Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 19


__ADS_3

Selepas makan siang, Raline meminta izin kepada Shireen pergi ke kantor ibunya dia beralasan merindukan wanita yang telah melahirkannya.


Shireen pun mengizinkan putri sambungnya itu untuk pergi ke kantor ibu kandungnya, karena ada Harlan yang akan mengantarkan Raline pulang jika kemalaman.


Raline menaiki ojek ke kantor ibunya agar lebih cepat sampai di sana.


Begitu tiba di kantor, beberapa karyawan sudah pulang hanya terlihat 2 orang pria yang berada di tempat itu termasuk Harlan.


"Raline, kenapa kau ke sini?"


"Aku ingin bertemu dengan ibu," jawabnya.


"Ibumu baru sepuluh menit yang lalu pulang, apa kau sebelumnya sudah meneleponnya?"


"Belum."


"Kau ke sini naik apa?"


"Ojek."


"Biar aku antar pulang," Harlan menawarkan diri.


"Aku ke sini bukan ingin bertemu dengan ibu."


"Lalu, ada keperluan apa ke sini? Jangan katakan jika kau ingin bertemu denganku!"


"Aku memang ingin bertemu dan berbicara dengan Om."


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Bagaimana jika kita mengobrol di kafe?"


"Baiklah, kita ke tempat biasa kau dan teman-temanmu nongkrong."


Keduanya pergi ke kafe tujuan, begitu di sana Harlan memesan jus jeruk dan Raline air mineral.


"Waktuku cuma satu jam," ujar Harlan.


"Om ingin bertemu dengan Kak Tiara?"


"Ya, aku ingin menjemputnya kerja."


"Apa Om Harlan sangat mencintai Kak Tiara?"


Harlan sejenak diam dan berpikir.


"Apa sebegitu cintanya Om Harlan kepadanya?"


"Ya, aku sangat mencintainya sejak tujuh tahun lalu."


Deg...


Hati Raline tak kuat menahan rasa cemburunya jika pria yang ia sukai mencintai wanita lain sudah cukup lama. Kalah dengan dirinya yang mulai jatuh cinta dengan asisten ibunya sejak 4 tahun lalu.


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Apa Om tahu alasan dia bercerai?"


"Karena Bagas berselingkuh dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga."


"Apa Om pernah melihat Tiara babak belur?"


"Sekali."


"Pernah melihat Bagas berselingkuh?"


"Tidak."


"Lalu kenapa Om Harlan menuduh dan memfitnah Bagas seperti itu?"


"Kau mengajakku mengobrol hanya untuk menanyakan hal itu saja."


"Om berbohong agar aku tak mengusik lagi atau benar-benar tidak tahu?"


"Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu?"


"Kak Tiara tak pernah mencintai Om Harlan, apa sudah tahu?"


"Raline, aku tahu kau cemburu dengan kedekatan ku dan dia."


"Om, aku tidak cemburu. Ku hanya ingin memberitahu seperti apa kekasih Om Harlan itu!"


"Kau ingin mengatakan jika Tiara berbohong dan menyebar fitnah?"


"Tidak, Om. Seharusnya 'kan bisa diselidiki atau apalah," ujarnya.

__ADS_1


"Aku percaya padanya dan ku siap melamarnya!"


Raline yang mendengarnya hatinya semakin perih.


"Jangan pernah mengatakan hal buruk tentangnya!" Harlan menekankan kata-katanya.


Raline menarik nafasnya lalu ia, matanya mulai berkaca-kaca.


"Mari kita pulang!" ajak Harlan.


"Aku bisa pulang sendiri!" Raline beranjak dari kursinya, berjalan cepat keluar dari kafe.


Harlan masih terdiam di kursinya ketika melihat Raline sudah pergi, kemudian ia menyusul langkah gadis itu.


Diluar kafe, Harlan mengedarkan pandangannya tak tampak lagi keberadaan Raline. Ia lalu mengeluarkan ponselnya kemudian menghubunginya, tersambung namun tak ada jawaban.


Sementara itu, Raline duduk di taman tak jauh dari kafe wajah lurusnya ke depan dengan tatapan kosong.


"Kenapa aku masih berharap dia menjadi milikku? Kenapa aku begitu tergila-gila padanya? Kenapa aku tidak bisa menjauhinya?" pertanyaan itu terus menari di kepala dan hatinya.


Hampir 20 menit duduk melamun dan menenangkan diri, akhirnya ia pergi dari tempat itu.


Raline mengingat perkataan Mama Shireen jika ia tidak menyukaimu maka menjauhlah.


Menatap jam di ponselnya, Raline memutuskan pulang menggunakan ojek online lagi.


Begitu sampai di rumahnya, Harlan sedang mengobrol dengan ayahnya.


"Itu Raline!" tunjuk Alka dengan gerakan wajah.


Harlan pun mengarahkan pandangannya kepada Raline.


