
Dear diary,
Setelah kejadian percobaan pembunuhan itu. Bang Ganjar memaksaku untuk melaporkan kejadian ini pada mama dan papa. Bagaimana tanggapan mereka ya?
Bang Ganjar menyodorkan segelas air putih kepada Mbak Yayuk setelah sadar. Beruntunglah dia segera sadar dari sosok yang telah menguasai tubuhnya. Kami pun bernapas lega dan masih duduk mematung di kursi ruang makan.
Perlahan jantung yang berdetak kencang, kini sudah kembali normal. Meskipun otak kami masih sedikit trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi. Suasana hening dan tidak ada yang mulai berbicara terlebih dahulu.
"Mbak Yayuk istirahat dulu saja di kamar." Seruku pada Mbak Yayuk.
"Mbak udah gapapa kan?" Tanya Bang Ganjar.
Aku lihat napasnya masih sedikit tersengal-sengal. Sesekali mengelap peluh yang menetes dari dahinya. Kemudian Mbak Yayuk menganggukkan kepala.
"Mbak tidak apa-apa kok neng, den. Mbak balik ke kamar dulu ya." Pamitnya seraya beranjak berdiri dari duduknya.
Kami berdua melihat kepergian Mbak Yayuk menuju kamarnya. Setelah dia hilang dari pandangan kami. Kami pun saling berpandangan.
"Kenapa dik?" Tanya Bang Ganjar.
"Kayaknya ada yang mengendalikan Mbak Yayuk bang." Jawabku.
"Tadi Mbak Yayuk berniat menusuk Abang dengan pisau." Lanjutku.
"Hah? Iya kah?" Bang Ganjar terkejut.
"Lalu gimana dik? Nanti kalau dia coba menusuk abang lagi gimana?" Tanyanya panik.
__ADS_1
Aku lihat wajahnya kini mulai memucat, setelah mendengar ceritaku tadi. Tampaknya dia benar-benar takut kejadian itu akan terulang lagi. Pikirannya pun tampak terus memikirkan hal tersebut.
"Kita harus bilang ke om dan tante ini dik." Katanya masih dengan raut wajah yang panik.
"Kita harus sampaikan kejadian ini ke mereka." Tambahnya.
"Aku gak mau mati muda dik." Ucap Bang Ganjar lagi.
***
Malam harinya.
Setelah makan malam, biasanya aku dan Bang Ganjar segera kembali ke kamar untuk belajar. Namun, malam ini aku diajak Bang Ganjar untuk menemui mama dan papa di kamarnya. Katanya ingin membicarakan mengenai kejadian tadi siang.
"Tante, om, tadi siang Mbak Yayuk mencoba mau nusuk Ganjar dengan pisau." Ucap Bang Ganjar tanpa basa-basi.
"Iya tante, Kalista yang melihat kejadian itu waktu Ganjar sedang makan siang."
Mama dan papa mengalihkan pandangan mereka ke arahku. Aku pun gugup harus menerima pandangan tajam dari kedua orang tuaku. Yang seolah menyiratkan perintah untuk segera menjelaskan kejadian itu.
"E... Sebenarnya itu bukan Mbak Yayuk yang mau menusuk Bang Ganjar ma, pa." Aku sedikit terbata-bata untuk mulai menjelaskan.
"Lalu? Kenapa bisa?" Tanya mama yang bingung dengan ucapanku.
"Ada sosok yang menguasai tubuh Mbak Yayuk. Sehingga tanpa sadar Mbak Yayuk melakukan itu." Ucapku lagi.
Mama menautkan kedua alisnya, seolah sama sekali tidak paham dengan apa yang telah aku ucapkan. Sementara mataku menoleh ke arah papa yang mukanya datar tanpa ekspresi. Aku pun tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
"Sosok apa maksud kamu Kalista?" Tanya mama lagi.
"Ya sosok ma. Sosok mahluk lain." Jawabku.
"Hantu maksud kamu?" Tanya mama.
"Iya ma." Jawbaku lirih.
Sejenak mama dan papa salinh pandang. Kemudian secara bersamaan pandangan mereka beralih kearahku dan Bang Ganjar. Aku tidak tahu apa tanggapan mereka tentang cerita yang sulit dipercaya ini.
"Kalian berdua tidak usah mengkhayal. Tidak ada hantu di rumah ini. Apalagi disiang bolong." Ucap papa dengan nada yang sedikit tinggi.
"Papa sudah mengingatkan jangan terlalu sering menonton film horor. Jadinya kaya begini kan kalian berdua." Tambahnya lagi.
"Tapi pa---" ucapanku terhenti tatkala papa molontarkan kata-katanya lagi.
"Sudah! Papa tidak percaya dengan cerita kalian!" Serunya.
Aku dan Bang Ganjar ketakutan dengan papa. Dan kami pun hanya bisa menundukkan pandangan dan mendengarkan kata-kata papa.
"Sekarang kalian kembali ke kamar masing-masing dan tidur!" Tutupnya setelah memberi ceramah panjang lebar kepada kami berdua.
Dengan langkah gontai aku dan Bang Ganjar keluar dari kamar orang tuaku.
☠️☠️☠️
Kasian ya papa gak percaya sama Kalista.👻👻👻
__ADS_1