
Varrel mengelap bibirnya dengan tisu, wajahnya mendadak panik seketika karena mendengar pernyataan suka dari Aurel.
"Maaf, jika aku tidak malu!" gadis itu memaksakan tersenyum.
Varrel mengangguk tanpa menatap.
Aurel kembali melanjutkan makannya dengan wajah menunduk.
"Apa ini yang dirasakan Om Harlan ketika Raline mengatakan suka padanya?" batinnya bertanya.
Keduanya tampak canggung.
Varrel mempercepat makannya, "Apa kamu sudah selesai?"
Aurel mengangguk.
"Ayo kembali ke kantor!" ajak Varrel.
Aurel bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Varrel. Selepas membayar tagihan makannya, keduanya berjalan ke parkiran dan menaiki motor kemudian melesat ke kantor.
Sesampainya di kantor, Aurel melangkah cepat ke ruangan papanya. Sementara itu Varrel masih duduk di atas motor, tak percaya jika gadis yang menjadi putri atasannya menyukainya.
Ia pun melangkah ke ruangannya, tak ada Aurel di dalamnya. Varrel lantas duduk membuka laptopnya.
Ucapan Aurel terngiang di kepalanya hingga ia tak konsentrasi mengejarkan pekerjaannya. Mengacak rambutnya, Varrel menghembuskan nafas kasarnya. "Kenapa harus dia yang lebih dahulu menyatakan perasaan?"
Varrel tersentak kaget ketika mendengar suara ketukan pintu.
Aurel membuka setengah pintu lalu menongolkan kepalanya, dia melemparkan senyuman seperti tidak terjadi sesuatu. "Apa aku boleh masuk?"
Varrel mengangguk.
Aurel lalu membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk, duduk dihadapan Varrel. "Jangan dimasukkan hati yang tadi, aku tidak serius. Hanya sekedar latihan berbicara."
"Hah, dia hanya main-main. Astaga, ini perempuan sudah meluluhlantakkan hatiku malah seenak jidatnya mengatakan tidak serius!" batin Varrel geram.
"Sebagai permintaan maaf aku, bagaimana jika ku ajak traktir belanja pakaian di butik mama."
"Aku tidak mau," Varrel kembali dengan nada ketusnya.
"Kamu tidak ingin memaafkan aku?"
"Tidak perlu minta maaf."
"Tapi, aku merasa malu karena pernyataan ku di warung mie ayam itu."
"Aku telah melupakannya."
"Syukurlah, tapi kamu mau 'ya menerima permintaan maaf aku dengan pergi ke butik mama," pintanya.
"Aku bilang tidak tetap tidak, Aurel!" sentak Varrel.
Aurel terhenyak, matanya mulai berkaca-kaca.
"A... aku minta maaf, tidak bermaksud berkata kasar," ucap Varrel terbata.
"Baiklah kalau kamu tidak mau," Aurel bangkit dari tempat duduknya lalu mencoba tersenyum tipis. "Permisi!" kemudian berlalu.
"Duh, kenapa pergi 'sih?"
Varrel mendorong kursinya hendak mengejar Aurel namun Roni datang ke ruangannya.
"Kak Roni, ada apa?"
"Pak Raka menyuruhmu ke ruangannya!"
"Saya akan ke sana!"
Varrel lalu melangkah ke ruangan atasannya, ia berharap Aurel ada di tempat itu.
"Apa Aurel tadi ke ruanganmu?" tanya Raka.
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Sekarang dia ke mana?"
"Tidak tahu, Pak."
"Saya tadi menyuruhnya untuk memanggilmu," ujar Raka.
"Apa dia tidak kembali ke sini, Pak?"
"Sebentar saya akan menghubunginya," jawab Raka.
Varrel harap-harap cemas, menunggu Raka menghubungi Aurel.
"Ponselnya tak aktif," ucapnya.
"Hah."
"Ke mana dia?" gumam Raka.
Varrel hanya bisa diam karena bingung akan melakukan apa.
"Coba kamu cari dia!" perintah Raka pada bawahannya.
"Sa..saya, Pak?" Menunjuk diri sendiri.
"Iya, karena terakhir dia dari ruangan kamu!"
"Baik, Pak. Saya akan mencarinya," Varrel gegas keluar dari ruangan atasannya.
Varrel lantas bertanya kepada rekan kerjanya yang melintas, "Apa kamu melihat Nona Aurel?"
"Tadi dia ke lantai atas," jawab karyawan wanita ke arah tangga.
"Terima kasih," ucap Varrel.
Berlari kecil ia menaiki tangga kantor mencari keberadaan gadis itu.
