Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 17


__ADS_3

Harlan menikmati sarapan bersama dengan kedua orang tuanya pagi ini. Ditengah-tengah aktivitasnya, ponselnya berdering.


"Halo, Bu Rani."


"Lan, lagi di mana?"


"Di rumah."


"Bisakah kamu mengantarkan Raline dan Sean ke Sudiro Star Hotel?"


"Sekarang juga, Bu?"


"Ya."


"Baik, Bu." Harlan meletakkan kembali ponselnya di meja setelah Rani mengakhiri panggilan.


"Kamu mau ke mana hari libur begini?" tanya Amri.


"Biasa, Yah. Mengantarkan anak bos ke hotel tempat kakeknya," jawab Harlan menyudahi sarapannya.


"Kamu balik ke sini lagi, kan?" tanya Wina.


"Tergantung mereka juga, Bu."


"Memangnya mereka mau apa ke hotel?" tanya Wina lagi.


"Biasanya Sean berenang di tempat itu," jawabnya.


"Oh begitu," ucap Wina.


"Aku berangkat, Yah, Bu." Mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati," ucap Amri.


"Iya, Bu."


Harlan melesat ke rumah Alka sekeluarga. Begitu sampai, bukan hanya Raline dan Sean yang akan pergi melainkan Alshe dan Aksa juga ikut.


"Sean duduk di depan, Kakak di belakang saja!" Raline berkata ketika adiknya membuka pintu mobil.


"Iya, Kak." Sean bertukar posisi. Ia duduk di samping Harlan.


Mobil pun melaju ke tempat tujuan.


Sepanjang perjalanan, Raline lebih banyak diam biasanya mulut gadis itu akan terus mengoceh tanpa perlu diminta bicara.


Raline memilih memainkan ponselnya daripada mengajak mengobrol Harlan seperti saudaranya yang lainnya.


Begitu sampai di hotel cabang, kelimanya pun turun. Mereka sudah disambut Sudiro di depan lobi. Kakek dan cucu saling berpelukan melepaskan rindu.


Harlan mencium punggung tangan pria lansia itu, "Apa kabar, Kek?"


"Baik, nanti temani Kakek mengobrol, ya."


"Baik, Kek."


"Kami ke kolam renang, Kek!" Aksa berlari ke belakang hotel dengan semangat.


"Sa, tunggu Kak Sean!" teriak Alshe.


Aksa tak memperdulikan kakak-kakaknya.


Raline dengan cepat melangkah mengejar adiknya.


"Kamu di sini saja, temani saya!" ujar Sudiro.


"Ya, Kek."


Sementara itu, Aksa yang begitu semangat gegas menyemplung ke kolam.


"Kakak tunggu di sini!" ucap Raline pada Alshe.


"Ya, Kak!" gadis belia itu pun ikut menyusul adiknya berenang.


Raline duduk di kursi santai kolam sesekali memperhatikan adik-adiknya berenang.


"Kakak tidak berenang?" teriak Alshe.


"Tidak!" jawab Raline. Jika harus berenang dia akan melakukannya di kolam berukuran satu meter itu pun hanya berdiri di dalam atau bermain air sembari duduk di pinggiran.


Alshe lanjut menyusuri kolam.


Raline mengedarkan pandangannya, matanya tak melihat Aksa. Dia beranjak dari duduknya, lalu mencari adiknya.


Kepala Sean muncul di permukaan kolam, Raline mendekatinya. "Apa kamu melihat Aksa?"


"Tidak, Kak."


"Cari dia!" perintahnya dengan wajah panik.


"Ya, Kak!" Sean menyusuri kolam.


Aksa naik ke dasar kolam berjalan mengendap-endap dan mengejutkan Raline, gadis itu menoleh karena terkejut.


"Kamu dari mana saja?" omelnya.


Aksa hanya tersenyum menyengir.


"Kamu membuat khawatir kakak saja!"


"Maaf, Kak."


"Jangan diulangi, ya!"


"Iya, Kak!"


Raline hendak kembali ke kursi karena kurang hati-hati, ia terpeleset dan jatuh ke kolam.


"Kakak!" teriak Aksa.


Raline yang tak bisa berenang berusaha naik ke permukaan.


Sean dan Alshe yang mendengar teriakkan Aksa gegas menghampiri adiknya itu.


"Ada apa?" tanya Sean.


"Kak Raline!" menunjuk ke arah kolam.


Tanpa menunggu lama, Sean melompat dan menolong kakaknya.


Harlan yang sedang mengobrol dengan Sudiro tak jauh dari kolam renang melihat beberapa orang berkerumun.


