Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 25


__ADS_3

Sebuah tangan mendarat di kepala Harlan. "Dasar bodoh!" omel Mela. "Kenapa kamu tidak menerimanya?" lanjut mencecarnya.


"Karena aku tidak mencintainya, Bu." Memegang kepalanya yang di pukul sang ibu.


"Sekarang kamu menyesal, kan?" tanya Mela.


Harlan mengiyakan.


"Makanya kalau ada gadis yang menyukaimu, jangan menolaknya!" pekiknya.


"Iya, Bu. Aku salah," ungkap Harlan.


"Jangan memarahinya, Bu." Amri mencegah istrinya.


"Putramu ini sudah tahu ada berlian di depan mata tapi tak diambil," Mela kembali mengomel.


"Mungkin mereka belum berjodoh," ucap Amri.


"Tapi, lihatlah dia tak jadi melamar Tiara. Kemarin rela menunggu untuk wanita itu,eh malah hatinya sekarang ke wanita lain," Mela terus mengomel.


"Ayah tanya padamu, kamu ingin melamar siapa?"


"Raline, Yah."


"Cepat katakanlah sebelum janji pernikahan diucapkan," saran Amri.


"Bagaimana jika keluarganya menolak aku?"


"Ya, kamu harus terima!" sahut Mela.


"Belum juga usaha sudah menyerah," sindir Amri.


"Baiklah, Yah, Bu. Aku akan menyatakan perasaan kepadanya," Harlan tampak semangat.


-


-


Makan siang kali ini Harlan bersama Tiara, wanita itu tersenyum ketika dirinya duduk dihadapannya.


"Lan, aku ingin menikah," ujar Tiara.


"Aku senang mendengarnya," Harlan berkata dengan wajah datar.


"Lan, kamu tidak suka aku menikah?"


"Aku senang dan sangat bahagia," jawabnya.


"Sepertinya kamu memiliki masalah," tebak Tiara.


"Ya, aku memang memiliki masalah hati."


"Kamu lagi jatuh cinta?" Tiara menebak lagi.


"Ya."


"Siapa wanita yang berhasil merebut hatimu?"


"Raline.


Tiara tertawa kecil.


"Kamu ingin mengatakan jika aku pria bodoh," Harlan menuding.


"Ya, kamu memang bodoh!" Tiara berkata sambil tertawa.


"Sepertinya penderitaan aku kebahagiaan buatmu," Harlan lagi-lagi menuding.


"Bukan begitu, Lan. Aku pernah katakan padamu, kenapa tidak mengejar gadis itu. Tapi, kamu masih menungguku. Aku telah memiliki kekasih, kamu terus dengan sikap egomu."


"Harusnya aku bersikap seperti Raline, pergi daripada menungguku yang tak pernah membalas cinta."


"Memangnya Raline telah berpaling hati?"


"Ya, kemungkinan mereka sebentar lagi akan menikah."


"Dengan siapa?"


"Bagas."


Tiara menarik nafas mendengar nama mantan suaminya.

__ADS_1


"Kapan kemungkinan itu?"


"Aku tidak tahu."


"Itu baru kemungkinan, lebih baik kejar dan rebut," usul Tiara.


"Bagaimana jika Bagas marah?"


Tiara tertawa lagi lalu kemudian ia menjawab, "Tanyakan pada gadis itu dia memilih siapa kamu atau Bagas."


****


Seminggu berlalu....


Harlan menjemput ibu dan anak itu di bandara hanya mereka berdua yang terlihat karena Bagas lebih dahulu pulang karena urusan pekerjaan.


Harlan tidak sendirian menjemput kedua wanita itu, ada Alka dan istrinya serta putranya Sean.


Tatapan Harlan fokus kepada gadis cantik dengan rambut di ikat ke atas seperti buntut kuda.


Raline yang sadar Harlan memperhatikannya, gegas membuang wajahnya.


Harlan membawa koper miliknya Rani sementara Raline barang-barangnya diserahkan kepada Alka dan Sean.


"Kalian baru tiba dan belum sempat sarapan. Bagaimana kalau kita singgah di restoran terdekat?" usul Shireen.


"Boleh juga," ujar Rani.


Yang lainnya pun menyetujuinya kecuali Harlan dan Raline memilih diam.


Dua mobil melesat ke restoran tak jauh dari bandara.


"Bu, saya menunggu di mobil," ucap Harlan.


"Kamu tidak mau sarapan dengan kami?"


"Saya sudah sarapan, Bu."


"Ikut saja, sekedar minum teh," ajak Rani.


"Tidak, Bu."


"Tidak, Bu."


"Ikuti perintah saya!"


"Baik, Bu." Harlan pun keluar dari mobil.


Keenamnya duduk di meja yang sama, Harlan duduk tepat dihadapan Raline.


Rani dan putrinya bercerita mengenai pengalaman mereka di Paris dan keluarga yang lainnya mendengarkannya.


