Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 23


__ADS_3

Deg...


"Saya juga akan membicarakan hal ini kepada ayahnya dan mama sambungnya. Saya cuma mau ketika Raline sekolah di Paris, suaminya bisa menemaninya. Saya khawatir jika meninggalkan dia, meskipun ada keluarga juga di sana," Rani sengaja berkata ingin melihat reaksi dari asistennya itu.


"Memangnya Bagas tidak memiliki pekerjaan, Bu. Hingga harus menemani Raline di sana?"


"Bagas memiliki perusahaan, tentunya waktunya banyak untuk menemani Raline. Saya yakin jika Bagas pria baik, bertanggung jawab serta mencintai Raline." Rani sengaja berkata begitu.


"Bagas bukan pria yang baik, Bu."


"Darimana kamu tahu?"


"Tiara mantan istrinya Bagas."


"Kamu terlalu mencintai Tiara, makanya mendengar ucapannya."


"Tidak mungkin Tiara berbohong, Bu."


"Tidak mungkin putri saya salah memilih," ujar Rani.


"Bu, saya mohon tolong pikirkan lagi untuk menikahkan Raline dengan Bagas."


"Kenapa saya harus mendengar kamu?"


Harlan pun terdiam.


"Raline menyukai Bagas, apa salahnya kami menikahkan mereka?"


"Raline mencintai saya, Bu." Batin Harlan menjawab.


"Oh, saya tahu kamu cemburu, ya. Jika Raline menikah dengan Bagas."


"Saya tidak cemburu, Bu. Saya hanya ingin terbaik untuk Raline."


Rani tertawa sinis, "Kamu bicara terbaik untuk Raline tapi tak pernah tahu dengan hatinya."


Lagi-lagi Harlan di buat mati kutu.


"Pilihan saya mantap untuk menjadikan Bagas menantu. Pasti ayahnya Raline terima dengan usulan yang saya beri."


Harlan tak bisa berkata-kata lagi.


"Kembalilah bekerja," ucap Rani.


"Ya, Bu. Permisi," pamitnya.

__ADS_1


Di ruangan kerjanya, Harlan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Kenapa dia harus menikah dengan Bagas?"


"Raline tidak boleh menikah dengannya?"


"Aku harus mencegahnya."


"Aku tidak ingin dia tersakiti seperti Tiara."


Kata-kata itu keluar dari mulut Harlan yang benar-benar dilema.


-


Selepas pulang bekerja, Harlan mengajak Varrel bertemu di sebuah kafe.


"Tumben Om Harlan mengajak aku bertemu, biasanya dengan Raline," celetuk Varrel.


"Ada yang ingin aku beritahu," ujar Harlan.


"Tentang siapa?"


"Bagas."


"Kenapa dengan dia?"


"Apa hak Om Harlan melarang ibuku?"


"Aku tidak melarang, Rel. Hanya calon suami untuk Raline bukan pria yang baik."


"Oh, jadi Om Harlan adalah pria baik," ketusnya.


"Rel, bukan begitu. Bagas pria yang kasar, dia berpisah karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga," jelas Harlan.


"Aku tidak percaya dia seperti itu."


"Rel, percaya padaku."


"Maaf, Om. Aku sudah tidak mempercayai Om lagi setelah menyakiti hati adikku!"


Jleb...


"Aku, Mama Iren dan ibu tahu jika Raline menyukai Om Harlan."


Harlan terdiam.


"Sekarang, aku mendukung Raline dengan Bagas. Sepertinya dia benar-benar sayang dan tulus pada Raline," tutur Varrel.

__ADS_1


"Kamu membenci aku?"


"Tidak, Om. Aku hanya ingin Raline bahagia, itu saja!"


"Aku juga ingin Raline bahagia."


"Dan kebahagiaan Raline ada pada Om Harlan. Tapi, Om telah menyia-nyiakannya."


"Aku minta maaf, Rel."


"Ya, aku tahu cinta tak bisa dipaksakan. Tapi ku mohon pada Om Harlan, jangan mengganggu atau menggoyahkan hati Raline lagi."


Harlan lagi-lagi dibuat tak berkata-kata.


"Sebelum ayah memutuskan Raline menikah atau tidaknya, lebih baik tanya hati kecil Om Harlan," ujar Varrel.


"Aku tidak mencintainya, Rel." Harlan berkata lirih.


"Jika tidak mencintainya, biarkan Raline menentukan kebahagiannya sendiri!"


-


-


Harlan turun dari mobilnya dengan langkah gontai perkataan Bu Rani dan Varrel terngiang-ngiang di pikirannya.


Hatinya seakan tak rela, jika gadis kecilnya yang selalu membuatnya sakit kepala karena terus mengoceh akan menikah.


"Kenapa denganku?"


"Biarkan dia bersama pria itu, kenapa kau yang harus repot memberitahunya."


"Kau tidak mencintainya, biarkan dia dengan kebahagiannya!"


Kata-kata itu menari-nari di kepalanya.


"Aaarrrghhh...."


...----------------...


Harlan atau Bagas?


Selamat Membaca 🌹


Sehat Selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2