Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 21


__ADS_3

Rani tak menyangka jika putrinya menyukai asisten pribadinya. "Kenapa dia tak pernah cerita padaku?"


"Dia tak mau Kak Rani memecat Harlan."


"Sekarang aku malah ingin memecat Harlan," ujar Rani.


"Jangan, Kak. Kasihan Harlan!"


"Shireen, kamu tidak kasihan dengan perasaan Raline?"


"Aku sangat sedih cintanya Raline tak terbalas, tapi Harlan tidak mencintainya. Aku malah lebih kasihan jika Raline bersamanya," tutur Shireen.


"Ya, kamu benar juga," ucap Rani. "Lalu aku harus apa?" tanyanya.


"Kakak bersikaplah seperti biasanya," saran dari Shireen.


"Kenapa aku jadi kesal dengan Harlan? Dia memilih Tiara yang tidak lebih baik dari putriku!" Rani mengepal tangannya.


"Kita tidak bisa memaksa perasaan orang, Kak."


"Ya," ucap Rani.


"Jangan sampai Raline tahu hal ini, Kak."


"Aku akan menjaga rahasia ini, terima kasih sudah menjadi tempat curhatnya dia," ujar Rani.


"Dia putriku juga meski tidak lahir dari rahimku," Shireen berkata sembari tersenyum.


Setelah bertemu dengan istri dari mantan suaminya, Rani kembali ke kantornya.


"Harlan, apakah kamu sudah menyelesaikan desain kos-kosan yang saya minta?" Rani bertanya ketika berpapasan dengan asistennya di lorong kantor.


"Belum, Bu."


"Belum? Kenapa lama sekali?" tanyanya dengan sedikit emosi.


"Maaf, Bu. Tadi saya ada urusan......"


"Urusan apa?" tanya dengan nada tinggi.


Harlan terjengit kaget baru kali ini ia melihat Rani bertanya dengan suara tinggi.


"Saya meminta kamu membuatnya dari seminggu yang lalu, kenapa bisa lama? Kamu masih ingin bekerja atau tidak?" tanyanya tegas.


"Masih, Bu."


"Saya tidak ingin masalah pribadimu dicampur dengan urusan pekerjaan!" Rani mengingatkan karyawannya.


"Maaf, Bu."


"Selesaikan hari ini juga!" perintahnya.


"Baik, Bu. Kembalilah bekerja!"


"Permisi, Bu!" Harlan pun berlalu.


-


-


Sore harinya, Rani mengajak Raline bertemu di kafe. Wanita paruh baya itu memakai alasan ingin mengobrol berduaan saja.


Raline mencium pipi kiri dan kanan ibu kandungnya, menarik kursi lalu duduk dihadapannya. "Apa yang ingin Ibu obrolkan?"


"Banyak, Nak."


"Apa malam ini aku menginap di rumah Ibu biar kita enak saling mengobrol," ujar Raline.


Rani tertawa sedang mendengar perkataan putrinya. "Memangnya kamu mau tidur di rumah Ibu?"


"Mau, tapi Ibu jangan menggangguku yang sedang bermain ponsel," pintanya.


"Ibu tahu alasan kamu kenapa tidak ingin diganggu ketika bermain ponsel," ucap Rani. "Kamu tidak ingin Ibu tahu siapa pria yang kamu sukai, kan?" lanjutnya berucap.


Raline menelan salivanya, "Kenapa Ibu tahu?" batinnya.

__ADS_1


"Memangnya siapa pria yang kamu sukai?" Rani memancing.


"Bagas. Aku sudah mengenalkan dia kepada Ibu, kenapa masih bertanya lagi?"


"Kamu benar-benar menyukainya?"


"Ya, Bu."


"Yakin?"


"Iya, Bu. Aku serius padanya," jawab Raline ragu.


"Katakan saja pada Ibu jika kamu menyukai pria lain selain Bagas," ujar Rani.


"Aku hanya menyukai Bagas, Bu."


"Raline, Ibu ingin kamu bahagia dengan seseorang pilihanmu," harap Rani.


"Aku bahagia dengan Bagas, Bu. Hanya karena belum terbiasa saja. Lama-kelamaan aku juga pasti merasa nyaman dengannya," ujar Raline tanpa menatap ibunya.


"Kamu membohongi Ibu, Raline!" Rani memperhatikan mata putrinya yang ketika berbicara tak menatapnya.


"Ibu, aku tidak berbohong," Raline menatap lawan bicaranya.


"Dari tadi kamu berbicara tidak menatap Ibu, apa yang kamu sembunyikan?"


"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Bu."


Rani menarik nafasnya perlahan ia hembuskan.


"Kenapa Ibu mencecarku begitu banyak pertanyaan hari ini?"


"Karena Ibu menyayangimu, Ibu ingin kamu bahagia dengan pilihanmu!"


"Aku bahagia dengan pilihanku," ujar Raline.