"Kamu tadi ke kantor ibu?" tanya Alka.


"Iya, Yah."


"Harlan kebetulan lewat jadi dia singgah, katanya kalian tadi tak bertemu," tutur Alka.


"Iya, Yah. Aku memang tidak bertemu dengan Om Harlan makanya ku pergi saja dari kantor ke rumah temanku. Maaf, tidak memberitahu kalian," ujar Raline.


Alka hanya tersenyum ketika mendengarkan penjelasan putrinya.


Ponsel Alka berdering.


"Ayah mau jawab telepon, kamu temani Harlan mengobrol, ya!" Alka gegas masuk ke dalam.


"Aku ingin memastikan jika kamu sudah pulang ke rumah."


Raline menarik sudut bibirnya. "Tak perlu mengkhawatirkan aku, ku juga sudah dewasa dan paham mana yang baik atau tidak."


"Baiklah, jika kamu sudah paham."


"Tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, silahkan Om Harlan pulang dan temui dia," Raline berkata dingin.


"Ya, aku akan pergi. Permisi!" Harlan pun berlalu.


Raline menatap punggung Harlan hingga menghilang dari pandangannya.


Alka keluar dari rumah ingin menghampiri Harlan. "Di mana dia? Apa sudah pulang?"


"Sudah, Yah."


"Cepat sekali, Ayah baru mengobrol dengannya sepuluh menit," ujar Alka.


"Tadi ada telepon dari temannya makanya dia buru-buru pergi," Raline berbohong.


"Oh."


Raline lantas memasuki rumahnya.


-


Tempat kerja Varrel....


"Bolehkah aku menumpang denganmu lagi?" Aurel meminta izin.


"Memangnya ke mana Pak Hasan?"


"Tidak bisa menjemputku," jawabnya.


"Pak Raka belum juga pulang?" Varrel bertanya lagi.


"Papa....."


"Pasti belum pulang, lampu ruangannya menyala dan asistennya Kak Roni juga masih ada di meja kerjanya," ujar Varrel matanya ke arah ruang kerja atasannya.

__ADS_1


Aurel tak berkata-kata lagi.


Varrel memakai jaket dan tas ransel miliknya, "Aku duluan, ya!" pamitnya.


Aurel mendengus kesal.


Aurel lalu melangkah ke ruangan papanya, wajahnya tampak murung dan kelihatan kesal.


"Kamu berdebat dengan Varrel?" tanya Raka.


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang membuatmu kesal?"


"Varrel menolak mengantarkan aku pulang," jawab Aurel.


Raka seketika tertawa.


"Papa kenapa tertawa?" tanya Aurel tak suka.


"Kamu 'kan bisa pulang dengan Papa."


"Tapi, aku mau pulang bersamanya," berkata dengan wajah manyun.


"Kamu menyukainya?"


Deg....


"Kenapa Papa bisa tahu?" batin Aurel.


"Papa setuju kamu dengannya," ujar Raka.


Wajah Aurel seketika berubah ceria.


"Kamu menyukainya, kan?"


"Iya, Pa."


Raka lantas tersenyum, "Apa yang bisa Papa lakukan agar dia membalas hatimu?"


"Papa akan membantuku mendapatkan hatinya?"


"Tentunya, karena Papa sangat menyukai perilakunya."


Aurel tersenyum senang lalu memeluk papanya, "Terima kasih, Pa."


"Jika menyangkut kebahagiaan kamu, apapun akan Papa lakukan."


-


Malam harinya, ponselnya Varrel berdering ketika dirinya hendak merebahkan tubuhnya di ranjang karena matanya juga mulai mengantuk dan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Varrel menjawab panggilan telepon yang tidak ia kenal. "Halo!"


"Ha...halo!" suara gugup dan terbata seseorang dari ujung telepon.


"Halo, ini siapa?"


"A...Aurel."


Varrel mengerutkan keningnya.


"Aku meminta nomormu dari Kak Roni, maaf."


"Tidak apa-apa, ada keperluan apa meneleponku?"


"Tidak ada."


"Lalu kenapa menghubungi ku?"


"Aku ingin mengobrol denganmu," jawab Aurel.


"Bagaimana besok saja kita mengobrolnya? Bukankah kita tiap hari bertemu dan bekerja sama?"


"Besok aku tidak ke kantor karena ada kelas sampai sore," jelas Aurel.


"Kalau begitu lusa saja karena hari ini ku sangat mengantuk," ujar Varrel.


"Oh, kalau begitu aku minta maaf. Ya sudah, lusa saja kita mengobrolnya."


"Ya."


"Maaf, sudah mengganggu waktu istirahatmu. Selamat malam!"


"Ya, selamat malam juga!"

__ADS_1


Aurel gegas mematikan ponselnya.


Varrel memandangi ponselnya lalu tertawa kecil, ia kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur.


__ADS_2