Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 20


__ADS_3

Tiga minggu kemudian.....


Hubungan Raline dan Bagas semakin dekat dan akrab. Pria itu juga sudah diperkenalkan kepada keluarganya.


Alka dan Shireen tidak mempermasalahkan dengan status Bagas yang seorang duda dengan 1 orang putra. Bagi mereka, jika Raline bahagia dan pria itu menyayangi putri mereka itu cukup membuat keduanya tenang.


Siang ini, Raline mengajak Bagas bertemu dengan Rani. Mereka membuat janji di sebuah kafe.


"Jadi, dia pria yang kamu katakan waktu itu?" tanya Rani pada Raline.


"Iya, Bu."


Tatapannya beralih pada Bagas, "Apa kamu serius dengan putri saya?"


"Saya serius, Tante."


"Apa putra kamu setuju dengan hubungan kalian?"


"Dia sangat senang memiliki calon ibu seperti Raline," jawab Bagas melirik gadis yang ada di sampingnya.


Rani menarik kedua ujung bibirnya.


"Terima kasih," ucap Raline tersenyum.


"Raline harus melanjutkan sekolahnya di luar negeri, kamu tidak masalah 'kan?" tanya Rani.


"Saya mendukung keputusan Raline untuk melanjutkan sekolah di sana," jawab Bagas.


"Kalian tidak bisa bertemu selama satu tahun," ujar Rani.


"Tidak masalah, Tante. Saya bisa mengunjunginya di sana," kata Bagas.


"Kamu serius menjalin hubungan dengan Bagas, Nak?"


"Iya, Bu."


"Ibu merestui kalian," ucap Rani.


"Terima kasih, Tante." Bagas tampak begitu senang.


Raline tersenyum tipis memperhatikan wajah sumringah Bagas.


"Ayo makan!" Rani mempersilakan Raline dan Bagas.


"Sejak kapan kamu menyukai Raline?"


"Sejak kami bertemu di jalan, Tante."


"Putri saya ini orangnya manja, kamu harus sabar menghadapinya," ujar Rani.


"Ibu...."


"Dia harus tahu, Nak. Agar tidak terkejut nantinya, dia baru mengenalmu beda dengan Harlan yang sudah paham," ucap Rani.


"Kenapa harus bawa-bawa nama dia sih', Bu?" Raline protes.


"Karena Harlan bukan keluarga kita tapi tahu semua tentang kamu," tutur Rani.


"Apa Harlan sudah lama kenal dengan keluarga Raline?"


"Lebih dari sembilan tahun lalu, Harlan sudah menganggap Raline seperti keponakannya sendiri," ungkap Rani.


"Tetapi aku tidak, Bu!" batin Raline.


"Berarti mereka sangat akrab," ujar Bagas.


"Ya, tiap hari bertemu dan Harlan selalu yang mengantar dan menjemput Raline," tutur Rani.


Raline hanya diam, mendengarkan ibunya dan Bagas menceritakan tentang dirinya bersama Harlan.


"Saya pikir mereka memiliki hubungan spesial," ujar Bagas.

__ADS_1


"Ya, tidaklah. Harlan tak menyukai Raline, mereka sudah seperti saudara," Rani berkata sembari melirik putrinya.


"Saya senang jika Harlan dan Raline tidak memiliki hubungan apa-apa," ungkap Bagas.


Rani tersenyum lalu bertanya lagi, "Apa sebelumnya kamu mengenal Harlan?"


"Tidak kenal dekat karena dia teman mantan istri saya Tiara," jawab Bagas.


"Tiara?" Rani berusaha mengingat nama itu. "Mantan sekretaris Pak Robby?" menebaknya.


"Ya, Tante."


"Oh, jadi Harlan masih berhubungan dengan Tiara. Bukan dia 'kan penyebab kalian berpisah?" Rani menyelidik.


"Tidak, Tante. Ada pria lain yang membuat rumah tangga kami berantakan," ujar Bagas.


"Kenapa kisahnya dia mirip seperti aku yang meninggalkan Mas Alka demi pria lain?" batin Rani bertanya.


"Tapi, Om Harlan bilang padaku jika mantan istrinya Bagas adalah kekasihnya," Raline ikut bicara.


Rani menarik senyum simpul. "Harlan memang dari dahulu menyukai Tiara."


Raline terdiam ketika mendengarnya.


"Tapi, Ibu senang jika cinta Harlan terbalas," ujar Rani.


"Apa Ibu tahu jika cinta putrimu ini tidak terbalas?" Raline membatin.


"Sepertinya Harlan terlalu berharap lebih dengan Tiara, Tante."


"Kenapa begitu?" Rani tampak penasaran.


