Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 35


__ADS_3

Harlan menyingkirkan gorden sehingga matahari memancarkan sinarnya menembus kaca.


Raline masih berselimut manja dengan mata terpejam. Ya, dia sangat kelelahan apalagi suaminya itu begitu liar dan ganas.


Harlan mendekati ranjang dan mengecup kening istrinya, "Ayo bangun, sampai kapan kamu terus di kasur?"


"Aku masih mengantuk, Mas."


"Kamu ingin kita melakukannya lagi," goda Harlan.


Raline dengan cepat bangkit dan duduk, memegang kepalanya. "Seluruh badanku pegal semua!"


"Maafkan aku!" Harlan mengecup pipi Raline.


"Ya," ucapnya malas.


"Cepat mandi, kakek mengajak kita sarapan bersama."


"Iya, tunggulah sebentar." Raline menyibak selimutnya dan menurunkan kakinya tiba-tiba ia terjatuh.


"Raline!" Harlan gegas berlari menghampiri istrinya. "Kamu kenapa?"


"Aku kesulitan berjalan, Mas. Seperti kram."


"Mari ku antar ke kamar mandi," Harlan meletakkan tangan kanan Raline di pundaknya. Tangan kirinya merangkul pinggang istrinya.


Raline berjalan tertatih ke kamar mandi.


"Apa perlu ku menemani kamu mandi?"


"Tidak, keluarlah!"


Harlan pun keluar, namun ia tetap menunggu di depan pintu takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


Hampir 15 menit menunggu akhirnya Raline keluar dari kamar mandi, wanita itu tampak terkejut. "Mas dari tadi di sini?"


"Ya."


Raline tersenyum ternyata suaminya begitu perhatian.


"Aku tahu diriku begitu tampan sehingga kamu tergila-gila tapi tolong jangan memandangku seperti itu!" ucap Harlan.


"Mas Harlan tingkat percaya dirinya terlalu tinggi," Raline tertawa sinis. "Tunggulah sebentar, aku mau berpakaian," lanjutnya.


"Iya," Harlan duduk di sofa di samping ranjang.


"Jangan melihatku berpakaian, nanti kita gagal sarapan dengan kakek," ucap Raline.


"Iya," Harlan mengambil ponselnya, namun sesekali ia memperhatikan punggung istrinya.


-


Selesai berpakaian, keduanya berjalan ke restoran hotel. Di sana kakek, Paman Ghani dan Tante Sila telah menunggu mereka.


Raline dan Shila berpelukan dan menempelkan kedua pipi bergantian.


"Bagaimana tidur malam pertama kalian?" tanya Ghani menggoda.


Raline dan Harlan tersenyum tipis.


"Apa kurang nyenyak?" tanya Ghani kembali.


"Mas, jangan menggoda mereka. Lihatlah wajah Harlan jadi memerah begitu," Shila melirik keponakan menantunya.


"Ups, maaf." Ghani tersenyum meledek.


"Maafkan, Paman kamu ini Harlan, Raline," ucap Shila.


"Iya, tidak apa-apa, Bi." Kata Raline.

__ADS_1


"Apa kamu jadi melanjutkan sekolah di Paris?" tanya Sudiro pada Raline.


"Jadi, Kek."


"Kapan?" tanya Sudiro lagi.


"Setelah Kak Varrel menikah."


"Varrel mau menikah? Kapan?" tanya Shila.


"Tidak tahu, Bi. Katanya setelah pernikahan kami dia akan segera melamar kekasihnya," tutur Raline.


"Kekasihnya itu yang kemarin nikahan kalian dikenalkannya?" tanya Ghani.


"Iya, Paman." Jawab Raline.


"Oh," ucap ketiga keluarga Raline.


"Cantik juga," puji Shila.


"Dia putrinya atasannya pemilik perusahaan tempat Kak Varrel bekerja," jelas Raline.


"Oh, begitu," ucap Ghani.


****


Keesokan harinya, Harlan dan istrinya telah berada dikediamannya. Ya, sebelum pernikahan tempat tinggal pria itu ditata ulang serta di percantik oleh keluarga dan beberapa teman Harlan yang memiliki bidang desain interior.


Begitu memasuki rumah itu, Raline tampak takjub. Ia sampai tak percaya melihat tempat tinggal suaminya yang sebelumnya sangat tak beraturan.


"Mas, menata ulang?"


"Ya, untuk menyambut kedatangan kamu dan ingin membuat suasana baru," jawab Harlan.


"Mas, tahu saja warna kesukaan aku," kagumnya. Raline memperhatikan dinding dapur dibuat serba merah muda.


