Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 12


__ADS_3

Setibanya di rumah, Shireen sudah berada di depan pintu. Ya, dia tahu kabar putri sambungnya kecelakaan dari suaminya.


Tentunya Alka tahu dari Harlan yang mengantarkan motor Raline.


"Mama dan ayah sudah melarang kamu untuk tidak mengendarai motor, jadinya begini 'kan!" ada rasa penyesalan di hati Shireen.


"Maaf, Ma."


"Pasti kamu tahu dari Harlan," tebak Rani.


"Iya, Kak."


"Tadi aku juga sudah menasehati Raline, dia menolak diantar dan jemput Harlan lagi," jelas Rani.


"Jadi, siapa yang mengantar jemputmu?" tanya Shireen.


"Ada angkutan umum, Ma."


"Baiklah, jika kamu mau naik angkutan umum," ujar Shireen.


"Aku mau balik ke kantor, Ren."


"Oh, ya Kak. Terima kasih sudah mengantarkan Raline," ucap Shireen.


"Dia juga tanggung jawabku, Ren."


"Iya, Kak."


"Ibu pamit, ya!" menatap putrinya.


"Ya, Bu. Hati-hati!"


Rani melangkah ke mobilnya dan berlalu.


Tak lama Raline tiba di rumah, Alka juga pulang. Ya, karena dia begitu khawatir dengan putrinya itu.


Begitu mendengar kabar tentang Raline, Alka segera menghubungi istrinya lalu ia gegas pulang ke rumah.


"Ayah sudah melarangmu tapi tetap saja melanggarnya," omel Alka.


"Maaf, Yah."


"Mulai besok Ayah akan mengantar jemputmu," ujar Alka.


"Tidak, Yah. Nanti Ayah kelelahan dijalan jika harus mengantarkan aku dan adik-adik," Raline menolaknya.


"Bagaimana lagi? Ayah tidak mau kamu terluka, Nak."


"Ayah, aku sudah dewasa. Kalian jangan khawatir, ku bisa naik kendaraan umum." Raline menjelaskan sembari merangkul tangan Alka.


"Kenapa kamu tidak mau diantar Harlan lagi?" tanya Alka.


"Aku tidak mau saja, Yah."


"Apa Harlan kasar padamu?" Alka bertanya lagi.


"Tidak, Yah."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin mandiri, selama ini Om Harlan selalu menemaniku apa salahnya ku ingin bebas tanpanya," jelas Raline berbohong.


"Raline, benar Mas. Dia sudah dewasa dan butuh ruang pribadi," Shireen menimpali.


"Apa kamu menyukai seseorang sehingga tidak ingin ia cemburu?" tanya Alka.


Raline menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu menyukai seseorang, beritahu Ayah." Alka berkata lembut.


"Iya, Yah."


"Ya sudah, bersihkan dirimu. Ayah mau menjemput adik-adikmu," ujarnya.


Raline mengangguk.


******


Beberapa hari kemudian....


Raline membuktikan kata-katanya jika dia mampu hidup mandiri. Ya, dia ingin menjauh dari Harlan karena pria itu sama sekali tidak memiliki perasaan kepadanya.


Raline berdiri di halte, menunggu bus yang melewati kampusnya tadi ia menumpang motor Varrel menuju tempat itu.


Hampir 15 menit menunggu, bus dengan tujuan tak kunjung datang.


Sekalinya datang ternyata sudah penuh dengan penumpang. Raline lagi-lagi harus bersabar.


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, kaca jendela turun tampak seorang pria tersenyum padanya. "Butuh tumpangan?" tanyanya dengan suara keras.


Raline menoleh ke kanan dan kirinya tapi tak ada orang. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada pria itu, "Anda bertanya pada saya?"


"Ya, Raline!"


"Kamu mengenali aku?"

__ADS_1


"Tentunya," pria itu membuka kacamatanya.


Raline baru sadar jika pria itu pernah menolongnya.


"Cepat masuk!" ajaknya.


Raline gegas masuk ke dalam mobil karena dia sudah hampir terlambat.


"Kamu mau ke mana?" tanya Bagas sembari menyetir.


"Aku mau ke kampus," jawab Raline.


"Di mana kampusmu?" tanya Bagas lagi.


Raline memberitahu alamat kampusnya.


"Aku akan mengantarmu, kebetulan kita satu jalan," ujar Bagas.


Sepanjang perjalanan ke kampus, Raline lebih banyak diam meskipun pria yang ada di sebelahnya mencuri pandang kepadanya.


"Apa lukamu sudah sembuh?" Bagas berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.


"Sudah mulai mengering."


"Pasti kamu trauma mengendarai motor, ya?"


"Bukan trauma, hanya memang dilarang orang tua saja!"


"Oh, begitu."


Ponsel Bagas berdering meminta izin kepada Raline untuk menjawabnya.


Raline mengiyakan.


"Nanti Ayah akan menjemputmu!" Bagas lalu menutup teleponnya.


"Siapa?" tanya Raline.


"Putraku."


"Usia berapa?"


"Tiga tahun."


"Pasti sangat lucunya," ujar Raline.


"Ya."


"Kamu sudah lama menikah?"


"Istrimu pasti sangat cantik," tebak Raline.


"Ya, dia sangat cantik. Aku begitu mencintainya namun semua sudah berakhir," ujar Bagas.


"Maksudnya? Kalian bercerai?"


"Ya."


