Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 11


__ADS_3

Raline menelepon Harlan untuk menjemputnya di kampus, dengan terpaksa pria itu menuruti kemauannya.


"Om, aku mau pergi ke Jogja. Tidak mau ikut?"


"Tidak, masih banyak pekerjaan di sini."


"Apa Om tidak mau memberikan aku semangat di acara final nanti?"


"Tidak."


"Om kenapa sih' tak pernah mendukung aku?"


"Karena malas saja," jawabnya.


Raline memanyunkan bibirnya.


"Cepat naik, sudah mau hujan!" perintahnya.


Raline duduk di kursi belakang.


Diperjalanan menuju rumah, Raline meminta Harlan menemaninya makan siang.


"Om tidak bisa, Raline."


"Kenapa?"


"Om sudah ada janji," jawabnya.


"Dengan siapa?"


"Teman."


"Wanita atau pria?"


"Raline, kenapa kau ingin tahu semua urusan aku?"


"Aku hanya ingin sekedar tahu."


"Aku tidak suka dengan sikapmu yang selalu ingin tahu kegiatanku!" Harlan berkata dengan tinggi.


Raline pun terdiam.


Sesampainya, Raline membuka helmnya lalu ia berikan kepada Harlan. "Terima kasih!" gegas memasuki rumah.


Harlan tak mau ambil pusing ia lalu pergi ke sebuah restoran.


Sesampainya di sana seorang wanita muda melemparkan senyumnya.


"Maaf!"


"Tidak apa-apa, Lan!" Wanita kembali tersenyum.


"Hai, tampan!" sapa Harlan mengusap rambut bocah berusia 3 tahun.


Bocah itu hanya tersenyum menunjukkan wajah lucunya.


"Aku tadi menjemput putrinya Bu Rani," Harlan mencoba menjelaskan agar wanita yang ada dihadapannya itu tak salah paham.


"Gadis yang kamu bilang menyukaimu?"


"Ya."


"Pasti dia sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik," tebaknya.


"Ya, sekaligus sangat cerewet."


"Kenapa tidak kamu jadikan kekasih?"


"Dia bukan kriteriaku, lagian juga aku takut jika kami memiliki hubungan akan berpengaruh dengan pekerjaan ku."


"Oh, begitu."


"Bagaimana kabar suamimu?"


"Ya, begitulah," jawabnya tampak tak suka.


"Kalian punya masalah lagi?"


"Ya."


"Kenapa kamu masih bertahan dengannya?"


"Aku tidak ingin putraku menanyakan papanya."


"Tiara, suamimu sudah berselingkuh dan menyakiti fisikmu. Kenapa kamu masih mau dengannya? Aku selalu menunggumu," ujar Harlan.


"Aku tidak bisa meninggalkannya, Lan."


"Aku tahu kamu bertahan bukan karena putramu tapi dirimu masih mencintainya!"

__ADS_1


"Perasaan aku dengannya sudah hambar, Lan."


"Lalu kamu tunggu apa lagi? Aku siap menemani kamu mengurus semuanya."


"Aku tidak mau mereka menuduhmu sebagai perusak rumah tanggaku, Lan."


"Aku mencintaimu, Tiara. Aku siap menjadi ayah pengganti buat Riko."


"Sekali lagi, maaf. Aku tidak bisa, kita cukup berteman saja."


Harlan menghela nafas pasrah.


"Lan, aku berharap kamu mendapatkan wanita yang pantas untukmu."


"Tapi, aku hanya ingin kamu, Tiara."


"Aku tidak bisa, Lan."


"Baiklah, jika kamu butuh bantuan ku jangan sungkan meminta tolong," ucap Harlan.


"Ya, Lan." Tiara tersenyum.


****


Keesokan paginya, Raline pergi mengendarai motor sendiri ke kampusnya karena Varrel telah bekerja dan ayahnya mengantarkan adik-adiknya ke sekolah.


Sebenarnya, Raline dilarang ibunya mengendarai motor atau mobil makanya ia menyuruh Harlan untuk mengantar jemputnya.


Raline melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang karena jarang mengendarai motor, ia sampai tak tahu ada lobang di jalan dan akhirnya ia terjatuh.


Tepat di belakangnya mobil mewah berwarna hitam berhenti. Dua orang pria turun dari kendaraan itu.


Salah satu pria membantu dirinya berdiri dan satu lagi meminggirkan motornya.


"Mba, sepertinya tangannya terluka."


Raline melihat sikunya yang tampak berdarah, seketika dia pun menangis.


"Mari saya antar ke klinik terdekat!" tawar seorang pria yang ditaksir sebaya dengan Harlan.


"Tidak mau!" tolaknya.


"Mba, takut kami akan berbuat jahat?" tebaknya.


Raline mengangguk.


"Mba, kami bukan orang jahat. Bagaimana kalau motornya dititipkan di sana saja?" menunjuk ke arah parkiran supermarket yang dijaga satpam dan diawasi kamera pengawas.


"Mba, darahnya makin banyak!" ucap pria itu.


