Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 32


__ADS_3

Raka mendekati putrinya lalu memeluknya, "Papa akan merindukanmu jika kamu menikah!"


Aurel tersenyum, "Aku sangat menyayangi, Papa!"


"Kapan kamu ingin dilamar Varrel?" Raka melonggarkan pelukannya.


"Kata keluarga Varrel dia boleh menikah setelah adiknya menikah," jawabnya.


"Oh begitu, tidak masalah jika kamu harus menikah setahun atau dua tahun lagi. Kamu juga sangat masih terlalu muda berumah tangga."


"Papa tidak setuju aku menikah muda?"


"Setuju, tapi apa kamu siap menjadi seorang istri dan calon ibu?"


Aurel terdiam.


"Ketika kamu menikah akan banyak persoalan baru, tapi semua bisa teratasi jika mampu. Papa sangat senang kamu menikah dengan Varrel."


Aurel tersenyum.


"Kabarkan segera kepada mama kamu."


"Iya, Pa."


"Pulanglah, Papa sebentar lagi ada rapat."


"Baik, Pa."


-


Varrel hendak pulang namun Roni menghampirinya dan berkata, "Pak Raka ingin berbicara padamu!"


Varrel mengiyakan dan mendekati Raka yang berdiri di dekat mobil. "Ya, Pak."


"Saya ingin mengobrol denganmu sore ini, apa kamu bisa?"


"Bisa, Pak."


"Baiklah, kalau begitu kita ketemu di Kafe Melodi," ucap Raka.


Varrel menyetujuinya.


Raka pergi ke kafe menggunakan mobil sementara Varrel dengan motor.


Varrel lebih dahulu tiba tak lama kemudian Raka sampai.


Varrel menunggu calon mertuanya di parkiran, keduanya memasuki kafe bersama-sama.


Keduanya memesan minuman dan makanan lalu mengobrol.


"Apa kamu serius dengan putri saya?"


Varrel tersenyum dan menjawab, "Ya, Pak."


"Usia Aurel masih terlalu muda tapi saya sangat senang dia bersama kamu."


"Terima kasih, Pak."


"Saya tidak ingin Aurel terluka dan saya menaruh harapan besar kepada kamu," ucap Raka sembari menyeruput kopi.


"Saya janji akan membahagiakan Aurel, Pak."


"Apa saya boleh berbicara jujur?"


Varrel terdiam tak segera menjawab.


"Dari awal saya memang menyukai kamu, kebetulan Aurel itu gadis yang sangat manja. Makanya, saya menempatkan dia di ruangan kamu dengan alasan agar kalian semakin akrab ternyata rencana saya berhasil," ucap Raka.


"Oh, jadi itu alasan Pak Raka menempatkan Aurel di ruangan saya?"


"Ya."


"Dari awal juga heran, saya karyawan baru tetapi dapat asisten yang sama sekali tidak memiliki bidang desain bangunan," ungkap Varrel.


"Maaf selama dia membantumu sangat menjengkelkan," ucap Raka.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya malah senang di dekatnya apalagi kami telah menjalin hubungan serius," ujar Varrel.


"Terima kasih, Rel."


"Saya yang berterima kasih karena Pak Raka telah merestui hubungan kami," ucap Varrel.


****


Keesokan harinya, menjelang siang Aurel datang ke kantor papanya. Ia ingin mengajak kekasihnya itu untuk menikmati makan siang bersama dengan kedua orang tuanya.


"Mama ingin bertemu dengan kamu, " ucap Varrel.


"Hari ini juga?"


"Iya, kamu belum siap?"


"Aku selalu siap kapanpun," jawab Varrel penuh keyakinan.


"Begitu, dong!"


Keduanya berjalan ke parkiran dan pergi menggunakan motor.


Aurel memeluk pinggang Varrel dan meletakkan kepalanya di pundak pria itu.


Motor pun melesat ke restoran tujuan.


Begitu sampai, Varrel membantu Aurel membuka helmnya.


Berjalan beriringan memasuki restoran, kedua orang tuanya Aurel telah menunggu sepasang muda-mudi itu.


Varrel bersalaman dengan calon mertuanya, lalu duduk dihadapannya.


"Kalian naik apa ke sini?" tanya Mamanya Aurel.


"Naik motor, Ma."


"Kenapa naik motor? Mobil kamu 'kan ada?"


"Lebih nyaman naik motor," Aurel memberikan alasan.


"Astaga, Ma. Tidak berlebihan gitu juga, aku pakai lengan panjang. Varrel juga memberikan jaketnya ku pakai," jelas Aurel.


