
Seminggu kemudian....
Raline baru saja pulang dari Jogja. Gadis itu celingak-celinguk mencari keluarganya yang menjemputnya.
Tepukan di bahunya membuat Raline menoleh ke belakang. Seorang pria tersenyum manis kepadanya.
"Kenapa Om yang menjemputku?" tanyanya tak suka.
"Karena hanya aku yang sempat menjemputmu."
"Aku tidak suka Om yang jemput!" Berkata tegas.
"Suka tidak suka kau tetap harus pulang denganku!"
"Aku naik taksi saja!"
"Jangan seperti anak kecil yang hobinya merajuk, kau itu sudah dewasa jadi bersikaplah sesuai usiamu!"
"Jika aku sudah dewasa kenapa Om tidak menyukai ku?"
"Jangan bahas itu!"
"Tetap harus di bahas, Om!"
"Aku tidak menyukaimu sampai kapanpun, kau itu hanya keponakan bagiku."
Raline terdiam tak bisa berbicara lagi.
Harlan mengangkat tas gadis itu membawanya ke mobil.
Raline memilih duduk di belakang.
"Kenapa duduk di belakang?"
"Aku ini keponakan Om Harlan jadi anggap saja ku masih bocah dua belas tahun!" Raline membuka pintu belakang dan duduk.
Harlan menghela nafas pasrah, ia pun duduk di kursi kemudi.
Raline yang dibelakang memainkan ponselnya sembari tertawa, ia lalu menghubungi seseorang kelihatan sangat begitu akrab.
Harlan melihat tingkah gadis itu dari kaca spion tengah.
"Kenapa kau memblokir semua kontak ku?" tanya Harlan ketika gadis itu selesai bertelepon.
"Bukankah Om Harlan yang menginginkan aku menjauh?"
"Menjauh bukan memblokir semua kontak ku."
"Terserah aku Om mau memblokir nomor siapa saja!" Raline berkata tegas.
Harlan pun terdiam.
Begitu sampai, Raline menurunkan koper miliknya tanpa mengucapkan apapun ia gegas memasuki rumahnya.
Harlan mengernyitkan keningnya melihat tingkah gadis itu.
-
-
Malam ini Rani berulang tahun ke 50 tahun jadi ia mengundang seluruh keluarganya termasuk para karyawannya.
Rani tak mengadakan pesta besar tapi ia hanya mengundang makan-makan saja. Alka dan istrinya tidak dapat menghadirinya karena ada urusan di luar kota tapi anak-anak mereka mewakilinya.
Ketiga buah hati Rani dari pernikahannya dengan Alka juga hadir di acara bahagia itu.
Raline memeluk sang ibu, keduanya tampak begitu cantik.
Harlan sedari tadi mencuri pandang kepada Raline yang begitu cuek kepadanya.
"Kak Rel, kemarilah!" panggil Raline.
"Ada apa, Lin?"
"Coba rasa!" Raline menyuapkan kue ke mulut sang kakak. "Enak, kan?" tanyanya.
"Iya, sangat enak."
"Aku mau pesan ini saja buat acara kelulusan wisuda ku," ujarnya.
__ADS_1
"Boleh juga," Varrel mengiyakan.
Harlan melihat adik kakak tersebut, biasanya Raline akan memanggilnya untuk mencoba atau mencicipi makanan yang kira-kira dilihat gadis itu baru dimatanya. Ya, Harlan adalah bahan percobaan Raline.
Pria itu mendekatinya ketika Raline sedang seorang diri di meja makanan. "Kamu tidak ingin mencoba ini?" menunjuk kue bolu dengan parutan keju di atasnya.
"Sudah coba," jawab Raline lalu pergi menjauh.
"Kenapa dia menjauh seperti itu, hatiku terasa sakit, ya?" batin Harlan bertanya.
****
Keesokan harinya, Raline hendak ke kampus namun Harlan sudah berada di depan pintu pagarnya.
"Aku akan mengantarmu ke kampus," ujar Harlan.
"Aku naik bus saja," Raline menolak.
"Aku ditugaskan oleh ibumu," ucap Harlan.
Raline mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menghubungi ibunya. "Halo, Bu!"
"Halo, Raline!"
"Bu, aku ingin mandiri. Kenapa mengirimkan Om Harlan lagi?"
"Ibu sangat khawatir padamu, Nak."
"Bu, aku sudah dewasa. Ibu jangan khawatir, nanti ada kekasihku yang menjemputku di kampus," ujar Raline.
"Kekasih? Kamu menjalin hubungan dengan siapa, Nak?"
"Tentunya pria tampan dan baik hati, Bu." Raline berkata begitu dengan sengaja agar bisa melihat reaksi Harlan.