"Sorry!" Raline berkata lirih.


"Tidak apa," Bagas memaksa tersenyum.


Sesampainya di kampus Bagas meminta nomor ponsel Raline dan ia memberikannya.


-


Menjelang siang hari, Harlan tiba-tiba muncul dihadapan Raline yang sedang menunggu jemputan ayahnya.


"Kenapa Om yang menjemputku?"


"Karena ayahmu yang memintanya."


"Memangnya ayah ke mana?"


"Katanya lagi ramai pelanggan, kebetulan aku tidak sibuk jadi ku yang menjemputmu," jawab Harlan.


"Lebih baik Om Harlan balik ke kantor, aku bisa naik bus."


"Raline, naik motor!"


"Tidak, Om!" tolaknya.


"Aku sudah capek-capek ke sini untuk menjemputmu malah disuruh pulang," omel Harlan.


"Aku tidak minta Om Harlan menjemputku," Raline tak mau kalah.


"Raline, aku bilang cepat naik!" titahnya.


"Tidak!" Raline melangkah berlainan arah.


Harlan menghela nafasnya, ia lalu turun dan mengejar langkah Raline. "Jangan seperti anak kecil!" ucapnya dengan nada dingin.


Raline membalikkan tubuhnya. "Aku sudah bilang, tidak mau diantar atau dijemput Om lagi. Kenapa masih saja mau disuruh ibu dan ayah?"


"Aku tidak mau dipecat," jawab Harlan.

__ADS_1


"Aku akan katakan pada mereka takkan memecat Om!"


"Baiklah, kalau begitu aku akan balik ke kantor!" Harlan berbalik arah mengambil motornya.


Raline memperhatikan punggung Harlan, "Dia memang sungguh tega!" gerutunya.


"Bujuk kenapa sih, Om?" Batin Raline berharap.


Perlahan motor Harlan meninggalkan kampus Raline sementara gadis itu berdecak kesal.


Tak mau berlama-lama di tempat itu, Raline memilih menyeberang jalan. Ya, dia akan mencoba berjalan kaki menuju rumahnya.


Harlan yang memperhatikan Raline dari kaca spionnya menghentikan kendaraannya. "Mau ke mana dia?" gumamnya.


Harlan akhirnya memutar balik arah mengikuti langkah gadis itu.


Raline berjalan dengan cepat. Karena dia merasa seseorang mengikutinya.


Baru 1 kilometer berjalan, Raline merasa kelelahan akhirnya ia memilih duduk di bangku yang memang sudah disediakan di sepanjang jalan yang dilaluinya.


Harlan berhenti tepat di mana Raline duduk. "Biar aku antar pulang!"


Raline membuang wajahnya.


"Alshe saja tidak sepertimu!" singgungnya.


"Tapi, dia langsung menghajar Om!"


Harlan tertawa kecil.


"Pergilah, Om!" usirnya.


"Aku tidak mau, sebelum pulang bersamamu!"


"Jangan pedulikan aku, Om!"


"Siapa yang mempedulikanmu? Aku hanya menjalankan perintah dari ibumu saja!"


Raline berdiri dan melanjutkan perjalanannya.


"Raline, ayo. Aku sudah terlambat makan siang!"


Gadis itu tidak peduli.


"Bagaimana kalau aku traktir makan siang?" Harlan menawarkan.


Raline menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Harlan. "Om mengajak aku makan?"


"Iya."


"Aku mau!" Raline tampak semangat.


"Ya sudah, cepat!"


Raline dengan semangat naik ke motor.


Harlan mengendarai kendaraannya ke sebuah tempat makan yang tidak terlalu luas tapi lumayan bersih dan nyaman.


Sesampainya di tempat tujuan, Harlan berkata, "Kita tidak makan berdua, ada temanku tidak masalah, kan?"


Raline menggelengkan kepalanya.


Harlan lalu berjalan ke meja yang di mana ada seorang wanita muda bersama dengan bocah laki-laki.


Raline tampak terkejut dengan teman wanita yang dikatakan Harlan.


"Raline, perkenalkan dia Tiara!"


Tiara mengulurkan tangannya dan Raline meraihnya keduanya saling melemparkan senyuman hanya saja Raline tersenyum tipis.


"Ayo duduk!" Harlan mempersilakan Raline.


Gadis itu pun mengikuti perintahnya.


"Silahkan pesan makanannya!" Harlan menyuruh kedua wanita beda usia itu.


Tiara dan Raline memesan makanan pada pelayan begitu juga dengan Harlan.


Raline melihat Harlan begitu akrab dengan Riko. "Siapa wanita ini sebenarnya?" batinnya bertanya.


Tiara selalu tertawa melihat anak dan Harlan saling bercanda.


Raline semakin penasaran dan ingin bertanya. Namun, ia urungkan karena lagi makanan sudah dihidangkan dan siap disantap.


"Oh, ya Raline. Aku lupa mengenalkannya padamu," ujar Harlan.


"Bukankah kami tadi sudah berkenalan, Lan?" Tiara mengingatkan.


"Iya, tapi aku ingin dia tahu tentang hubungan kita," jawab Harlan.


"Hubungan? Apa maksudnya?" Pertanyaan itu terus menari-nari di kepalanya Raline.


"Tiara ini kekasihku," jawab Harlan.


Seketika dunia Raline runtuh, hatinya terasa perih. Namun, ia berusaha tetap tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2