Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 24


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Harlan yang sedang beristirahat di kantor memainkan ponselnya di beranda media sosial miliknya tampak foto kebersamaan atasannya dengan putrinya.


Di sebelah Raline ada Bagas yang merangkul bahu gadis itu dengan menatap wajahnya. Sementara Raline tatapannya lurus ke arah kamera.


Harlan lalu berselancar ke akun sosial media milik Raline. Hanya tampak sebuah foto jemari dilingkari sebuah cincin berlian yang gadis itu posting 7 jam lalu.


Harlan meletakkan ponselnya di meja dan memegang dadanya yang terasa perih.


Suara dering telepon tak Harlan gubris, dirinya masih bergelut dengan hatinya yang penuh kebimbangan.


Suara ketukan membuat Harlan tersadar, ia bangkit dari tempat duduknya lalu membuka pintu. "Pesanan Mas Harlan!" seorang karyawan pria yang usianya 7 tahun lebih muda darinya.


"Terima kasih," ucap Harlan.


"Sama-sama, Mas. Permisi!"


Harlan kembali duduk membuka kotak makanan. Sejak Rani mengatakan akan menikahkan Raline entah kenapa dia begitu malas bertemu dengan Tiara meskipun wanita itu selalu mengajaknya makan siang bersama.


Harlan menikmati chicken katsu yang merupakan salah satu makanan favorit Raline, gadis itu sering memakannya. Kali ini ia mencoba menu kesukaan Raline.


Perlahan memasukkan potongan ayam ke dalam mulutnya, wajah dan senyuman Raline muncul dihadapannya.


"Mas Harlan, aku mencintaimu!"


"Panggil aku, Om!" Harlan berkata seorang diri tanpa sadar.


Harlan menggoyangkan kepalanya membuyarkan lamunannya.


"Kenapa aku jadi memikirkannya?" Memegang kepalanya.


Ponsel Harlan kembali berdering. Ia hanya menatap nama yang tertera di benda elektronik itu tanpa menyentuhnya.


Biasanya Harlan begitu semangat ketika mendapat panggilan dari wanita yang ia sukai 7 tahun lalu namun hari ini semua berbeda apalagi dirinya melihat postingan Raline meskipun gadis itu tak menuliskan kata-kata apapun.


"Apa aku jatuh cinta padanya?"


-


-


Malam harinya, selepas pulang bekerja. Harlan begitu suntuk akhirnya menghubungi teman-temannya dan mereka bertemu di tempat biasa.


"Pasti ada masalah," tebak Ezi, menyeruput kopi.


"Ya," lirihnya.


"Masalah hati?" tebak Teddy.


"Ya, begitu."


Ketiga temannya saling melempar pandang dan senyum.


"Dia akan dinikahkan," ujarnya.


"Siapa dia?" tanya Ezi.


"Raline."


"Dengan siapa?" tanya Gilang.


"Dengan pria lain."


Seketika ketiga pria dewasa itu tertawa.


Harlan menatap ketiga temannya, "Kalian begitu, senang melihat aku bersedih."


"Yang membuat kau bersedih itu dirimu sendiri, kemarin ketika Raline mengejarmu kenapa tidak menerimanya. Sekarang, dia akan menikah kenapa kau yang stress?" singgung Ezi.


"Asal kalian tahu, dia akan menikah dengan mantan suaminya Tiara. Itu yang membuat aku tak rela dia," ungkap Harlan.


"Kau tak rela karena kasihan atau patah hati?" sindir Teddy.


"Ya, kasihan. Mana mungkin patah hati," Harlan berusaha mengelak.

__ADS_1


Ketiga temannya kembali tertawa meledek.


"Kau itu sebenarnya jatuh cinta padanya, cuma ego terlalu besar jadi tak mengakuinya," ungkap Gilang.


"Apa yang dikatakan Gilang benar, kau suka dengan Raline tapi gengsi membuatmu menjadi begini," Ezi menimpali.


"Bukankah kau sekarang dengan Tiara? Kenapa cemburu dengan Raline dan mantan suaminya Tiara?" singgung Teddy.


"Iya, aku dengan Tiara dan ingin segera melamarnya."


"Baguslah kau akan menikah," celetuk Ezi.


"Sekarang, aku malah menjadi bimbang dengan Tiara."


"Mau kau sebenarnya apa, Lan?" tanya Gilang. "Tiara di depan matamu, bertahun-tahun kau menunggunya. Kenapa menjadi ragu ?" lanjutnya bertanya.


"Aku juga tidak tahu. Sejak ibunya Raline mengatakan jika putrinya akan dinikahkan, perasaan aku kepada Tiara hambar."


"Itu artinya kau memang mencintai Raline," ucap Ezi.


Harlan menarik nafasnya.


"Itu masih rencana ibunya akan menikahkannya dan belum terjadi, lebih baik kau terus terang kepada Raline," saran Gilang.


"Sepertinya aku terlambat," ujarnya.


"Terlambat?" ketiga temannya saling pandang.


