Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 8


__ADS_3

Raline menggandeng tangan Harlan memasuki ruang teater, sambil menenteng makanan ringan dan minuman.


"Kita duduk di sini, Om!" tunjuk Raline ke sebuah bangku yang ada tulisan angka.


Harlan lantas duduk bersebelahan dengan Raline.


Tak lama kemudian film pun ditayangkan, Raline tampak begitu menikmati tontonan tersebut.


Harlan hanya diam dan sesekali memejamkan matanya, "Sungguh membosankan!" batinnya.


Terdengar suara isak tangis, membuat Harlan membuka matanya ia menoleh ke samping. "Hei, kenapa menangis?" bisiknya.


"Cerita sedih, Om." Jawab Raline pelan.


Harlan menepuk jidatnya.


Selesai menonton dan keluar dari ruang teater, Raline tak hentinya menyeka air matanya.


"Astaga, bisa tidak jangan menangis terus. Malu dilihat orang-orang," Harlan berkata pelan.


"Om tadi apa tidak nonton? Ceritanya sangat sedih," Raline mengelap ingusnya.


"Aku tadi tidur," jawab Harlan.


"Pantas saja!"


"Ya sudah, ayo kita pulang!" Harlan berjalan lebih dahulu.


Raline mengejar langkah pria yang ada dihadapannya, "Om, aku lapar!"


Harlan berhenti lalu menoleh ke belakang. "Uangku habis!"


"Pelit!"


Harlan menghela nafasnya, "Makan bakso dipinggir jalan saja!"


"Aku tidak mau!"


"Aku belum gajian dari ibumu!"


"Nanti aku bilang pada ibu untuk mentransfer uang pada Om Harlan," ujar Raline.


"Baiklah, kamu mau makan di mana?"


"Di sana saja!" Raline menunjuk ke arah restoran siap saji khas negeri Amerika.


Harlan mengiyakan.


Keduanya berjalan kearah restoran itu beriringan.


"Raline!" panggil seseorang.


Gadis itu menoleh lalu tersenyum, "Hai!" sapanya kemudian berpelukan.


"Apa kabar?"


"Aku baik."


"Dia siapa?"


"Ini kekasihku!" Raline memeluk lengan Harlan.


"Oh," ucap wanita itu singkat, lalu berpamitan.


Setelah teman Raline pergi, Harlan lalu bertanya, "Kenapa kau mengaku kalau kita ini berpacaran?"


"Om saja tadi tidak membantah," jawabnya santai.


"Aku tidak membantah karena tak mau kau malu!"


"Kalau begitu terima kasih," Raline tersenyum.


"Ya," ketusnya.


-


Jam 5 sore Raline tiba di rumah, "Om tidak mau mampir?"


"Tidak."


"Om tak mau berlama-lama denganku?"


Harlan menghela nafas, "Tidak!"


"Om tak mau mengatakan sesuatu?"


"Tidak, Raline," kesalnya.


"Jangan marah-marah, Om. Nanti ketampanannya hilang," ledek Raline.


"Biarin aja, kamu pasti akan berhenti menggangguku!"


"Siapa yang bilang aku berhenti menggoda Om?"


"Aku."


"Aku tidak akan berhenti sebelum Om Harlan menikah."


"Astaga, Raline. Hidupku sepertinya tak pernah tenang jika kau terus mengganggu," ujar Harlan.


Raline tertawa.

__ADS_1


"Cepat turun, aku sudah capek!"


"Mau aku pijit?"


"Kau mau aku dihajar ayah, kakak dan adikmu?"


"Makanya kita menikah, biar mereka tak menghajar Om Harlan."


"Lebih baik cepat turun, bisa stress lama-lama aku meladeni kau bicara!"


"Mas, aku mencintaimu!"


"Raline.... keluarlah!" Harlan mengacak rambutnya.


Raline keluar dari mobil sambil tertawa, entah kenapa dirinya begitu senang mengganggu pria itu meskipun kata-kata menyakitkan terdengar olehnya.


