Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 18


__ADS_3

Keesokan paginya, Raline seperti biasa berangkat ke kampus menggunakan bus padahal Bagas menawarkan tumpangan untuknya namun ia menolaknya karena tidak ingin keluarganya mencecarnya dengan pertanyaan membuatnya pusing.


Raline menunggu bus di halte, dia harus berangkat cepat ke tempat itu agar tidak ketinggalan.


Bus pertama yang ia tunggu akhirnya datang, para penumpang berdesakan menaiki kendaraan itu. Namun, Raline memilih bersabar. Sebenarnya ia bisa saja naik ojek atau taksi online cuma dirinya ingin mencoba menggunakan transportasi umum berkapasitas banyak orang yang jarang ia naiki.


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya dan menurunkan kaca jendelanya. "Raline, ayo masuk!" teriak Harlan.


"Tidak, Om!"


"Nanti kau akan terlambat!" teriaknya lagi.


Raline tak berpikir lama akhirnya masuk ke dalam mobil.


Harlan menyalakan mesin mobil dan melaju. "Apa Bagas tidak mengantarmu?"


"Bagas bukan sopir pribadiku jadi dia kekasihku!" Raline menjawab tanpa menatap.


"Jadi selama ini aku adalah sopir pribadimu?"


"Bisa dikatakan begitu."


"Lalu kenapa kau menyukaiku?"


"Aku hanya ingin menaikkan level Om Harlan dari sopir dan asisten ibu menjadi kekasihku!" jawabnya asal.


"Oh, begitu."


Raline menoleh ke samping, memutar kedua bola matanya menatap malas lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Kapan kau akan ke Paris?"


"Kenapa Om Harlan ingin tahu semua kegiatan aku?"


"Ya, aku hanya ingin Bagas menjauhimu," jawab Harlan.


Raline tertawa sinis.


"Raline, aku serius. Jika Bagas tak pantas untukmu!"


"Om Harlan hanya melihat Bagas dari ucapan wanita itu dan tidak mengenalnya dekat," ujar Raline.


"Ya, aku takut apa yang terjadi pada Tiara kamu mengalaminya," jelas Harlan.


"Kami hanya baru sebatas kenal sebagai teman spesial. Belum tentu juga dia jodohku, bisa saja pria luar negeri," tutur Raline. "Sudahlah, Om. Jangan urusin kehidupan pribadiku, bukankah Om Harlan ingin aku jauh dan melupakan perasaan ini?"


Harlan pun terdiam harusnya dia tak peduli dengan gadis itu, entah kenapa dirinya tak rela jika Raline dekat dengan pria yang bukan keluarga.


*


Kantor tempat kerjanya Varrel.


Aurel datang bersama dengan sang papa ketika berangkat kerja. Berhubung dirinya lagi libur kuliah jadi ia memutuskan bekerja.


Tawaran menjadi model sebuah produk temannya ia tolak karena Aurel penasaran dengan sosok pria yang kemarin sore mengantarkannya pulang.


"Selamat pagi!" Aurel menyapa.


"Pagi juga!" membalas sapaan tanpa menatap.


"Apa yang harus aku lakukan hari ini?"


"Buatkan kopi untukku!"


Aurel terdiam dan masih berdiri.


Varrel menoleh ke arah gadis yang terpaku di hadapannya. "Cepat buatkan!" titahnya.


"Iya!"


Selang 10 menit, Aurel membawa secangkir kopi di nampan.


Varrel menatap cangkir kopi dengan tatapan curiga.


"Tadi aku minta ajarkan OB cara membuatnya," ujar Aurel.


Varrel lalu mengambil cangkir tersebut, perlahan menyeruputnya.


"Bagaimana?" Aurel penasaran.


"Lumayan."


Aurel tersenyum lega.


"Besok buatkan lagi untukku, ya!"

__ADS_1


"Baiklah dengan senang hati," ujar Aurel semangat.


"Sekarang duduklah!"


"Di mana?"


"Di sini!" Varrel menunjuk ke arah kursi yang ada di depannya.


Aurel pun gegas duduk.


"Perhatikan aku mengerjakan ini!" Varrel menunduk dan menunjuk ke arah sketsa gambarnya.


Aurel bukannya memperhatikan desainnya tapi malah melihat wajah pria itu.


Varrel mendongakkan wajahnya sehingga tatapan keduanya saling bertemu.


Aurel gegas membuang wajahnya karena gugup.


"Bisakah kamu fokus?"


"Apa yang kamu kerjakan bukan jurusan sekolah ku," ungkap Aurel.


"Jadi, apa jurusan kamu?"


"Fashion design."


"Berarti sama dengan adikku," ujar Varrel.


"Benarkah adikmu sekolah bidang fashion juga? Di mana?"


"Di kota ini juga."


"Di kota ini hanya ada satu sekolah, wah kebetulan sekali," ujar Aurel. "Siapa nama adikmu?" lanjut bertanya.


"Raline Alkara Sudiro."


"Oh, jadi kamu kakaknya?"


"Kamu tahu tentangnya?"