Alka juga menyinggung cincin berlian yang di-posting Raline.


"Aku diberi Ibu, Yah."


"Sudah lama aku ingin memberikan Raline cincin berlian tapi baru terwujud," jelas Rani sembari memandang putrinya.


"Aku pikir Raline dilamar Bagas di sana, makanya juga heran kenapa kalian tak mengabarkannya kepada kami," tutur Shireen.


"Jika ada kabar bahagia tentunya ku akan memberitahu kalian," ujar Rani.


"Ma, Yah, Bu, jikapun aku dilamar tentunya ku akan memberitahu kalian," Raline menimpali.


Alka dan Shireen mengangguk sambil tersenyum.


"Kebetulan kalian di sini juga aku ingin bicara sesuatu," ucap Rani.


"Bicara apa, Kak?" tanya Shireen.


"Aku ingin menikahkan Raline dengan Bagas, apa kalian setuju?"


Raline mendelikkan matanya lalu menoleh ke arah ibunya.


Harlan yang sedang menyeruput teh terbatuk.


Seluruh mata beralih ke arah pria berusia 35 tahun itu.


"Maaf!" Harlan memaksa tersenyum sembari memegang dadanya.


Alka, Rani dan Shireen melanjutkan obrolannya.

__ADS_1


"Apa kamu mau menikah dengan Bagas, Nak?" tanya Alka pada putrinya.


"Yah, aku memang ingin menikah tapi ku masih mau sekolah," terangnya.


"Jika mereka menikah Bagas juga bisa mengunjunginya, bukankah kita merasa tenang kalau ada suaminya yang bersamanya di sana," ungkap Rani.


"Benar juga," Alka seakan setuju.


"Bagaimana pendapatmu jika Kak Raline menikah?" tanya Rani pada putranya.


"Terserah Kak Raline, dia yang menjalankannya," jawab Sean.


"Kalau kamu, Lan?" Pandangan Rani pindah kepada Harlan.


"Sa...saya terserah Raline, Bu." Berkata dengan terbata.


"Bu...."


"Mereka pada setuju, Raline," Rani memotong pembicaraan putrinya.


"Rani, lebih baik nanti saja kita bicarakan lagi tentang pernikahan Raline biarkan dia berpikir dahulu," ujar Alka.


"Apa yang dikatakan Ayah benar, Bu." Timpal Raline.


"Kenapa kamu tidak mau? Apa ada pria lain yang mengusik pikiran dan hatimu?" tanya Rani.


"Bukan begitu, Bu."


"Sebelum Ibu dan Ayahmu meminta Bagas untuk melamarmu, apa kamu mencintai pria lain?" tanya Rani.


Harlan menundukkan kepalanya, sementara Raline terlihat bingung menjawabnya.


"Iya, Nak. Katakan saja, kami tidak ingin kamu menyesal," ucap Shireen.


Raline melirik Harlan, "Aku tidak menyukai pria lain selain Bagas, Bu." Berkata dengan mantap.


Rani dan Shireen saling pandang.


Alka tersenyum mendengar perkataan putrinya.


Sementara itu Harlan mendongakkan wajahnya menatap gadis yang dihadapannya. "Katakan kamu mencintaiku!" batinnya.


Tanpa sadar mata keduanya saling bertemu, dengan cepat Raline membuang wajahnya.


Raline meminta izin ke toilet, tak lama kemudian Harlan juga pamit.


Melangkah cepat, Harlan menunggu di depan toilet wanita.


Beberapa menit kemudian, Raline keluar dari toilet.


"Bisakah kita bicara berdua?"


"Tidak bisa, Om. Aku lagi sibuk," jawabnya. Raline melangkah pergi.


Harlan menarik lengan Raline hingga jarak keduanya sangat dekat. "Beri aku waktu berbicara!"


Raline menurunkan tangan Harlan dari lengannya. "Besok sore di kafe biasa."


"Baiklah," Harlan tersenyum.


Raline melangkah lebih dahulu ke meja makan, disusul Harlan 5 menit kemudian.


Shireen dan Rani saling pandang dan mengulum senyum.


"Kamu kenapa?" tanya Alka pada istrinya.


"Tidak apa-apa, Mas." Jawab Shireen.


"Lan, antar saya pulang. Saya sangat ngantuk," Rani menatap jam di ponselnya.


"Baik, Bu." Harlan memundurkan kursinya lalu bangkit.


"Saya duluan, ya!" pamitnya.


"Iya, Kak." Shireen menggerakkan dagunya pelan.


Rani lalu melangkah ke mobilnya, di dalam kendaraannya itu ia memperhatikan asistennya. "Kenapa senyum-senyum?" sindirnya.


"Tidak apa-apa, Bu."


"Tadi di restoran wajahmu murung, kenapa di mobil begitu ceria? Apa yang kamu bicarakan dengan putriku di toilet?"

__ADS_1


__ADS_2