Harlan menyalakan mesin mobilnya dan melesat ke rumahnya.


*******


Pagi ini Raline menikmati sarapan bersama keluarganya tampak juga Varrel ditengah-tengah mereka.


"Varrel, kapan kamu mulai bekerja?" tanya Alka pada putra pertamanya.


"Senin depan, Yah."


"Kalau kamu kapan magang?" Tatapannya kini ke arah Raline.


"Bulan depan, Yah."


"Sean, kapan ujian?" Alka lanjut bertanya kepada putra ketiganya.


"Senin juga, Yah."


"Alshe?"


"Sama seperti Kak Sean, Yah."


"Belajar yang rajin," nasehat Alka kepada kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.


"Aku tidak ditanya, Yah?" Aksa bocah berusia 8 tahun itu ikut bicara.


"Astaga, Ayah lupa jika ada kamu. Maaf, ya!" ucap Alka tersenyum.


"Ayah selalu begitu, aku selalu dinomorduakan!" protesnya.


"Kamu anak nomor lima Ayah bukan nomor dua," ujar Alka.


"Ayah selalu saja menggodaku," Aska tampak cemberut.


Semua yang ada di meja makan tertawa.


"Baiklah, Ayah akan bertanya padamu. Kamu kapan main bolanya?"


"Lha, kamu sering main bola sampai lupa mengerjakan tugas sekolah. Makanya Ayah tanya," ujar Alka.


"Aku tetap tidak lupa belajar, Yah."


"Iya, Ayah percaya padamu," Alka tersenyum.


"Kalian anak-anak Ayah jadilah orang yang sukses dan selalu membantu satu sama lain. Jika nanti sudah berumah tangga, Ayah mau kalian tetap menjaga hubungan persaudaraan," harap Alka.


"Iya, Yah." Kelima anak Alka menjawabnya serentak.


"Jangan membuat malu nama keluarga," Shireen ikut memberikan nasehat.


"Iya, Ma!" Ucap kelimanya serempak.


"Varrel, kamu anak tertua kami jadi kamu harus membimbing dan menjaga adik-adikmu," ucap Alka.


"Iya, Yah. Aku akan menyayangi mereka seperti kalian menjaga kami," ujar Varrel.


"Kami menyayangi kalian!" Raline memeluk Shireen.


Dan Alshe mendekap Alka.


Shireen dan Alka tersenyum keduanya memberikan kecupan di rambut kedua anak gadisnya.


"Mulai deh nangis lagi," celetuk Sean.


"Anak ini suka sekali menyindir," ujar Varrel.


"Kak Raline dan Mama Shireen kan suka begitu, selalu saja menangis padahal hanya nonton drama," ungkap Sean.


"Namanya juga perempuan pasti mudah menangis, ntar Kak Raline doakan kamu dapat kekasih yang hobi nangis," celetuk Raline.


"Semoga saja tidak, aku tak bisa bayangkan jika itu perempuan selalu menangis," ujar Sean.


"Ya, banyak-banyak berdoalah semoga sumpahku tak terjadi," ledek Raline.


"Sudah, sudah, jangan mengobrol saja. Selesaikan sarapan kalian," Alka menengahkan anak-anaknya.


Kelima anak Alka melanjutkan sarapannya.


Selesai sarapan Alka mengantarkan Alshe, Aksa dan Sean ke sekolah menggunakan mobil sementara Varrel mengantarkan Raline ke sekolah tinggi jurusan fashion design mengendarai sepeda motor.


Raline tiba di sekolahnya pukul 9 pagi, ia membuka helmnya lalu ia serahkan kepada kakaknya.


"Nanti sore pulang dengan siapa?"


"Tidak tahu, Kak."

__ADS_1


"Kenapa tidak tahu?"


"Aku malas pulang dijemput Om Harlan."


"Kenapa? Biasanya kamu senang-senang saja dijemputnya," ujar Varrel.


"Aku mau menyerah saja, Kak."


"Menyerah?"


