
Esok paginya...
Harlan menelepon kedua orang tuanya. "Halo, Bu!"
"Halo, Lan!"
"Aku punya kabar bahagia," ujarnya.
"Kamu akan menikah?" tebak Mela.
"Iya, Bu."
"Dengan siapa?"
"Raline, Bu."
Mela berteriak girang.
"Bu...."
"Kapan kamu ingin kami melamarnya?" tanya Mela.
"Ayahnya Raline ingin kita datang melamar putrinya minggu depan," jawab Harlan.
"Ibu akan memberitahu Ayahmu. Uh, akhirnya kamu melamar anak orang," ujar Mela.
"Do'akan aku, Bu. Semoga tak ada halangan," mohon Harlan.
"Ibu selalu mendoakan kamu, Lan."
"Terima kasih, Bu."
Harlan memasukkan ponselnya setelah sang ibu menutup teleponnya. Ia akan bersiap-siap menemui seseorang.
Harlan tiba di kafe terdekat dari rumahnya seseorang yang ditunggunya. Hampir 15 menit, akhirnya datang juga.
"Maaf, membuat menunggu!"
"Tidak apa, santai saja!"
Duduk berhadapan dengan Harlan. "Kamu ingin mengatakan jika berhasil mendapatkan hati Raline."
"Ya, aku ingin berterima kasih kepadamu karena sudah melepaskan dia untukku."
"Raline menyukaimu dan ku tak bisa memaksa hatinya meskipun keluarganya merestui kami."
Harlan tersenyum tipis, "Harusnya lebih awal ku menyadari cintanya, ternyata setelah direbut orang lain baru terasa."
"Raline bilang padaku jika dia telah menyukaimu beberapa tahun lalu bahkan mengungkapkan perasaannya namun kamu hanya melihat mantan istriku."
"Aku menyesal dan ku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Ya, kamu harus benar-benar menjaga dan melindungi Raline jika tidak, maka ku siap merebutnya."
"Aku janji, semoga kamu mendapatkan wanita yang mencintaimu."
"Semoga, terima kasih doanya."
"Sama-sama."
-
Sementara itu di kantor Varrel sedang fokus dengan desain bangunan yang telah ia gambar.
"Pagi!" sapa Aurel dengan senyuman.
"Pagi juga!" balas menyapa tanpa menatap.
"Aku buatkan kopi untukmu," ucap Aurel.
"Letakkan saja di sana!" menunjuk ke meja tamu.
"Sepertinya sangat sibuk!"
"Ya, aku harus menyelesaikannya akhir bulan ini," ujar Varrel.
"Memangnya papa yang memintamu segera menyelesaikannya?"
"Tidak juga, aku ingin mengajukan cuti," ujar Varrel.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Aurel.
"Aku mau menikah."
"Apa!" Aurel memekik.
Varrel mengerutkan keningnya.
"Ka.. kamu mau menikah?" Aurel bertanya dengan terbata.
"Bukan aku tapi adikku Raline."
"Oh," Aurel tersenyum lega.
"Memangnya kenapa kalau aku menikah?" tanya Varrel.
"Tidak apa-apa juga, memangnya kamu memiliki kekasih?" balik bertanya.
"Belum."
Aurel kembali tersenyum.
"Nanti aku akan mengundangmu juga," ujar Varrel.
"Aku akan usahakan datang," ucap Aurel. "Oh ya, kira-kira tipe calon kekasihmu seperti apa?" lanjut bertanya.
"Aku tidak mencari kekasih tetapi calon istri," jawab Varrel.
"Oh."
"Kamu ingin menikah di usia berapa?" tanya Varrel.
"Aku?"
__ADS_1
"Ya."
"Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu?"
"Karena aku belum memiliki kekasih."
"Jika telah memiliki kekasih, apa kamu akan segera menikah?"
"Kalau dia mengajak menikah, aku mau."
"Bagaimana jika dia selalu mengulurkan waktu untuk melamarmu?"
"Aku akan berhenti."
"Kamu akan putus?"
"Ya."
"Pintar!" puji Varrel mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Aku berharap pria yang ku sukai saat ini yang akan melamar dan menikahiku," celetuk Aurel.
"Kamu menyukai seseorang?"
Aurel mengangguk.
"Apa kamu sudah mengatakannya?"
Aurel menggelengkan kepalanya.
"Kamu takut ditolak?"
"Iya."
"Adikku Raline pernah mengungkapkan perasaannya kepada asisten ibuku yang jarak usia keduanya lebih dari sepuluh tahun."
"Benarkah?"
"Ya, kami memanggilnya Om."
"Apa pria itu menerimanya?"
"Tidak, butuh perjuangan untuk mendapatkan hatinya tapi akhirnya pria itu melamar adikku."
"Pasti Raline sangat senang," ujar Aurel.
"Tentunya."
"Apa aku harus mencoba mengatakan kepada pria itu?"
"Terserah kamu," jawab Varrel.
