
Beberapa hari kemudian....
Kafe Melodi
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Lin?" tanya Bagas.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu," jawab Raline.
"Kesalahan apa yang kamu buat sehingga harus minta maaf," ujar Bagas.
"Aku mencintai pria lain selain kamu," Raline berkata dengan menatap.
Bagas menarik sudut bibirnya, "Aku sudah tahu."
"Darimana kamu tahu?"
"Tiara yang memberitahuku jika kamu menyukai Harlan," terang Bagas.
"Maaf!" lirihnya.
"Tidak apa-apa, Lin. Mungkin kita belum berjodoh," Bagas berbesar hati.
"Tapi, bisakah kita menjadi teman atau sahabat?"
"Tidak bisa, Lin."
"Kenapa?"
"Ketika menikah tak ada namanya sahabat antara pria dan wanita, bisa jadi mereka adalah perusak rumah tangga. Contohnya, aku dan Tiara. Pria itu adalah sahabat mantan istriku, keduanya sangat akrab dan ku mempercayainya ternyata mereka berdua mengkhianati aku."
Raline tersenyum singkat.
"Aku senang kamu berkata jujur, sebelum ku melamarmu. Seandainya kita jadi menikah, tapi dihatimu ada pria lain."
"Terima kasih, kamu telah mengerti aku dan tidak memaksakan perasaanku," ujar Raline.
"Kita ini sama-sama dewasa, jika kamu tidak mencintaiku untuk apa aku memaksa," ucapnya.
Raline tersenyum.
"Kejarlah dia," titahnya dengan suara lembut.
"Dia sudah mengejarku," ucap Raline.
"Tunggu apa lagi? Jika kalian menikah jangan lupa mengundangku."
"Tentunya," ucap Raline. "Ku berharap kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," harapnya.
"Semoga," Bagas tersenyum mengaminkan.
-
Raline mendatangi kantor ibunya tentunya meminta izin kepada wanita itu. "Bu, aku ingin berbicara kepada Om Harlan."
"Ini masih jam kantor, Nak."
"Kalau begitu, aku akan di sini menunggu dia sampai pulang bekerja."
"Sebegitunya kamu menyukainya," ledek Rani.
"Ibu seperti tidak pernah jatuh cinta," Raline tak mau kalah dan membalas ucapan ibunya.
"Apa kamu sudah memberitahu ayahmu?"
Raline menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus memberitahunya, bagaimana jika dia tidak mengizinkannya?"
Raline pun berpikir lalu berkata, "Biarkan ayah menjadi urusan Om Harlan." Menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa harus Harlan?"
"Biarkan mereka bicara sebagai lelaki."
"Kamu ini memang tak mau ribet," celetuk Rani.
Raline hanya tersenyum nyengir.
Sore harinya, para karyawan Rani satu persatu telah meninggalkan kantor.
"Lan, kamu antar putriku pulang, ya." Perintah Rani kepada bawahannya itu.
"Baik, Bu."
Rani pun berjalan ke arah parkiran.
"Ayo pulang, Om!" ajaknya.
Harlan dengan senang hati mengiyakan. Berjalan ke arah motornya yang terparkir lalu menyalakan mesinnya.
__ADS_1
Raline duduk di belakang dan menggunakan helm.
Keduanya meninggalkan kantor Rani.
Raline mengalungkan tangannya di perut Harlan membuat pria itu memandangi tangan tersebut.
Harlan tersenyum ketika melihatnya, selama mereka kenal baru kali ini ia begitu bahagia di peluk Raline dari belakang.
"Kapan melamarku?" tanyanya.
"Apa yang kamu bilang?" Harlan balik bertanya dengan sedikit berteriak.
"Kapan melamarku, Mas Harlan?"
Harlan menepikan kendaraannya dan berhenti lalu menoleh ke belakang. "Kamu bicara apa tadi?"
"Aku tanya, kapan Mas Harlan melamarku?"
"Kamu menerimaku?" tanya Harlan senang.
"Ya, iyalah."
Harlan tersenyum, "Hari ini juga ku akan melamarmu!"
"Ayah belum pulang dari bengkel kalau jam segini," jelas Raline.
"Nanti malam ku akan datang," janjinya.
"Baiklah, aku akan bilang," ucap Raline.
Harlan kembali tersenyum.
"Tidak apa-apa 'kan jika aku memanggil Mas?"
"Tidak," jawab Harlan menarik kedua ujung bibirnya.
Raline membalas senyumannya.
-
-
Malam harinya...
Harlan datang bertamu ke rumah Raline dan Alka menyambutnya. Shireen menyajikan dua cangkir teh hangat di meja tamu.
"Tenanglah, ayahmu tidak segalak itu!" ucap Shireen di sebelahnya.
