Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 10


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Hari ini Varrel memasuki tempat kerjanya untuk pertama kalinya setelah ia mendapatkan gelar sarjana.


"Selamat bergabung di perusahaan kami, semoga kamu betah!" ucap Pak Raka selaku direktur utama dan pemilik kantor.


"Iya, Pak."


Pak Raka lalu menghubungi asistennya, tak lama seorang pria lebih tua dari Varrel memasuki ruang direktur. "Roni, tolong kamu tunjukkan ruangannya!"


"Baik, Pak." Ucap Roni lalu kemudian matanya ke arah Varrel. "Mari saya antar!"


"Permisi, Pak!" pamit Varrel kepada Raka.


Ketika hendak membuka pintu, keduanya berpapasan dengan seorang gadis berusia 19 tahun.


Roni tersenyum dengan kepala menunduk memberikan hormat.


Sementara Varrel hanya diam tak menyapa karena tak kenal.


"Dia putrinya Pak Raka," jelas Roni.


"Oh," ucap Varrel singkat.


"Dia putri bungsu Pak Raka dan paling disayang," Roni menjelaskannya lagi.


Varrel mengangguk mengiyakan karena baginya tahu atau tidaknya keluarga Pak Raka tak terlalu penting untuknya.


Roni menunjukkan sebuah meja, "Ini tempat kerjamu!"


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama. Kalau begitu saya lanjut bekerja," pamitnya.


"Ya, Mas."


Dilain tempat, Raline sedang mengikuti lomba dan pagi tadi ia tak diantar Harlan karena pria itu sedang ada urusan di luar kota.


Dalam acara lomba tersebut ada Shireen dan Alka yang turut hadir memberikan dukungan.


Acara berlangsung sampai siang hari, panitia pun mengumumkan jika Raline menjadi salah satu peserta yang lolos ke final.


Gadis itu tersenyum riang, akhirnya kerja kerasnya berhasil membawanya ke babak selanjutnya.


Raline memeluk ayah dan mamanya.


"Selamat, Nak!" ucap Alka.


"Selamat ya, sayang!" Shireen mengecup pipi putrinya.


"Ini berkat doa kalian," ujar Raline senang.


"Dan kerja keras kamu juga!" sambung Alka.


"Iya, Yah."


-


Kantor tempat Varrel bekerja....


Varrel menikmati makan siang bersama teman-temannya di kantin kantor.


"Tadi pagi putrinya Pak Raka datang, apa kalian sudah melihatnya?" tanya Soni teman satu ruangan dengan Varrel.


"Belum," jawab Tino.


"Aku sudah," sahut Varrel.

__ADS_1


"Wah, beruntungnya dirimu!" celetuk Soni.


"Apa yang beruntung?"


"Putrinya Pak Raka itu model juga," tutur Soni.


"Oh," ucap Varrel.


"Orangnya cantik, kan?" Tino penasaran.


"Biasa saja, seperti wanita pada umumnya," ungkap Varrel.


"Kau ini pria normal, kan? Apa tidak bisa membedakan mana yang cantik dan biasa-biasa saja?" tanya Soni.


"Semua wanita cantik jika di mata laki-laki yang tepat," jawab Varrel. "Menurut kalian ibu atau saudara perempuan kalian cantik atau tidak?" tanyanya.


"Cantiklah," jawab Tino.


"Karena mereka keluarga kalian, tapi di mata orang lain belum tentu," ujar Varrel.


"Benar juga, ya." Tino menyetujuinya.


"Apa kau sudah memiliki istri?" tanya Soni.


"Belum."


"Kekasih?" tanya Soni lagi.


"Belum juga."


"Pasti suatu saat kau akan tergoda dengan pesona kecantikan putri Pak Raka," ujar Soni.


Varrel tertawa kecil, "Aku di sini bekerja bukan mencari kekasih."


"Semoga saja kau tidak tergoda, semua pria pasti menginginkan dekat dan menjalin hubungan dengannya," celetuk Tino.


"Ya, semoga saja!" Varrel tersenyum sambil memasukkan nasinya ke dalam mulut.


-


Varrel dan Pak Raka kebetulan bertemu di lobi kantor.