"Aku ingin membuat kamu nyaman di rumah ini," ucap Harlan.


"Tentunya, aku merasa nyaman," Harlan memeluk tubuh istrinya dari belakang, meletakkan dagu di bahunya.


"Mas, aku ingin menyusun pakaian di lemari," Raline mencoba mencari alasan agar terlepas dari pelukan suaminya.


"Nanti saja, aku ingin kita memadu kasih," bisik Harlan di telinga istrinya membuat Raline merasa geli.


"Ini masih terlalu pagi, bagaimana jika ada tamu?"


"Tidak ada, mereka tahu dan paham jika kita masih pengantin baru," jawab Harlan membalikkan tubuh Raline dan menatapnya.


"Tapi, kita belum belanja, Mas." Raline memberikan alasan lagi.


"Nanti saja belanjanya, supermarket masih buka meskipun pasar sudah tutup," ucap Harlan.


"Mas..."


Harlan dengan cepat membungkam mulut istrinya dengan bibirnya memotong ucapannya.


Raline yang terkejut, mendelikkan matanya. Ia lalu membalas ciuman suaminya.


Keduanya lalu melanjutkannya di kamar.


Sementara itu di tempat lain waktu yang sama, Varrel telah kembali bekerja.


Ponsel Varrel berdering tertera nama kekasihnya. Dengan semangat ia mengangkat dan menjawabnya. "Halo, Aurel!"


"Halo, Rel. Apakah sore ini kita bisa ketemu?"


"Tentunya," jawab Varrel.


"Aku akan mengirimkan nama kafenya," ucap Aurel.

__ADS_1


"Iya."


Keduanya menutup teleponnya.


-


-


Jam 4 lewat 30 menit, Varrel keluar dari kantornya. Menggunakan motor kesayangannya, ia melesat ke kafe tempat yabg ditunjuk kekasihnya.


Begitu sampai, Aurel telah duduk dengan wajah tak seceria biasanya. Ia tampak sendu dan gelisah.


Varrel duduk berhadapan dengannya melemparkan senyumnya.


Aurel membalasnya dengan senyuman singkat.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"


"Ya, ini menyangkut tentang kita."


"Kenapa dengan kita?"


"Aku mau kita mengakhiri hubungan ini."


"Apa!" Varrel tampak terkejut. "Kenapa?" tanyanya terbata.


"Aku minta maaf, Rel. Aku tidak bisa menikah dengan kamu," jawab Aurel mencoba menahan air mata.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan begitu? Kedua orang tua kita merestui hubungan kita, apa yang terjadi padamu?" cecarnya.


"Aku belum siap, Rel. Aku ingin melanjutkan kuliah dan ku ..."


"Aku akan menunggumu siap untuk menikah," potong Varrel.


"Aku tidak mau membuatmu menungguku terlalu lama, Rel."


"Jadi kamu ingin mengakhiri ini semua begitu saja?"


"Sekali lagi, aku minta maaf, Rel." Mata Aurel berkaca-kaca.


Varrel berkali-kali mendongakkan wajahnya ke atas agar air matanya tak tumpah.


"Aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari diriku," ucap Aurel akhirnya air matanya menetes.


Varrel mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak lalu menatap Aurel. Ia mencoba tersenyum, "Tak usah menghiburku, kamu memang tidak tulus mencintaiku!" Berdiri lalu pergi.


Mulut Aurel tercekat, ia tak dapat berkata-kata apa-apa ketika Varrel meninggalkan dirinya dalam keadaan marah. "Maafkan aku, Rel!" batinnya.


Varrel yang benar-benar patah hati, meminggirkan kendaraannya menghapus air matanya yang menetes.


Menarik nafas dan mencoba tenang lalu melanjutkan perjalanannya.


"Aku berharap kamu yang akan menjadi istriku, tapi semua telah berakhir. Ternyata, kamu mengejarku hanya untuk mempermainkan perasaanku!"


...(Selesai)...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai semua, kisah Raline dan Harlan berakhir sampai di sini. Insya Allah, aku lanjutkan kisah cinta Varrel dan anak Alka yang lainnya di judul yang berbeda.


Terima kasih telah membaca karya ini..


Terima kasih telah memberikan dukungan seperti like, komen, poin dan vote...


Maaf jika ada salah penulisan kata-kata yang menyinggung..


Sekali lagi terima kasih banyak 🌹..


Jangan lupa mampir dikaryaku yang lainnya..

__ADS_1


Sampai Jumpa...


Sehat dan Bahagia Selalu 🤗


__ADS_2