"Bagaimana jika tidak seperti yang ku harapkan, Ma?"
"Berdoalah."
Raline mengiyakan jawaban mamanya, beruntung keempat saudara kandungnya tidak berada di rumah jika ada dia pasti akan menjadi bahan ledekan apalagi melihat wajah yang tampak khawatir.
"Kata Raline, kamu ingin bicara dengan saya," ujar Alka.
"Iya, Mas."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Harlan meremas tangannya terlihat gugup, "Saya ingin melamarnya!"
Alka menautkan alisnya. "Kamu tidak bercanda, kan?"
"Tidak, Mas. Saya serius dengan Raline dan ingin menikahinya," jawab Harlan.
"Lalu, Bagas?"
"Raline yang meminta saya agar melamarnya," jawab Harlan.
"Kenapa Raline tidak memberitahu saya?" gumamnya.
Harlan juga kelihatan bingung.
"Saya akan panggilkan Raline," ucap Alka. Pria paruh baya itu berdiri memanggil putrinya.
Raline yang sedang berada di meja makan bersama sang mama tampak terkejut ketika ayahnya menghampirinya.
"Raline, mari ikut Ayah!"
"Iya, Yah." Raline memundurkan kursinya.
Raline dan Shireen berjalan di belakang Alka lalu duduk bergabung dengan kedua pria.
"Apa benar kamu yang meminta Harlan datang ke sini untuk melamar?" tanya Alka.
"Iya, Yah."
"Bagaimana dengan Bagas?" tanya Alka lagi.
__ADS_1
"Aku sudah bicara dengan Bagas, Yah. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," jawab Raline.
Alka menarik nafasnya perlahan lalu ia hempaskan kemudian lanjut bertanya, "Sejak kapan kalian saling mencintai?"
Raline dan Harlan saling pandang.
"Raline, kamu bisa menjawabnya," pinta Alka.
"Iya, Yah. Aku yang lebih dahulu mencintai Om Harlan, sejak tiga tahun lalu," Raline berkata dengan gugup.
Alka mengarahkan pandangannya kepada istrinya.
Shireen hanya tersenyum.
Alka lalu memandang kembali wajah putrinya. "Pasti ibumu juga sudah tahu," tebaknya.
"Iya, Yah."
"Jika kalian menikah Harlan memanggil saya apa?" tanyanya.
Raline mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.
"Ayah," sahut Shireen.
"Memangnya Harlan mau memanggil saya Ayah?" tanya Alka pada putrinya.
Raline melirik Harlan, "Harus mau, Yah!"
"Baiklah, Ayah merestui kalian!" ucap Alka.
Raline dan Harlan saling pandang dan tersenyum.
Raline lantas memeluk pria yang telah merawatnya dari kecil. "Terima kasih, Yah!"
Alka membalas pelukan putrinya, "Sama-sama, Nak."
Raline melepaskan pelukannya lalu memeluk Shireen. "Terima kasih, Ma."
Shireen mengelus rambut putrinya, "Iya, Lin."
Raline melepaskan pelukannya lalu kembali tersenyum kepada Harlan.
"Minggu depan suruh keluarga besar kamu datang melamar Raline," titah Alka.
"Baik, Mas."
Alka mengerutkan keningnya.
"Paman," ucap Harlan.
Raline dan Shireen tertawa karena tak terbiasa mendengar Harlan memanggil dengan kata 'paman'.
"Besok saya akan memberitahu di mana tempat kalian akan melamar Raline," ujar Alka.
Harlan mengangguk mengiyakan.
-
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam Harlan akhirnya berpamitan pulang, berpapasan dengan Varrel dan ketiga adiknya juga baru tiba di rumah.
"Om Harlan di sini," sapa Sean.
"Jangan panggil dia Om lagi tapi Mas," kata Alka.
"Kenapa begitu, Yah?" tanya Sean.
"Karena dia sebentar lagi akan menjadi kakak iparmu," jawab Alka.
Harlan tampak malu-malu.
"Ayah serius?" tanya Varrel tak percaya.
"Sejak kapan Ayah berbohong pada kalian," celetuk Alka.
Sean lantas memeluk Harlan.
Aksa yang senang mendengarnya juga memeluknya.
"Lalu aku memanggilnya apa?" tanya Varrel.
"Tanyakan pada Harlan, dia mau dipanggil apa oleh kakak iparnya," ujar Alka.
"Panggil Harlan saja," sahutnya.
"Tidak sopan sekali aku memanggilnya dengan menyebut nama saja," ucap Varrel.
"Kalau begitu panggil saja dengan kata Mas Harlan," ujar Alka.
"Baiklah, aku akan memanggilnya dengan sebutan Mas," ucap Varrel.
__ADS_1