"Kapan kamu akan mengenalkan dia kepada kami?"
"Jika sudah waktunya, Bu."
"Baiklah, untuk hari ini saja kamu diantar Harlan," ucap Rani.
"Iya, Bu. Raline lalu menutup teleponnya.
"Hari ini saja mengantarkan aku, selebihnya ku akan diantar jemput kekasihku," jawab Raline.
"Kau punya kekasih?"
"Ya."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Ayo naik!" Harlan memberikan helm.
Raline lalu duduk di belakang memakai helmnya.
"Pegangan, nanti jatuh!"
"Iya!" ketusnya.
Sesampainya di kampus, Raline memberikan helm tanpa berkata apa-apa seperti kemarin. Gadis itu gegas berlari ke kelasnya.
Harlan hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan.
-
Selepas dari kampus, Raline sudah menelepon Mama Shireen jika hari ini ia akan pulang terlambat karena sedang jalan-jalan ke mall bersama temannya.
Shireen pun mengizinkan putrinya itu pergi ke mall bersama temannya dengan syarat harus sampai rumah jam 5 sore.
Raline dijemput Bagas di kampus.
"Hari ini aku membawa anakku, tidak apa-apa 'kan?" Bagas memperkenalkan putranya.
Raline tampak terkejut melihat putranya Bagas. "Ini anakmu?"
"Ya, namanya Riko."
"Oh," ucap Raline singkat.
Riko memperhatikan wajah Raline begitu teliti.
"Riko, duduklah. Ayah akan menjalankan mobilnya," titah Bagas dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, Yah." Bocah laki-laki itu pun duduk di kursi penumpang belakang.
"Jadi kekasih Om Harlan mantan istrinya Bagas. Oh ternyata dunia ini terlalu sempit," batinnya bermonolog.
Ketiganya tiba di Mall yang dituju, Riko memegang tangan Raline begitu erat. Bocah laki-laki itu selalu mendongakkan kepalanya lalu melemparkan senyumannya.
Bagas menyadari jika putranya menyukai Raline.
"Kita mau makan di mana?" tanya Bagas.
"Terserah," jawab Raline.
"Ayah!" Riko menarik tangan Bagas, lalu menunjuk ke arah restoran yang ada permainan buat anak-anak.
"Kita mau ke sana?" tanya Bagas.
Riko mengangguk.
"Ayo kita ke sana!" ajak Bagas.
Raline mengekori anak dan ayah itu.
Ketiganya memesan makanan tak lama pesanan mereka pun datang.
"Ayah, Ibu!" Riko mengarahkan ponsel Bagas kepada pria itu.
"Kamu ingin menelepon ibu?" tanya Bagas.
"Ya."
Bagas lalu menghubungi mantan istrinya lewat panggilan video.
Raline memegang keningnya, "Jangan sampai wanita itu melihatku, bisa malu aku dengan Om Harlan," batinnya.
Riko melambaikan tangannya kepada ibunya.
"Kamu di mana, Nak?"
"Mall."
"Kamu dengan siapa, Nak?"
"Ayah."
"Selain Ayah?" tanya Tiara.
Riko mengarahkan ponselnya kepada Bagas dan Raline yang sedang menikmati makanan.
Keduanya tanpa sadar diperhatikan oleh Tiara dari panggilan video.
Bagas yang sadar gegas mengambil ponselnya lalu ia arahkan kepadanya dan cepat mematikannya.
Riko tak protes, bocah laki-laki itu lalu menikmati makanannya.
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Bagas ternyata dari mantan istrinya. 'Wanita yang bersamamu siapa?'
Bagas membalasnya dengan menulis kata teman.
'Namanya siapa?'
'Raline.' Bagas menjawab pesan dari Tiara.
Setelah balasan jawaban itu, mantan istrinya tak mengirimkan pesan lagi.
Selesai makan, ketiganya menikmati wahana permainan yang ada di mall. Riko tampak riang apalagi Raline pandai mengambil hatinya.
Bagas yang melihat kedekatan keduanya semakin yakin dengan gadis itu.
Tepat pukul 4 lewat 30 menit, ketiganya pun pulang. Bagas mengantarkan Raline ke rumahnya.
Begitu sampai, Bagas ingin turun dan menyapa kedua orang tuanya Raline namun gadis itu melarangnya dengan alasan belum waktunya.
Bagas pun memakluminya karena baru bertemu 3 kali dengan hari ini, selebihnya mereka berkomunikasi hanya melalui pesan singkat.
......................
Raline lebih pantas dengan Harlan atau Bagas, ya?
Jangan Lupa Komentar ☺️
__ADS_1