"Ya sudah, ayo kita ke klinik!" ajak Raline kesakitan.


"Arya, bawa motor dia ke klinik biar mobil aku yang bawa," ucapnya.


"Iya, Pak."


Pria itu membuka pintu mobil buat Raline, gegas ia berlari ke arah bagian kemudi.


Mobil bergerak ke klinik terdekat dari tempat kejadian Raline jatuh.


Sesampainya di sana, Raline segera diobati oleh dokter klinik.


Dua orang pria yang menolongnya menunggu Raline di ruang tunggu tamu pasien.


Raline masih duduk di atas brankar.


Pria itu masuk ke ruang pengobatan. "Mba, saya sudah membayar tagihannya."


"Berapa semuanya?"


"Tak perlu diganti," jawabnya.


"Saya harus menggantinya, anda sudah mengantarkan ke sini saja saya sangat berterima kasih," ucap Raline.


"Tidak perlu, Mba. Saya ikhlas menolong," ujar pria itu.


"Kalau begitu terima kasih banyak. Kenalkan nama saya Raline!" mengulurkan tangannya.


Pria itu menyambut uluran tangan gadis yang ada dihadapannya. "Bagas!"


Raline menarik tangannya dan pria itu melepaskannya.


"Kalau begitu saya pamit," Bagas tersenyum.


Raline mengiyakan.


Raline lalu menghubungi ibunya. Tak lama kemudian panggilannya di jawab.


"Ibu sedang ada rapat, Nak."

__ADS_1


"Ibu aku mengalami kecelakaan!"


"Apa!" Rani terkejut. "Kamu sekarang di mana?" tanyanya khawatir.


"Aku lagi di klinik, Bu. Tak jauh dari kampus," jawabnya. "Tapi, Ibu jangan khawatir. Aku hanya luka di siku dan telapak tangan." Lanjut menjelaskannya.


"Apa Ibu perlu ke sana menjemputmu?"


"Ya, Bu."


"Ibu akan menjemputmu, tunggu di sana!"


"Bu, tapi jangan beritahu ayah dan mama, ya."


"Iya, Nak."


Rani lantas mengakhiri rapat dengan karyawannya. Bergegas ia melangkah ke arah parkiran mobilnya.


"Bu, mau ke mana? Kenapa rapatnya dihentikan?" tanya Harlan.


"Saya harus ke klinik menjemput Raline," jawabnya.


"Kenapa dengan Raline?"


Tadi ia jatuh," jawab Rani membuka pintu mobilnya.


"Biar saya yang mengantarkan Bu Rani," tawarnya.


"Ya sudah," Rani memberikan kunci kepada asistennya itu.


Perjalanan menuju klinik yang diberitahu Raline membutuhkan waktu 30 menit.


Setibanya di sana, Rani lantas mencari ruangan putrinya.


Raline lalu turun dari ranjang dan memeluk ibunya.


"Kamu mengendarai motor?" tanya Rani.


"Ya, Bu."


"Kenapa? Apa ayah dan mama kamu tidak melarangnya?"


"Mereka sudah melarangku, Bu. Tapi, aku memaksa mereka mengizinkannya!" jelas Raline.


"Makanya, kalau orang tua sudah melarang jangan tak dihiraukan!" sahut Harlan.


Raline tak membantah sahutan Harlan dan memasang wajah ketus.


"Ya sudah, Ibu mau membayar tagihanmu," ujar Rani.


"Sudah dibayar, Bu."


"Siapa yang bayar?" tanya Rani.


"Pria tampan baik hati yang sudah menolongku, Bu. Dia yang membayar semuanya," jawab Raline sambil melirik Harlan.


"Kita berhutang budi kepadanya," ujar Rani.


"Semoga aku bisa bertemu dengannya lagi," ucap Raline agar membuat Harlan cemburu.


"Ya, semoga saja. Tapi, kenapa kamu tidak meminta Harlan mengantarkanmu?"


"Aku tidak mau terus menerus merepotkan Om Harlan, Bu."


"Baguslah, kalau sadar," batin Harlan.


"Apa kamu merasa direpotkan, Lan?" tanya Rani.


"Tidak, Bu."


Rani dan Raline berjalan keluar klinik.


"Aku ingin belajar mandiri, Bu."


"Ya, tapi Ibu sangat khawatir jika kamu mengendarai kendaraan sendiri," ucap Rani.


"Kalau begitu, kapan aku mandirinya?"


"Apa yang dikatakan Raline benar, Bu. Dia sudah dewasa dan harus mandiri," Harlan memotong pembicaraan ibu dan anak itu.


"Ya, kamu boleh pergi sendirian tapi tidak dengan membawa kendaraan. Kamu hanya boleh naik kendaraan umum saja," ucap Rani.


"Baiklah, Bu."


"Harlan, kamu bawa motor Raline ke bengkel ayahnya," perintah Rani.


"Baik, Bu."


"Kamu dengan Ibu," ajak Rani.

__ADS_1


Raline mengiyakan.


__ADS_2