"Aku akan mencobanya nanti," ucap Aurel tersenyum.
Varrel melihat arlojinya, "Waktunya makan siang, aku mau mentraktirmu."
"Dengan senang hati." Aurel mengiyakan.
Varrel menyerahkan helm kepada Aurel.
"Apa kamu bisa menyetir?" tanya Aurel.
"Bisa."
"Besok-besok kalau kita keluar makan perginya naik mobil, ya."
"Kamu tidak mau naik motor?"
"Bukan begitu..."
"Di rumah ada mobil tapi jarang dipakai, hanya ayah dan mama yang menggunakannya untuk mengantar adik-adik ke sekolah."
"Kenapa kamu kerja tidak bawa mobil?"
"Ingin menghemat bensin dan waktu," jawab Varrel. "Lagian juga mobil itu bukan milikku, uangku belum cukup tuk membelinya," lanjutnya.
"Bukankah kamu salah satu penerus Sudiro Star Hotel?"
"Darimana kamu tahu?"
"Papa."
"Oh."
"Kenapa kamu tidak bekerja di hotel kakekmu itu?"
"Jika aku bekerja di sana, kita tidak akan bertemu," jawab Varrel asal.
Dalam hati Aurel tersenyum senang.
"Ayo naik!" Varrel sudah berada di motor.
Aurel pun duduk di belakangnya.
Sesampainya di warung mie ayam, Aurel tampak heran. "Kita makan di sini?"
"Ya."
"Kenapa di sini?"
"Kamu tidak pernah makan di sini?'
Aurel menggelengkan kepalanya.
"Mie ayam di sini enak, aku dan adik-adikku lumayan sering ke sini," jelas Varrel.
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tidak."
__ADS_1
"Kamu ingin kita pindah cari makanan yang lain?"
"Tidak, di sini saja jangan pindah."
"Ku yakin kamu pasti menyukainya!"
Aurel mengiyakan.
Keduanya berjalan memasuki warung mie ayam dan duduk berhadapan.
Varrel memesan mie ayam 2 mangkok, segelas es jeruk dan sebotol air mineral.
Aurel masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung mie ayam itu.
Varrel tersenyum kecil, "Kamu terbiasa makan di tempat luas dan mewah," celetuknya.
"Aku memang tidak terbiasa," ujar Aurel.
"Mulai hari ini kamu akan terbiasa," ucap Varrel.
"Kamu akan mengajakku makan di tempat seperti ini?" tanya Aurel.
"Iya."
"Setiap hari?"
"Jika kamu mau."
"Kamu serius?"
"Iya."
"Aku tidak mau!" tolak Aurel.
"Kenapa?"
"Uangmu akan habis jika terus mentraktirku makan."
"Benar juga yang kamu katakan, aku akan mengajakmu ke tempat seperti ini seminggu sekali. Bagaimana?"
"Boleh juga, jika aku telah menerima gaji dari papa. Kamu akan ku traktir."
"Baiklah, aku senang mendapatkan traktiran gratis."
"Rel, aku ingin bertemu dengan keluargamu."
"Untuk apa?"
"Silaturahmi."
"Jika kamu ke rumah mereka pikir dirimu adalah kekasihku," ujar Varrel.
"Memangnya tidak pernah teman-temanmu yang perempuan ke rumahmu?"
"Tidak."
"Jadi, kamu tidak punya teman perempuan?"
"Punya, tapi tak sedekat dengan teman laki-laki."
"Oh," ucapnya singkat. "Apa kamu sebelumnya pernah menjalin hubungan kasih?" lanjut bertanya.
"Aku tidak punya kekasih."
"Kenapa?"
"Karena tak ada wanita yang ku sukai."
"Kalau sekarang?"
"Ada."
Aurel terhenyak, jantungnya serasa berhenti. Pria yang disukainya itu jatuh cinta kepada wanita lain. "Siapa dia?"
"Rahasia."
"Oh, jadi kamu tidak ingin memberitahu aku," singgung Aurel.
"Belum waktunya."
Mie ayam pun tersaji dihadapan keduanya.
Varrel membuka tutup botol air mineral pesanan Aurel. "Nanti lanjut mengobrolnya, waktunya makan."
Aurel mengiyakan.
Varrel menikmati mie ayam dengan begitu lahap.
"Kamu tidak pakai sambal?" tanya Aurel.
"Aku alergi cabe."
"Sepertinya aku harus belajar mengenal banyak tentangmu," ujar Aurel.
"Kenapa begitu?"
"Aku menyukaimu!"
Varrel mendongakkan sedikit wajahnya menatap Aurel dengan posisi mie masih tergigit di mulut.
Varrel gegas memasukkan mie ke dalam perutnya. Lalu meletakkan sendok di mangkok, meraih es jeruk dan menyeruputnya. Tubuhnya seakan bergetar dan gugup.
"Ma.. maaf!" ucap Aurel lirih.
Bagas Pratama
Varrel Alra Sudiro
__ADS_1
Aurel Rakasyah