"Bukankah dia pernah menjadi juara dua ketika final di Jogja?"


"Ya, benar."


"Adikmu ternyata cantik dan berbakat," ujar Aurel.


"Kalian satu kelas?"


"Dia seniorku."


-


-


Meskipun tidak ditugaskan menjemput Raline namun Harlan berinisiatif melakukannya tentunya seizin dari Rani.


Harlan sengaja menjemput lebih awal sebelum jadwal gadis itu keluar dari kelasnya.


Lima menit kemudian, Raline menghampiri Harlan. "Kenapa Om di sini?"


"Menjemputmu."


"Aku tidak memintanya," ujar Raline.


"Karena aku ingin menjemputmu," ucap Harlan.


"Bagas akan menjemput aku, Om. Lebih baik Om Harlan kembali saja ke kantor."


"Suruh saja dia tak usah menjemputmu karena aku yang duluan datang," ujar Harlan.


"Tapi, aku tidak memiliki janji dengan Om Harlan. "


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Harlan dan Raline. Bagas turun dari kendaraan itu.


Bagas tampak heran melihat kedua orang yang ada dihadapannya. "Kalian saling mengenal?"


"Ya," jawab Raline dan Harlan serempak.


"Bisa jelaskan kalian memiliki hubungan apa?" tanya Bagas.


"Nanti aku akan jelaskan," jawab Raline mendorong tubuh Bagas ke mobil.


"Raline, aku yang lebih dahulu menjemputmu!" Harlan sedikit berteriak.


Raline gegas memasuki mobil begitu juga dengan Bagas.

__ADS_1


Harlan berdecak kesal.


Mobil meninggalkan sekolah, di perjalanan Bagas kembali bertanya tentang hubungan Raline dengan Harlan.


"Dia asisten di kantor ibu," jelas Raline.


"Oh."


"Apa kamu tahu jika dia memiliki hubungan dengan mantan istrimu?"


"Aku pernah dengar jika Harlan menyukai Tiara, tapi setahuku mantan istriku memiliki kekasih," jawab Bagas.


"Ya, mereka berdua memang memiliki hubungan," ungkap Raline.


"Sepertinya kamu salah, Tiara dan Harlan bukan sepasang kekasih. Aku mengenal calon suaminya dan pria itu juga yang telah merusak rumah tangga kami," tutur Bagas.


"Jadi, kamu pisah dengan Kak Tiara karena dia berselingkuh?"


"Ya, dia mengkhianati pernikahan kami. Aku tidak bisa menyelamatkannya.


"Kenapa Om Harlan bilang jika Bagas yang tidak baik? Apa Tiara berbohong?" Raline membatin.


"Jadi, Om Harlan berbohong?"


"Bohong apa?"


"Ya, dia mengaku jika memiliki hubungan serius dengan Kak Tiara."


"Itu tidak benar," ujar Bagas.


"Kenapa Om Harlan harus membohongiku? Apa dia memang tidak ingin aku mengejarnya?" batinnya bertanya.


"Kita mau ke mana ini pulang atau jalan-jalan?"


"Pulang saja."


"Baiklah," ucap Bagas.


Mobil melesat ke rumah orang tuanya Raline.


Begitu sampai, Bagas bertanya, "Kapan aku bisa bertemu dengan orang tuamu?"


"Bertemu?" Raline mengerutkan keningnya.


"Ya, aku ingin serius denganmu."


"Hmm..."


"Mungkin kamu tidak mau serius atau menjalin hubungan dengan duda yang memiliki seorang putra," ujar Bagas.


"Bu...bukan begitu, aku masih muda belum berpikiran sejauh itu," Raline memberikan alasan.


"Aku siap menunggumu," Bagas berkata penuh keyakinan.


"Jangan menungguku, aku tidak bisa menjaminnya," ujar Raline.


"Kamu tidak memiliki perasaan kepadaku?"


Raline berusaha tersenyum. "Kita baru saja berkenalan, jadi ku hanya menganggap kamu sebagai temanku."


Bagas tersenyum tipis.


"Jangan buru-buru, jika memang berjodoh takkan pernah ke mana-mana. Yakinlah!"


"Ya, kamu memang benar. Aku saja yang terlalu cepat menganggumi kamu."


"Kamu tidak salah, hanya waktunya saja tidak tepat," ujar Raline.


"Baiklah, aku akan menunggumu membuka hati," ucap Bagas.


"Terima kasih, tapi jika ada yang lebih baik dariku. Kamu boleh bersamanya dan berhenti menungguku."


"Aku tidak akan berhenti menunggumu karena aku telah jatuh cinta padamu!"


Raline menelan salivanya, wajahnya seketika gugup.


"Aku salah, ya?"


"Tidak... tidak...aku turun, ya. Terima kasih sudah menjemputku hari ini!"


"Sama-sama," ujar Bagas.


Raline membuka pintu, "Sampai jumpa, sampaikan salam ku pada Riko."


"Aku akan sampaikan," Bagas berkata sembari tersenyum.

__ADS_1


Raline membalas senyuman pria itu lalu gegas turun dari mobil.


__ADS_2