"Kakek, aku mau ke sana!"

__ADS_1


"Ya."


Harlan berlari kecil ke arah kolam, matanya membulat ketika melihat Raline pingsan.


"Kakak, bangunlah!" panggil Sean panik.


Alshe dan Aksa menangis.


Harlan mendekati gadis itu, "Raline!" menepuk pipi.


Sean terus menekan perut kakaknya. "Ayo bangun!"


Tak lama kemudian, Raline memuntahkan air dalam perutnya dan matanya terbuka.


Harlan dan Sean bernafas lega.


Orang-orang pun pada berbubaran sambil tersenyum lega dan berkata bersyukur tidak ada hal buruk.


Raline lantas duduk dengan pakaian basah, ia melihat tubuhnya dan cepat menutup bagian dadanya. "Jangan lihat!" bentaknya kepada Harlan.


Sean menarik handuk yang di pegang Alshe lalu ia selimutkan ke tubuh kakaknya.


Raline berdiri dengan tubuh di selimuti handuk, melangkah cepat ke kamar hotel.


"Ini salah kamu, Aksa!" Alshe memarahi adiknya.


Bocah 9 tahun itu hanya tertunduk bersalah.


"Als, jangan memarahinya. Ganti pakaian kalian sana!"


"Iya, Kak," ucap Alshe.


Selesai berenang, mereka makan siang bersama dengan Kakek Sudiro.


"Raline, kenapa diam saja? Apa kamu sakit?"


"Tidak, Kek."


"Syukurlah," Sudiro tersenyum lega.


-


Jam 2 siang tepat setelah makan, mereka berpamitan kepada Sudiro untuk pulang.


Di perjalanan pulang Sean, Alshe dan Aksa tertidur sementara Raline masih terjaga.


Keduanya saling diam dan tak bertegur sapa, sesekali Harlan melirik gadis itu dari kaca spion.


"Fokus saja menyetirnya!" Raline yang sadar diperhatikan menyindirnya.


"Sepertinya kau dan Bagas sering berbalas pesan," singgung Harlan.


"Bukan urusan Om juga," ucap Raline.


Harlan terdiam.


Mobil berhenti di depan rumah milik Alka, keempat anaknya turun.


Alshe, Sean dan Aksa mengucapkan terima kasih, Raline hanya diam dan gegas turun.


Sementara itu di kantor Varrel...


Roni mengantarkan Aurel ke ruang kerja Varrel. "Itu dia, Nona. Mari masuk!" mempersilakan.


Varrel mengangkat wajahnya dengan tatapan dingin.


"Papa menyuruhku untuk bekerja sama denganmu," ujar Aurel.


"Aku tidak butuh bantuan," Varrel berkata di dingin.


Aurel mendengus kesal.


"Pergilah!"


"Hei, aku juga tak mau dekat maupun membantumu kalau tidak diperintahkan papaku!"


Varrel bersandar di kursinya lalu bersedekap dada. "Aku juga bingung mau memberikanmu pekerjaanmu."


"Aku mau kerja apapun yang penting menerima gaji dari papa," ujar Aurel.


Varrel menghela nafasnya, "Baiklah!"


Aurel tersenyum senang.


"Ambilkan air putih untukku!"


Aurel mengerutkan keningnya.


"Kamu tidak mau melaksanakan perintahku?"


"Aku akan mengambilnya," Aurel mengambil air putih ke pantry membuat beberapa OB heran.


Gadis itu kembali ke ruangan Varrel dan memberikan segelas air putih.


"Letak di sini!" Menunjuk ke sisi kirinya.


"Terus apa lagi yang akan aku kerjakan?"


"Duduklah di sana!" Menunjuk ke arah kursi. "Dan jangan bermain ponsel," lanjutnya.


"Baiklah," Aurel mengikuti perintah Varrel dan duduk menghadap pria itu.


Varrel sibuk mendesain gambar sementara Aurel duduk melihatnya bekerja. Karena bosan akhirnya ia menguap dan tertidur.


Varrel menoleh ke arah Aurel yang tertidur, ia menarik sudut bibirnya.


Varrel bangkit dari duduknya mendekati Aurel, "Hei, apa kamu mau tidur di sini? Aku mau pulang!" berkata dengan suara pelan.


Aurel mendengar suara Varrel membuka matanya dan mendongakkan kepalanya.


"Auww!" Varrel memegang hidungnya yang bertabrakan dengan kepala gadis itu.


Aurel tampak panik. "Ma.. maaf!"


