Ayam kentucky dari restoran ternama di Jakarta sudah tersedia di meja makan. Setelah kejadian tadi pagi, hari ini Mbak Yayuk libur dari pekerjaannya. Jadi mama memesankan ayam kentucky untuk makan siang keluargaku. Setelah ganti baju dan membersihkan diri, aku segera melahap makan siang itu. Kebetulan ayam kentucky adalah makanan kesukaanku.


☠️☠️


Saat ini Jakarta memasuki musim hujan. Dan sama seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini hujan turun dengan lebatnya, sesekali disertai gelegar guruh yang bergemuruh. Setekah makan malam, semua anggota keluarga sudah di kamarnya masing-masing untuk bersiap tidur.


Namun, tampaknya di kamar mama dan papa masih melakukan aktivitas. Pasalnya lampu kemar masih menyala dengan terang. Dan suara percakapan masih terdengar jelas. Ya, malam itu mama dan papa sedikit berdiskusi tentang tabungan keluarga kami.


- Tok ... Tok ... Tok ...-


Suara ketukan pintu kamar terdengar dengan jelas. Papa beranjak dari posisinya untuk membuka pintu kamarnya itu.


"Siapa?" Teriak mama terlebih dahulu sebelum pintu terbuka.

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban, papa segera menekan daun pintu. Dan kosong tidak ada siapapun di depan kamar mama dan papa. Papa melihat kanan dan kiri pintu siapa tahu ada anak-anak yang iseng. Namun, tetap tidak ada siapapun. Akhirnya papa menutup kembali pintu kamar.


"Gak ada siapa-siapa." Ucap papa sembari berjalan kembali ke ranjang.


"Masa nggak ada pa? Tadi jelas-jelas ada yang ketuk kok." Mama menimpali.


"Udah ah ma. Abaikan saja, tidur saja yuk." Ajak papa sembari mengecup kening dan pipi mama.


Papa dan mama pun tertidur dalam kondisi masih penasaran dengan ketukan pintu itu. Biasanya suara rintikan hujan akan membuat orang nyenyak tertidur. Namun, tidak buat mama dan papa malam ini.


"Pa." Panggil mama sembari menggoyangkan lengan papa.


"Hmmm--." Papa hanya merespon dengan berdehem.


"Kok mama gak bisa tidur ya pa." Keluh mama.


"Udah coba merem saja ma." Perintah papa.


Sebenarnya papa juga susah untuk tidur, namun dia terus memaksa matanya untuk terpejam. Meski hati dan pikirannya masih sangat sadar dan belum terasa mengantuk. Papa terus mencoba memejamkan matanya.


"AC nya dinyalakan dulu ma." Perintah papa.


Mama pun bergegas menyalakan AC yang ada di kamar itu. Kemudian naik kembali ke atas ranjangnya. Mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, tetap saja tidak bisa terpejam.


Perasaan janggal menggelayuti pikiran mama malam itu. Sehingga matanya sulit terpejam. Mungkin salah satunya adalah gara-gara ketukan pintu tadi. Maklum saja, mama adalah tipe orang yang mudah kepikiran. Hal simpel saja akan terus dia pikirkan.


"Hih--." Mama bergidik sendiri membayangkan ketukan pintu kamar tadi.


Mama pun segera menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut. Sehingga kini selimut putih itu menutup dari ujung kaki hingga ujung kepala mama. Berharap mama tidak melihat keadaan sekitar kamarnya saat tidur.


Belum lama mereka tidur. Kini bel rumah berbunyi.


- Ting tong .... Ting tong .... Ting tong ....-


Papa terbangun kemudian dengan buru-buru berjalan keluar kamar menuju pintu utama. Mama pun membuntuti papa dari belakang. Memegang erat lengan papa, takut tertinggal langkahnya dari papa. Ketika papa membuka pintu itu, lagi-lagi di depan pintu itu tidak ada siapapun disana.


Papa berjalan agak keluar rumah untuk mencari siapa yang datang. Mencari hingga ke pintu pagar rumah. Namun, tidak menemukan siapapun di depan pintu. Bahkan pintu pagar rumah masih tergembok rapi. Setelah yakin tidak ada siapapun papa kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


"Siapa pa?" Tanya mama yang menunggu di ambang pintu utama.


"Ada orang pa?" Lanjutnya.


Papa menjawab pertanyaan mama dengan mengangkat kedua bahunya. Sebagai tanda bahwa tidak ada siapapun disana.


"Mungkin bel-nya konsleting ini ma. Besok dibenerin deh." Ucap papa yang mencoba berpikir logis.


"Ya sudah ayok balik ke kamar." Ajak papa seraya merangkul bahu mama.


Mama dan papa melangkah menuju kamar dan baru beberapa langkah mereka pijaki.


- Ceklek -


Suara meteran listrik dimatikan terdengar jelas ditelinga papa dan mama. Rumah kami saat itu masih menggunakan meteran listrik klasik yang apabila ditekan tombol off-nya akan terdengar jelas. Papa pun mendengus kesal.


"Yah mati lampu pa." Ucap mama menoleh ke papa dan mengeratkan pegangan tangannya.


"Kayak ada yang matiin ma dari luar." Papa memprediksi.


"Pa... Mama takut pa." Mama menyembunyikan wajahnya di lengan papa.


"Tenang ma." bujuk papa menenangkan.


Dengan keadaan gelap itu, papa meraba benda keras disekitarnya. Tangannya menemukan sebuah pemukul yang terbuat dari kayu. Pemukul yang memang sengaja disiapkan, jika ada maling yang masuk ke rumah.


"Mama di dalam rumah saja ya." Perintahnya.


"Tapi pa--." Mama hendak protes.


"SsStt." Perintah papa.


Sebelum keluar rumah, papa mengambil senter dari dalam laci meja ruang tamu. Dan beranjak menuju pintu untuk keluar dan melihat meteran listrik. Ya, dan benar saja meteran listri rumah kami memang sengaja dimatikan. Karena, listrik milik tetangga tetap hidup.


☠️☠️☠️


Mau apa lagi sih ini? Lanjut yuk! 👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2