Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 9


__ADS_3

Raline berdiri di depan pintu pagar kampusnya sembari melihat ke kanan dan kiri. Sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Seorang pria membuka kaca helm di hadapannya.


"Mas Harlan!"


"Panggil Om!" menekankan kata-katanya.


Raline menyengir.


"Cepat naik!" titahnya.


"Pakaikan helmnya!" pinta Raline dengan manja.


Harlan pun terpaksa memakaikan helm gadis itu.


"Terima kasih, Om." Raline tersenyum manis.


"Cepatlah naik!"


"Iya, Om!" Raline pun duduk di belakang.


Harlan menyalakan mesin motor, perlahan meninggalkan kampusnya Raline.


"Kenapa Om yang menjemputku?"


"Kakakmu tadi yang memintanya!"


"Memangnya Kak Varrel ke mana?"


"Tadi katanya dia kecelakaan!"


"Dia tidak apa-apa, kan? Tak terluka, kan?" cecarnya.


"Katanya tidak," jawab Harlan.


"Pantas saja Om Harlan yang jemput, padahal tadi aku bilang dengannya tak mau dijemput sama Om."


"Syukurlah, kau tidak mau aku antar jemput lagi!"


"Kenapa bersyukur?"


"Hidupku tenang dan tak mendengar lagi mulut bawelmu itu!"


"Nanti Om akan rindu padaku!"


"Tidak akan!"


"Awas saja nanti nanyain kabarku," ujar Raline.

__ADS_1


"Takkan aku tanya," janji Harlan.


Raline mengerucutkan bibirnya. Harlan yang meliriknya dari kaca spion hanya mengulum senyum.


Sesampainya di rumah gadis itu, Harlan gegas berlalu.


Raline memasuki rumah kedua orang tuanya. "Kak Varrel!" panggilnya.


"Ada apa, Raline?"


"Katanya Kakak kecelakaan?"


"Iya."


"Siapa yang menabraknya?"


"Seorang bapak-bapak sebaya dengan ayah."


"Apa dia memberikan biaya perobatan?"


"Ya, tapi Kakak mau balikan."


"Kenapa dibalikin?"


"Kakak kasihan, dia hanya seorang sopir. Pasti bapak itu terburu-buru makanya menyalip," jawab Varrel.


Varrel mengacak rambut adiknya.


"Kakakmu itu jika berurusan dengan perasaan orang lain pasti begitu, dia tak tegaan," sahut Shireen yang datang menghampiri kedua buah hatinya di ruang televisi.


"Aku hanya iba saja, Ma."


"Tapi aku suka Kak Varrel begitu," ujar Raline.


"Mama senang jika memiliki anak-anak yang baik dan hormat dengan orang tua," sambung Shireen.


"Aku juga bahagia memiliki Mama!" Raline memeluk ibu tirinya.


-


-


Malam harinya...


Alka dan keluarganya menikmati makan malam bersama Nenek Lilis, biasanya wanita lansia itu akan datang berkunjung seminggu dua kali walaupun rumah dirinya dan putranya itu tak jauh namun kondisi tubuhnya yang tak kuat berjalan mengharuskannya banyak istirahat di tempat tidur.


Namun, Lilis tak merasa kecewa dengan kondisinya. Cucu-cucunya bergantian datang mengunjunginya setiap hari walaupun ia tinggal bersama Lisa.

__ADS_1


"Nenek, mau makan apa?" Tanya Alshe.


"Nenek pakai tahu dan sayur sop saja," jawab Lilis.


Alshe dengan telaten mengambilnya, lalu menyajikannya dihadapan neneknya.


"Terima kasih, cantik!"


"Sama-sama, Nek." Alshe tersenyum.


"Raline, katanya kamu ikut lomba?" tanya Alka.


"Iya, Yah. Nanti finalnya di Jogja," jawab Raline.


"Itu kampung Opa Arman," sahut Aksa.


"Memang benar," ujar Raline.


"Aku mau ikut ke sana!" pinta Aksa.


"Nanti kita akan ke sana," janji Alka.


"Asyik, kita ke Jogja!" Alshe begitu semangat.


"Tapi kalau aku lolos final."


"Semoga kamu lolos, Nak." Doa Lilis.


"Semoga, Nek." Raline tersenyum.


"Tapi, Kakak tak bisa ikut."


"Kenapa?" tanya Raline.


"Kakak baru mulai bekerja tidak mungkin libur," jawab Varrel.


"Memangnya kapan finalnya?" tanya Shireen.


"Sebulan lagi, Ma."


"Semoga saja bertepatan dengan libur sekolah biar kami bisa ikut," sahut Sean.


"Sepertinya memang bertepatan libur sekolah," ujar Shireen.


"Hore, kita pulang kampung!" Aksa kesenangan.


Seluruh keluarga tertawa melihat tingkah Aksa.

__ADS_1


__ADS_2