Rani tersenyum lalu berkata, "Baiklah, kalau begitu Ibu akan memecat Harlan!"


"Kenapa Ibu memecat Om Harlan?"


"Ya, karena pekerjaannya akhir-akhir ini sangat menurun. Ibu meminta desain seminggu lalu sampai sekarang belum diselesaikannya. Apalagi dia sering jarang masuk kantor dengan berbagai alasan," ujar Rani.


"Kenapa melarang Ibu memecatnya?"


Raline terdiam.


"Harlan melakukan kesalahan banyak, dia harus mendapatkannya," ujar Rani.


"Bu, Om Harlan sudah lama bekerja dengan Ibu. Dia bukan orang yang baru setahun atau dua tahun kita kenal. Lebih dari sepuluh tahun dia mengabdi di perusahaan Ibu. Aku mohon jangan pecat dia."


"Raline, Harlan itu karyawan Ibu. Kenapa kamu sampai memohon agar dia tak dipecat?"


Raline tak menjawab.


"Apa kamu menyukainya?"


Raline tampak terkejut.


"Kamu ingin melihatnya 'kan, makanya melarang Ibu memecatnya," singgung Rani.


"Om Harlan itu sangat baik, Bu. Dari aku kecil dia selalu ada untukku ke manapun ku pergi," ujar Raline memberikan alasan.


"Karena tiap hari bertemu makanya kamu jatuh cinta padanya?" Rani kembali menyinggungnya hingga Raline semakin terpojok.


Raline mencoba tertawa terpaksa. "Dia sudah aku anggap sebagai Om sendiri, Bu."


"Baguslah, jika kamu memang menganggapnya seperti itu."


*******


Keesokan paginya...


Kantor tempat Varrel bekerja...


Aurel hanya duduk memperhatikan pria yang ada dihadapannya sedang fokus membuat desain.

__ADS_1


Varrel mendongakkan kepalanya, mata keduanya saling bertemu. "Kenapa memandangku seperti itu?"


"Tidak apa-apa," jawab Aurel.


"Hari ini tidak ada pekerjaan untukmu, lebih baik kamu pulang saja."


"Pulang? Secepat ini?"


"Ya."


"Aku tidak mau," Aurel menolaknya.


"Biasanya kalau karyawan di suruh pulang cepat, dia paling senang menerimanya. Kenapa kamu tidak mau?"


"Aku ingin berduaan denganmu!" ceplos Aurel membuatnya gegas menutup mulut.


"Aku tidak suka jika bekerja selalu dilihat seperti itu, konsentrasiku bisa tergganggu."


"Kamu grogi, ya?"


"Bukan grogi tapi tidak suka!"


"Oh, maaf. Tapi aku mau pulang, papa dan Pak Hasan tidak ada. Mereka lagi keluar," ujar Aurel menunjukkan wajah manjanya.


"Kamu ingin aku mengantarkanmu pulang?"


Aurel mengangguk semangat.


"Tidak bisa!"


"Terus aku naik apa?"


"Terserah, karena ku tak mau kamu berada di ruanganku."


"Baiklah, aku akan pulang!" Aurel meraih tasnya di meja lalu keluar dari ruangannya.


Baru 5 menit Aurel keluar dari ruangannya Varrel tersadar jika gadis itu tidak bisa naik kendaraan umum.


Varrel terpaksa menghentikan pekerjaannya, ia gegas mengejar Aurel.


Bertanya dengan satpam, "Apa Mas melihat Aurel anaknya Pak Raka?"


"Nona Aurel sudah naik bus," jawabnya.


"Terima kasih, Mas."


Varrel mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi gadis itu, tak lama kemudian ia mengangkatnya. "Halo!"


"Ya."


"Turun dari bus itu sekarang juga!" perintah Varrel.


"Kamu menyuruhku pulang, kenapa aku harus turun?"


"Jangan banyak bertanya, lakukan yang ku perintahkan!"


"Baiklah, aku akan turun!" Aurel menutup ponselnya.


Varrel memasuki ponselnya ke dalam saku lalu berlari kecil ke arah motornya yang terparkir dengan cepat ia menyusul putri atasannya itu.


Aurel turun dari bus sambil celingak-celinguk.


Varrel kini sudah berada di depan Aurel. "Ayo naik!"


"Kenapa kamu yang mengantar aku?"


"Cepat naik, aku tidak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaanmu itu!" Menyerahkan helm.


"Iya, ya." Aurel memakai alat pelindung kepala itu lalu duduk di bangku belakang.


"Pegangan!" titahnya.


Aurel mengalungkan tangannya di perut. "Ternyata kamu perhatian juga denganku."


"Aku memiliki dua adik perempuan dan dua orang ibu," Varrel memberikan alasan kenapa dia harus mengantarkan Aurel.

__ADS_1


"Kamu takut orang lain memperlakukan wanita-wanitamu itu buruk?"


"Ya." Varrel melajukan kendaraannya menuju rumah sang gadis.


__ADS_2