Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 6


__ADS_3

Raline membalikkan tubuhnya, ia tampak terkejut melihat kehadiran Harlan.


"Acaranya sudah selesai, ayo pulang!"


"Aku akan pulang nanti tapi tidak bersama Om Harlan," ucap Raline.


"Kau akan pulang dengan siapa?"


"Bukan urusanmu Om Harlan aku mau pulang dengan siapa!"


Harlan menarik tangan dan menggenggamnya. "Pulang, sekarang!"


Raline menyentak tangan Harlan ketika sampai mobil.


"Ibumu menyuruhku untuk menjemputmu," jelas Harlan.


"Katakan pada ibu jika aku akan pulang dengan temanku!"


"Aku sudah sampai di sini, tidak mungkin pulang tanpamu!" Harlan membuka pintu lalu memaksa Raline untuk masuk.


"Kalau dia tak mau pulang dengan anda, tidak perlu memaksanya."


Harlan dan Raline menoleh ke asal suara.


"Biar aku yang mengantarnya pulang," ucap seorang pria muda ditaksir sebaya dengan Raline.


Harlan menatap malas, pemuda yang ada dihadapannya. "Lekas masuk!" titahnya pada gadis itu.


Raline tetap tidak mau.


Harlan memaksa gadis itu dengan menariknya.


Dengan cepat, pemuda itu memegang tangan Harlan. "Jangan kasar dengan wanita, Om!"


"Ini bukan urusanmu, pergilah!" Harlan berkata dingin.


"Aku akan pulang dengan Vino, Om."


"Raline, kau tanggung jawabku. Jangan sembarangan pulang dengan orang asing!" ucap Harlan tegas.


"Dia bukan orang asing, tapi dia kekasihku!"


Harlan dan Vino mengarahkan pandangannya kepada gadis itu.


"Kami sudah menjalin hubungan," ujar Raline berbohong.


"Baguslah, kau tidak perlu mengejarku lagi!" ucap Harlan.


Raline tersenyum kecut.


Harlan memasuki mobilnya dan membiarkan Raline pulang dengan kekasihnya.


Raline menatap mobil yang dikendarai Harlan perlahan meninggalkan kediaman temannya.


"Ayo aku antar pulang!" ajak Vino.


"Tidak, terima kasih," ucap Raline.


"Kamu mau pulang dengan siapa? Ini sudah larut malam, Raline."


"Aku akan naik ojek online atau taksi," ujarnya.


"Tidak, kamu tetap pulang denganku. Bukankah kita ini sepasang kekasih?"


"Aku minta maaf jika membawa namamu."


"Aku senang, jika kita memiliki hubungan," ujar Vino.

__ADS_1


Raline lalu berkata, "Lupakan tentang itu."


"Baiklah, aku akan melupakan tentang ucapanmu tadi. Sekarang biar aku antar pulang!"


Raline pun mengiyakan.


Vino memakaikan helm di kepala gadis itu.


Harlan tidak benar-benar meninggalkan Raline, dari jarak jauh dia memantau putri atasannya itu.


Ketika motor yang ditumpangi Raline pergi, Harlan memutar balik arah mobilnya. Perlahan mengikuti motor yang dikendarai Vino.


Harlan menelepon Rani jika Raline pulang diantar teman prianya.


"Kenapa kamu membiarkan dia pulang dengan pria itu?"


"Kata Raline, pemuda itu temannya."


"Tapi, saya benar-benar khawatir. Kamu tetap ikuti dia!"


"Baik, Bu."


"Ingat, jangan sampai sesuatu hal buruk menimpanya jika itu terjadi saya akan memecatmu!"


"Iya, Bu. Raline aman dalam pantauan saya."


Rani menutup teleponnya.


Harlan mengendarai mobilnya dengan sangat lambat, berkali-kali ia menguap karena mengantuk.


Mobil Harlan berhenti di ujung jalan namun ia dapat memperhatikan apa yang dilakukan Raline dan kekasihnya itu.


Raline membuka helmnya dibantu Vino.


Tampak jelas wajah cantik alami Raline membuat Vino tersenyum.


"Sama-sama, kalau begitu aku pamit. Selamat malam dan selamat tidur," ucap Vino, ia kemudian menyalakan mesin motornya dan berlalu.


Setelah motor yang dikendarai Vino pergi, Raline membalikkan badannya dan hendak membuka pintu gerbang. Tetapi tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan pandangannya gelap, ia pun terjatuh dan pingsan.


Harlan yang belum pergi, membulatkan matanya melihat Raline tergeletak. Bergegas turun lalu berlari ke arah gadis itu.