Varrel hanya menggerakkan telapak tangannya seakan berkata dirinya baik-baik saja.


"Apa sakit?" tanyanya ketakutan.


"Ya."


"Bagaimana jika kita ke dokter?" Aurel menawarkan diri.


"Tidak perlu."

__ADS_1


"Kamu bilang sakit, aku tidak sengaja tadi."


"Ya, aku tahu."


Aurel menundukkan kepalanya karena bersalah.


"Waktunya pulang," ujar Varrel.


Aurel begitu senang, dengan cepat ia meraih tasnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, gegas menjawabnya. "Halo, Pa!"


"Halo, Aurel. Pak Hasan tidak bisa menjemputmu jadi kamu pulang dengan Varrel saja, ya."


"Apa, Pa? Dengan dia, tidak salah?" Aurel tak percaya.


"Berikan teleponmu pada Varrel, Papa akan bicara padanya," ujar Raka.


Aurel lantas memberikan ponselnya kepada Varrel. "Papa ingin bicara padamu!"


Varrel meraih ponsel lalu berkata, "Ya, Pak!"


"Saya minta tolong kepadamu antarkan Aurel pulang, ya!"


"Baik, Pak!" Varrel tidak membantah.


"Terima kasih, Rel."


"Sama-sama, Pak!" Varrel lalu mengembalikan ponsel gadis itu.


"Aurel, dia bersedia mengantarkanmu pulang," ucap Raka.


"Iya, Pa." Aurel lalu mematikan ponselnya.


"Aku pulang naik motor," ujar Varrel.


Aurel sejenak diam dan berpikir.


"Kamu mau pulang dengan ku atau tidak?"


"Ya, aku mau tapi ku tak pernah naik motor."


Varrel mengerutkan keningnya, "Serius?"


"Ya."


"Terus kamu mau naik apa?"


"Aku tidak tahu," jawab Aurel.


"Bagaimana aku pesankan taksi online?"


"Tidak!"


"Jadi kamu mau naik apa?"


"Naik motor denganmu saja!"


"Baiklah, ayo!"


Keduanya berjalan ke parkiran kantor, Varrel memberikan helmnya kepada Aurel. "Pakailah!"


"Bagaimana cara pakainya?" Aurel tampak bingung.


"Biar ku bantu, maaf!" Varrel memakaikan helm di kepala Aurel.


Gadis itu memperhatikan wajah Varrel yang begitu sangat tampan.


Varrel memakai helmnya dan duduk di depan. "Ayo naik!"


Aurel pun naik ke motor.


"Pegangan!" titahnya.


"Apa yang harus aku pegang?" tanya Aurel polos.


Varrel menarik tangan Aurel dan mengalungkannya di perutnya. "Pegang ini!"


Sontak gadis itu menjauhkan tangannya dari perut Varrel. "Itu sama saja aku memelukmu!"


Varrel menghela nafas, "Bagaimana jika nanti kamu jatuh?"


"Apa harus memelukmu dari belakang?" tanyanya dengan gugup.


"Tidak juga," jawab Varrel.


"Lalu kenapa kamu menyuruhku memelukmu?"


Varrel memijit pelipisnya, "Begini saja, kamu terserah mau pegang tubuhku bagian mana yang penting kamu tidak jatuh. Boleh jaketku, pundakku atau apa saja!"


"Baiklah!" Aurel lalu memegang jaket Varrel.


"Di mana rumahmu?"


"Jalan XX."


Varrel menyalakan mesin motornya dan melaju.


Aurel yang ketakutan akhirnya memeluk perut Varrel dan meletakkan kepalanya di pundak.


Varrel membiarkan Aurel memeluknya.


Begitu sampai jalan yang dituju Varrel menggerakkan bahunya lalu memelankan laju kendaraannya dan Aurel menegakkan tubuhnya.


"Kita sudah sampai di jalan XX, di mana rumah kamu?"


"Beberapa meter lagi, pagar rumah warna hijau dan berlantai tiga," jawab Aurel.


Varrel mengendarai motor sambil melihat ke kiri dan kanan.


"Itu rumahku!" tunjuk Aurel.


Varrel berhenti tepat di rumah gadis itu.


Aurel lalu turun dan mengucapkan terima kasih.


"Tunggu!"


Aurel membalikkan tubuhnya.


"Helmnya."


"Upss, maaf!" Aurel mendekati Varrel untuk membukakan helmnya.


Varrel membuka helm Aurel lalu meletakkannya di dalam jok motor. Tanpa mengucapkan kata-kata kepada gadis itu, ia pun melesat ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2