"Tapi, tetap kamu kepanasan!"


"Hal ini tidak terlalu berlebihan, biarkan Aurel menikmati kebahagiaannya, Ma." Raka angkat bicara.


"Tapi, Pa..."


"Mama ingin bertemu dengan calon suaminya Aurel, kan?" tanya Raka lagi pada istrinya.


"Iya, Pa."


"Jangan bahas motor dan matahari, tanyakan yang lainnya," ucap Raka.


"Ya."


"Pesan makanan dan minuman kalian," ujar Raka.


Aurel memanggil pelayan, keduanya memesan menu makanan yang sama.


"Apa kamu sudah memiliki rumah dan mobil?" tanya istrinya Raka.


"Ma, pertanyaannya kenapa begitu 'sih?" protes Aurel.


"Mama tidak ingin kamu menderita dan sengsara," ucapnya.


"Saya tahu kekhawatiran Tante dengan masa depan Aurel. Tapi, saya berjanji bertanggung jawab sepenuhnya," Varrel berkata penuh yakin.


"Ma, aku mencintai Varrel. Aku yakin dia mampu membahagiakanku," ucap Aurel.


"Pernikahan itu bukan hanya sekedar cinta, Aurel. Kamu juga butuh makan, tempat berteduh dan kendaraan," ujarnya.


"Ma, Varrel tentunya akan memberikan aku makan, tempat tinggal dan yang lainnya," kata Aurel.


"Ma, dia ini cucu pemilik Star Sudiro Hotel," bisik Raka.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya, Ma." Aurel menimpali.


"Tapi, kenapa naik motor?"


"Motor itu adalah kado dari ayah dan mama saya," jawab Varrel.


"Pasti kamu belum punya rumah?"


"Ayah dan ibu juga telah membeli tanah untuk saya, tinggal mengumpulkan uang buat membangun sebuah rumah," jawab Varrel lagi.


"Kamu tadi menyebut kata mama dan ibu," ucapnya.


"Ayah dan ibu berpisah, lalu ayah menikah lagi," ujar Varrel.


"Tapi, Mama Varrel sangat menyayanginya," Aurel turut menjelaskan.


"Kamu cucu pemilik hotel, kenapa tak memiliki rumah?"


"Hotel itu harta milik kakek saya, lagian saya bukan cucu satu-satunya dan saya tidak mungkin meminta sesuatu yang mana kedua orang tua saya mampu memberinya," tutur Varrel.


"Apa kamu benar-benar mencintai Aurel?"


"Saya sangat mencintainya, Tante!" Varrel menjawab sambil menatap kekasihnya.


"Kapan kamu dan keluargamu datang melamar?"


"Beberapa bulan lagi."


"Baiklah, kami tunggu niat baikmu!"


Varrel tersenyum, "Terima kasih, Tante."


Wanita itu hanya mengangguk mengiyakan.


-


Varrel dan Aurel lebih dahulu balik ke kantor. Sebelum menaiki motor Aurel berkata, "Maafkan pertanyaan mama yang membuat kamu tidak nyaman."


"Tidak apa-apa, itu wajar karena dia takut jika anaknya yang secantik kamu menderita. Setiap orang tua hampir rata-rata menginginkan anak-anaknya hidup bahagia."


Aurel tersenyum mendengar penjelasan kekasihnya.


"Pakai helmnya!"


"Pakaikan!" pintanya manja.


Varrel tersenyum lalu memakaikan helm kekasihnya.


"Kapan aku bisa bertemu dengan mama dan ayah kamu?"


"Di acara pernikahan Raline, ku akan mengundang kamu dan kedua orang tuamu."


"Kenapa aku jadi takut?"


"Kamu takut kalau mama akan menerkammu?" Varrel sembari tertawa kecil.


"Aku takut dan malu jika bertemu dengan keluarga besar kamu."


"Mereka tidak akan menolak dirimu selama aku bahagia," ucap Varrel.


Aurel tersenyum tipis.


"Santai saja, mereka juga tak akan tanya kamu pintar masak atau tidak," singgung Varrel.


"Ih, kenapa harus menyindirku dengan kata-kata memasak," protes Aurel dengan wajah cemberut.


Varrel tertawa lalu berkata, "Aku hanya bercanda, tapi kamu bisa belajar masak dari mama ku."


"Aku mau!" ucap Aurel semangat.


"Kamu tidak mau ku antar pulang?" tanya Varrel.


"Mobil ku di kantor papa," jawabnya.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kita balik ke kantor," Varrel mengendarai motornya menuju tempat kerjanya.


__ADS_2