"Raline memposting sebuah cincin, pasti dia telah dilamar," Harlan berkata sendu.


Gilang menepuk bahu temannya. "Kau yang sabar, ya."


"Jika kalian memang berjodoh, pasti dia akan memilihmu," Ezi memberikan penyemangat.


Harlan menggerakkan dagunya pelan dengan wajah sedih.


Sepulangnya dari kafe, Harlan merebahkan tubuhnya di ranjang. Ponselnya berdering kali ini dari sang ibu.


"Halo, Bu!" ucapnya lesu.


"Aku tidak apa-apa, Bu."


"Kenapa suaramu seperti sedang sakit?"


"Aku lagi sakit hati, Bu." Ceplosnya.


"Sakit hati dengan siapa?"


Harlan lantas bangkit dan duduk, "Tidak ada, Bu. Hanya capek saja."


"Lan, putri atasanmu itu sepertinya sudah dilamar. Kamu kapan melamar anak orang?"


"Ibu meneleponku malam-malam begini hanya untuk bertanya itu?"


"Iya, Lan. Padahal Ibu ingin kamu jadian dengan Raline, tapi itu tidak mungkin usiamu tak cocok dengannya."


Harlan menutup wajahnya, menunduk dengan sendu.


"Lan, kapan kamu akan melamar Tiara?"


"Aku tidak tahu, Bu."


"Ibu berharap kamu tidak jadi dengan Tiara."


"Kenapa begitu, Bu?"


"Ibu kurang suka saja dengannya. Tapi kalau kamu mau menikahinya, tak masalah juga."


"Bu, aku belum mau membicarakan tentang lamaran," ungkap Harlan.


"Bukankah kamu yang kemarin begitu semangat ingin melamar Tiara?"


"Semua jadi berubah, Bu."


"Apa rasa cintamu kepadanya tak sama lagi?" singgung Mela.

__ADS_1


"Aku mencintai wanita lain, Bu."


"Lan, kamu tidak mengigau'kan?" Mela tak percaya.


"Iya, Bu. Aku baru sadar kalau ku jatuh cinta padanya," tanpa terasa air matanya jatuh.


"Besok pagi ibu akan ke rumahmu. Jangan berbuat yang macam-macam!"


"Bu, pikiran ku tidak sejengkal itu!"


"Siapa tahu kamu sedang bingung menentukan pilihan," tuding Mela.


"Aku memang bingung, Bu. Tapi, aku tidak akan senekat itu," ujar Harlan yang mengerti dengan perkataan sang ibu.


"Iya, Ibu percaya padamu. Istirahatlah, besok pagi kami akan datang."


"Ya, Bu."


"Selamat tidur," Mela menutup teleponnya.


Harlan melemparkan ponselnya ke ranjang tepat di sampingnya, ia menjambak rambutnya.


****


Keesokan paginya, kedua orang tuanya Harlan datang berkunjung. Mela memeluk putranya membuat suaminya heran.


"Siapa gadis yang telah membuatmu galau seperti ini?" Mela melepaskan pelukannya menatap putranya.


"Raline, Bu." Lirihnya.


"Apa!" Mela berucap dengan nada tinggi karena terkejut membuat suami dan putranya kaget.


"Bu, bisakah suaranya dikecilkan," singgung Harlan.


"Ibu hanya kaget saja mendengarnya," ucap Mela.


"Memangnya kenapa dengan Harlan, Bu?" tanya Amri.


"Lagi patah hati, Yah." Mela mengalihkan pandangannya pada suaminya.


"Dia putus dengan Tiara?" tanya Amri lagi.


"Putramu ini sedang bingung mau pilih Tiara atau Raline," jawab Mela.


"Oh," ucap Amri singkat.


Mela menatap kembali putranya, "Lan, ikuti hati kecilmu!"


"Dia akan menikah, bagaimana mungkin aku merebutnya dari lelaki lain," tuturnya.


"Ya, kamu tanya dengan Raline apa dia mencintaimu atau tidak," saran Mela.


"Tiara mau dimana, kan?" tanya Amri.


"Iya juga, Tiara akan sedih jika kamu meninggalkannya," ujar Mela.


"Aku hanya sekedar teman, Bu. Aku pernah mengungkapkan perasaanku padanya namun Tiara belum bisa menerimanya, dia nyaman jika aku dan dirinya menjadi teman dekat," terang Harlan.


"Oh, jadi kamu dan Tiara belum ada ikatan," Mela mengangguk paham.


"Aku memang berencana ingin melamarnya namun ku tunda, tiba-tiba saja Bu Rani mengatakan kalau putrinya akan dinikahkan. Sejak itu hatiku benar-benar ragu," ungkapnya.


"Kamu harus buru-buru pergi menemui Raline sebelum kedua keluarga besar mereka saling bertemu," usul Mela.


"Aku tidak bisa, Bu."


"Kenapa?" tanya Amri.


"Raline pernah mengatakan cinta padaku tapi ku tolak."



Harlan Hadinata


__ADS_1


Raline Alkara Sudiro


__ADS_2