"Ya, sepertinya Om Harlan sulit ditaklukkan atau mungkin dia memang bukan jodohku!"


"Bertahun-tahun menyukainya akhirnya menyerah juga," singgung Varrel.


"Lelah juga ternyata, Kak."


Varrel tertawa mendengarnya.


"Tapi, aku bohong, Kak!" ucap Raline tergelak.


"Kamu ini selalu saja membohongiku," ujar Varrel geleng-geleng kepala.


Raline tersenyum nyengir.


"Sudah sana masuk!"


"Baik, Kak!" Raline melambaikan tangannya lalu berjalan ke ruang kelasnya.


Varrel pun meninggalkan sekolahnya Raline, di tengah perjalanan menuju rumah sebuah mobil tiba-tiba memotong jalannya. Varrel pun menjadi gugup dan jatuh.


Mobil yang memotong jalannya itu berhenti, seorang pria sebaya dengan Alka turun. Berlari kecil menghampirinya.


Varrel bangkit dibantu pengendara lain yang berhenti dan beberapa warga yang berada disekitar jalan tersebut.


"Terima kasih," ucap Varrel kepada orang-orang yang membantunya.


"Maafkan saya, Nak. Tadi buru-buru, apa kita perlu ke klinik?" tanya pria itu.


"Tidak usah, Pak. Saya baik-baik saja," jawab Varrel menahan perih sikunya.


"Pak Hasan!" teriak seorang gadis yang kepalanya menyembul dari jendela mobil.


"Nak, sekali lagi saya minta maaf. Ini ada sedikit uang untuk biaya perobatan," pria itu menyelipkan uang di saku kemeja Varrel.


"Pak, tidak perlu!"


Pria paruh baya itu berlari ke arah mobil dan gegas pergi.


"Aku sudah terlambat, Pak."


"Tapi, pemuda tadi terluka, Non."


"Tinggal kasih uang, semuanya selesai!"


"Saya juga sudah kasih, Non. Tapi, juga ingin memastikan kalau dia baik-baik saja."


"Makanya lain kali hati-hati," omelnya.


"Iya, Non." Pria itu menggeleng kepalanya melihat sikap putri dari majikannya itu, padahal gadis itu yang memintanya untuk cepat-cepat ke kampus karena sudah terlambat.


Varrel mengambil uang di saku kemejanya itu, tampak 5 lembar uang berwarna biru. Lalu, memasukkannya kembali ke dalam kantong celananya.


Untungnya motor tidak mengalami kerusakan cukup parah, sehingga masih bisa ia kendarai sampai rumah.


Sesampainya di rumah, Shireen yang sedang merapikan bunga-bunga kesayangannya gegas mendekati putranya.


"Apa yang terjadi, Varrel?"


"Tadi aku jatuh, Ma."


"Mari Mama obati!"


Keduanya masuk ke rumah, Shireen mengambil kotak P3K. Ia mulai mengobati putranya.


"Kenapa bisa jatuh?"


"Tadi ada mobil yang menyalip jalanku, Ma."


"Astaga."


"Sopir mobil itu juga sudah meminta maaf dan dia memberikan uang untuk biaya perobatan," Varrel menunjukkan uang dari pria itu.


"Syukurlah, jika dia mau tanggung jawab."


"Aku ingin membalikkan uang ini, Ma."


"Kenapa dibalikin?"


"Sepertinya bapak itu bekerja sebagai sopir."


"Kamu takut bapak sopir itu tak bisa membiayai keluarganya karena membantu biaya pengobatanmu?"


"Iya, Ma."


"Kamu ingin cari bapak itu di mana?"


"Kenapa aku lupa meminta nomor teleponnya, ya."


"Simpan saja uang itu, jika suatu waktu bertemu dengannya baru kamu kembalikan." Saran Shireen.


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Motor bawa ke bengkel Ayah saja," ujar Shireen.


"Iya, Ma. Nanti minta Sean menemaniku mengantarkannya ke bengkel."


__ADS_2