"Harlan bukan tipe pria yang disukai Tiara," ujar Bagas.


"Lalu seperti apa pria yang disukai mantan istrimu?"


"Kaya raya, selalu memanjakannya serta memiliki waktu untuknya," jawab Bagas.


"Kenapa semua sifat yang dimiliki Tiara persis aku?" bertanya dalam hatinya.


"Jadi, ini alasan dia menolak bertemu denganmu?" Rani bertanya pada putrinya.


"Mungkin, Bu."


"Ibu akan mengingatkan dia," janji Rani.


-


Rani kembali ke kantornya, lalu ia memanggil Harlan ke ruangannya.


"Ya, Bu. Ada apa?"


"Apa kamu tidak sibuk?"


"Tidak, Bu."


"Bisakah kita mengobrol sebentar?"


"Bisa, Bu."


"Duduklah!" Mempersilakan pria itu.


Harlan pun duduk dan saling berhadapan.


"Apa saat ini kamu menjalin hubungan dengan Tiara?"


Harlan tampak terkejut.


"Saya tahu dari Raline dan kekasihnya."


"Raline dan kekasihnya?" batin Harlan.

__ADS_1


"Rasa cintamu pada Tiara tak pernah berubah, ya." Rani menyinggungnya.


"Ya, Begitulah."


"Saya harap kamu memilih wanita yang benar-benar mencintaimu, Lan."


"Apa Bu Rani tahu jika putrinya menyukaiku?" Harlan kembali bertanya dalam hati.


"Kamu sudah lama bekerja di sini dan saya ingin semua karyawan yang bersama saya bahagia termasuk dalam urusan percintaan," ujar Rani.


"Terima kasih, Bu. Tapi, saya memang serius dengan Tiara."


"Saya percaya dengan keseriusan kamu hingga betah melajang sampai sekarang," singgung Rani kembali.


Harlan hanya tertawa kecil.


"Lan, katanya penyebab Tiara dan suaminya berpisah karena perselingkuhan yang dilakukannya," ujar Rani.


"Tiara tidak salah, Bu. Mantan suaminya yang berselingkuh dan melakukan kekerasan," ungkap Harlan.


"Lan, saya berpisah dengan ayahnya Raline karena kecerobohan dan keserakahan yang saya lakukan," tutur Rani.


"Saya mengkhianati pernikahan yang sudah berjalan tujuh tahun, setelah berpisah apakah saya bahagia? Ternyata hanya sementara sesudah itu sangat menyakitkan."


"Tapi saya bersyukur karena Shireen menjadi istri dan ibu pengganti yang jauh lebih baik dari saya yang menyayangi dan mencintai Mas Alka serta anak-anak."


"Saya berpisah untuk kedua kalinya karena saya bosan dengan pernikahan kami dan tergiur pria lain yang jauh lebih kaya raya. Lagi-lagi saya harus melakukan kesalahan."


"Jadi, saya berharap kamu untuk berpikir ulang jika ingin melamar wanita itu."


"Bu Rani berpikir jika Tiara seperti itu?"


Rani mengiyakan.


"Bu Rani tenang saja, saya tahu seperti apa calon istri," Harlan tampak tersinggung Tiara dinilai buruk.


"Ya, saya mengerti kamu begitu mencintai Tiara."


Harlan tersenyum tipis.


"Saya ingin kamu bahagia saja."


"Terima kasih perhatiannya, Bu."


Rani tersenyum sekedarnya, tak ingin Harlan semakin kesal dengan nasehatnya akhirnya Rani menyuruh asistennya itu kembali bekerja.


****


Pagi ini tiba-tiba saja Shireen mengajak Rani bertemu kebetulan ia pun tak lagi sibuk.


Keduanya bertemu di kafe tak jauh dari kantornya Rani.


"Ada apa ingin bertemu dengan ku mendadak begini?" tanya Rani.


"Aku ingin membicarakan tentang Raline, Kak."


"Kenapa dengan Raline?"


"Apa kemarin siang dia mengajak Bagas bertemu dengan Kak Rani?"


"Iya."


"Sebenarnya Raline tidak mencintai Bagas, Kak."


"Kamu bilang Raline tidak mencintai Bagas tapi kenapa dia mengaku jika pria itu adalah kekasihnya?" Rani heran dan penasaran.


"Raline hanya ingin berusaha menjauhi seseorang yang disukainya, Kak."


"Maksudmu Raline jatuh cinta dengan pria lain namun mendapatkan penolakan darinya?"


"Ya, Kak.

__ADS_1


"Memangnya siapa pria yang disukai Raline?" tanya Rani.


"Harlan asisten Kak Rani."


__ADS_2