"Kamu pulang naik apa?"


"Naik motor, Pak."


"Oh," Pak Raka berucap singkat.


Sebuah mobil berhenti di depan pintu masuk gedung, seorang pria paruh baya keluar dari kendaraan tersebut.


Varrel sejenak memperhatikan pria itu.


"Saya duluan, ya!" pamit Pak Raka.


"Tunggu sebentar, Pak!" panggil Varrel gegas menghampiri.


Raka pun berhenti, "Ada apa, ya?"


"Maaf, apa bapak itu sopir Pak Raka?" tanya Varrel tapi pandangannya ke arah pria paruh baya itu.


"Iya, namanya Pak Hasan. Apa kamu mengenalnya?"


"Iya, Pak."


"Memangnya dia siapa kamu?"


"Bukan siapa-siapa, Pak. Apa boleh saya berbicara padanya sebentar?"

__ADS_1


"Oh, silahkan."


"Terima kasih, Pak. Sekali lagi maaf mengganggu waktu Pak Raka," Varrel berkata dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, silahkan berbicara padanya!" ucap Raka lembut.


Varrel berjalan mendekati pria itu. "Apa bapak mengenal saya?"


Pria itu tampak bingung, ia berusaha mengingat.


"Pak..."


"Saya ingat!"


Varrel tersenyum.


"Apa kamu butuh tambahan biaya pengobatan?" tanya Pak Hasan yang tampak khawatir.


"Tidak, Pak. Saya sudah sehat dan baik-baik saja," jawab Varrel.


"Ada apa ini?" tanya Pak Raka.


"Begini, Pak. Beberapa hari yang lalu, saya tak sengaja menyenggol motor milik pemuda ini ketika mengantar Nona Aurel," jelasnya.


"Oh, jadi kamu pria itu," ujar Pak Raka.


"Saya minta maaf, Mas." Pak Hasan tertunduk bersalah.


"Masalah kita sudah selesai, Pak." Varrel mengambil dompet di saku celananya. "Saya hanya ingin mengembalikan uang Pak Hasan saja!" menyodorkan 2 lembar berwarna merah dan 1 lembar warna biru.


"Kenapa dikembalikan, Mas?" Pak Hasan tampak bingung.


"Saya tidak pakai uang ini, lagian saya tahu jika Pak Hasan tidak sengaja."


"Tidak, Mas. Saya sudah bersalah karena membuat Mas terluka dan motornya rusak," Pak Hasan menolak uang pemberian Varrel.


"Ini hak anak-anak Bapak, saya tidak memakainya sama sekali," ujarnya.


"Ambil saja, Pak Hasan!" titah Raka.


"Ayah saya memiliki usaha bengkel motor jadi beliau yang memperbaikinya dan luka saya hanya lecet sedikit bisa diobati dengan obat merah," jelas Varrel.


"Sekali lagi saya minta maaf, Mas." Pak Hasan tak enak hati, ia lalu mengambil uangnya.


"Ya, Pak. Kalau begitu saya pamit!" ujar Varrel. "Sekali lagi terima kasih, Pak. Telah memberikan waktu buat saya!" lanjutnya.


"Sama-sama, Rel." Pak Raka tersenyum.


"Permisi!" Varrel pun berlalu.


Pak Hasan membukakan pintu buat Pak Raka.


Perlahan mobil meninggalkan gedung kantor.


Di dalam perjalanan, Pak Raka berbicara kepada sopirnya. "Sepertinya Varrel pemuda yang baik."


"Iya, Pak. Buktinya dia mengembalikan uang saya."


"Dari awal bertemu dengannya, saya yakin jika anak itu baik. Cocok buat Aurel," ungkapnya.


"Apa pemuda itu mau dengan Aurel, Pak?"


"Saya juga tidak tahu, tapi saya ingin Aurel menikah dengannya," jawab Raka.


"Lebih baik biarkan saja keduanya saling mengenal dahulu, Pak."


"Ya, kamu benar. Siapa tahu keduanya saling suka, jadi saya gampang menjodohkan mereka," ujar Raka.

__ADS_1


"Iya, Pak. Semoga saja mereka berjodoh," harap Pak Hasan.


"Ya."


__ADS_2