Harlan mengangkat kepala Raline dan ia letakkan di pahanya. Dengan cepat, ia mengambil ponselnya di saku celana lalu menghubungi Shireen.


Tak lama kemudian, Shireen menjawabnya.


"Halo, Mba. Raline pingsan di depan pagar," ucapnya.


Shireen tak berkata-kata apa-apa, ia melangkah cepat keluar dari kamarnya membuka pintu utama lalu berjalan ke arah pagar.


Harlan sudah menggendong tubuh Raline yang lemas.


"Bawa masuk ke dalam!" titah Shireen.


Harlan membawa Raline ke kamar.


Shireen meletakkan tas putrinya di atas nakas. "Kenapa dia bisa pingsan?"


"Saya juga tidak tahu, Mba. Tadi Raline pulang dengan temannya, saya tetap mengikutinya dari belakang," jelas Harlan.


"Sebelum pergi, Raline tadi sempat mengeluh sakit kepala. Makanya saya menelepon ibunya untuk menyuruh kamu menjemputnya," tutur Shireen.


Harlan hanya diam, memperhatikan wajah pucat gadis yang tergila-gila padanya.


"Terima kasih, ya. Kamu sudah membantu membawakan Raline ke kamar. Jika tadi kamu tak mengikutinya, entah bagaimana saya bisa membopong tubuhnya. Mas Alka, Varrel dan Sean tidak ada di rumah."


"Sama-sama, Mba. Raline sudah saya anggap seperti keponakan sendiri, pasti ada rasa khawatir jika dia pulang bersama pria lain," jelas Harlan. Ia kemudian pamit pulang.

__ADS_1


*******


Minggu pagi, Raline mendatangi kediaman Harlan karena hari ini ia tak sekolah. Dan pria itu sedang tidak bekerja.


Raline membawa sebuah makanan yang merupakan masakan sang mama.


Raline mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada sahutan, menghubungi ponsel Harlan juga sama.


Raline kembali mengetuk, pintu pun terbuka.


Harlan mengucek matanya ketika melihat Raline dihadapannya, dengan cepat ia menutup pintu kembali.


"Om, kenapa pintunya di tutup lagi?"


"Sebentar!" teriaknya dari dalam.


Harlan ke kamar mandi mencuci wajahnya dan menyikat giginya dengan cepat. Setelah itu, ia buru-buru membuka lemari dan mengambil kaos lalu memakainya tak lupa menggunakan celana panjang olahraga.


Harlan kembali membuka pintunya. "Kenapa kau kemari?"


Raline menyelonong masuk meski belum dipersilahkan. "Kenapa harus memakai baju?"


"Aku tidak mau matamu ternodai dengan bentuk tubuhku!"


"Bukankah itu sangat seksi?" Raline menggoda.


"Hei, anak kecil jangan membuat fitnah! Cepat katakan ada apa kau ke sini?"


"Aku hanya disuruh Mama Shireen untuk mengantarkan ini!" Raline menyodorkan kantong plastik berisi 2 wadah makanan.


Harlan meraihnya, "Terima kasih."


"Aku juga mau mengucapkan terima kasih kepada Om Harlan karena sudah menolongku saat pingsan."


"Ya, sama-sama."


"Kalau begitu, aku pamit pulang."


"Tunggu, Raline!"


Gadis itu menoleh lalu tersenyum dan berkata, "Om, ingin aku di sini menemani makan?"


"Bukan, aku hanya mau bilang padamu jika sakit jangan memaksakan diri hadir di acara pesta. Beruntung kau pingsan di depan pagar rumahmu dan aku ada di sana. Jika kamu pingsan di tempat lain, aku tidak bisa membayangkan......"


"Membayangkan apa?"


"Tidak ada, lupakan saja!"


"Om mau bilang jika di tempat lain, tubuhku akan dijamah pria tak bertanggung jawab," tebaknya.


"Ya, begitulah."


Raline lalu tersenyum, "Terima kasih sudah perhatian denganku, buat aku makin cinta." Menunjuk wajah imutnya.


"Hei, ingat kau punya kekasih. Jangan menggodaku lagi," ucap Harlan.


"Dia hanya kekasih bukan calon suami, tidak salah 'kan jika aku menunggu Mas Harlan membuka hati," goda Raline.


"Hei, panggil aku Om!"


"Iya, Om Harlan ku yang tampan."


"Sudah sana, pulanglah!"


"Aku mau pulang diantar Om Harlan," ucap Raline.


Harlan menghela nafas pasrah, ia terpaksa mengiyakan sebelum gadis itu melaporkannya kepada atasannya.

__ADS_1


__ADS_2