Sesampainya di lantai 3, Varrel menoleh ke kanan kiri lorong. Namun, sosok Aurel tak tampak. Ia pun kembali bertanya kepada karyawan lainnya yang kebetulan ruangan kerjanya berada di lantai 3. "Apa kalian melihat putrinya Pak Raka?"
"Sepertinya dia ke lantai atas," jawab salah satu karyawan.
Varrel tiba di lantai atas dengan nafas ngos-ngosan. Matanya melihat bahu Aurel bergetar, suara isak terdengar di telinganya.
Varrel melangkah pelan mendekati gadis itu, "Pak Raka mencarimu."
Aurel mendengar suara pelan dengan cepat menghapus air matanya lalu membalikkan badannya. "Kenapa kamu tahu aku di sini?"
"Aku mencari dan bertanya pada orang-orang yang ada di gedung ini!"
"Katakan pada papa, aku akan turun setengah jam lagi."
"Baiklah kalau begitu, aku lega kamu di sini. Permisi!" Varrel pun berlalu.
Aurel menghentakkan kakinya dan berdecak kesal. "Huh, dasar!"
"Tidak peka sama sekali!" gerutunya.
Tak sampai 5 menit, Varrel kini berada di ruangan atasannya. "Nona Aurel di lantai atas, Pak!"
"Kenapa kamu tidak membawanya kemari?"
"Katanya dia akan turun setengah jam lagi," tuturnya.
"Kenapa tidak dipaksa? Bagaimana jika dia berbuat nekat?"
"Apa Nona Aurel senekat itu, Pak?"
"Ya, saya takut saja."
"Saya akan kembali menyusulnya," Varrel dengan cepat melangkah menghampiri Aurel.
"Kenapa kamu ke sini lagi?" bertanya tanpa menatap karena mendengar suara langkah kaki.
"Pak Raka ingin aku memaksamu turun!" Varrel memegang tangan gadis itu dan menariknya.
__ADS_1
Aurel menyentaknya, "Aku tidak akan turun!"
"Jangan menambah pekerjaan aku, Aurel!" berkata dengan lantang.
"Kenapa kamu mengikuti perintah papa?"
"Karena dia itu atasanku!"
"Kamu bisa membantahnya!"
"Dasar keras kepala!" desisnya.
"Memangnya kenapa kalau aku keras kepala? Merugikan kamu?"
"Iya, aku merasa dirugikan. Waktuku terbuang hanya untuk mengurus gadis sepertimu yang egois dan manja!" Varrel berkata dengan nada tinggi.
"Jika aku membuat waktumu terbuang sia-sia, pergilah!"
Varrel menarik nafasnya lalu ia hempaskan. Aurel membalikkan badan dan memunggunginya.
"Kamu ingin aku dipecat?"
Aurel berbalik lalu berjalan melewati tubuh Varrel yang masih berdiri, dengan langkah cepat ia menuruni tangga menuju ruangan sang papa.
Keduanya kini di ruangan Raka.
"Kamu bisa kembali ke ruanganmu!" titahnya kepada Varrel.
"Pak Raka cuma menyuruh saya mencarinya?" melirik Aurel yang duduk di sofa tamu.
"Iya, Rel. Terima kasih, ya." Raka tersenyum.
"Sama-sama, Pak. Permisi!" Varrel berlalu.
Raka lalu kembali duduk, "Sekarang kamu sudah puas, kan?"
"Terima kasih, Pa."
"Apa perlu Papa meminta padanya agar menerimamu?"
"Tidak, jangan dipaksa. Aku telah mengungkapkannya itu cukup lega."
"Sampai kapan kamu akan menunggu Varrel membalas hatimu?"
"Mungkin sebulan atau dua bulan lagi."
-
Sore harinya selepas pulang bekerja, Varrel menghubungi Harlan untuk bertemu. Sejam kemudian mereka berjumpa di sebuah kafe.
"Ada apa calon kakak ipar ingin bertemu dengan aku?"
"Om..."
"Jangan panggil Om!"
"Aku lupa, Mas Harlan."
"Lama-kelamaan juga terbiasa."
"Kamu ingin bicara apa?"
"Putri atasanku menyatakan perasaan padaku!"
Harlan yang sedang menyeruput tehnya tersedak, meletakkan cangkir lalu mengambil tisu menutup mulutnya.
"Mas, pasti berpikir kenapa kejadiannya sama ketika Raline mengungkapkan perasaannya," ujar Varrel.
Harlan mengiyakan.
"Hanya aku bercerita tentang kalian berdua, eh dia malah melakukannya juga."
"Mungkin dari awal dia memang menyukaimu."
__ADS_1
"Mungkin juga."
"Sekarang Mas tanya padamu, apa kamu memiliki perasaan padanya?"