
Siang harinya....
Rani menelpon Harlan untuk datang ke ruangan kerjanya, tak lama asistennya itu datang.
"Saya dan Raline ingin makan siang bersama, apa kamu mau ikut?"
"Tidak, Bu."
"Kenapa?"
"Saya ada janji dengan seseorang," jawab Harlan.
"Oh, saya hampir lupa jika kamu memiliki kekasih."
"Iya, Bu."
"Bagaimana jika kamu dan kekasihmu makan siang bersamaku?"
Harlan diam dan berpikir.
"Kamu tidak mau, ya?"
"Bukan begitu, Bu."
"Saya kenal dengan Tiara ketika ia masih menjadi sekretarisnya Pak Robby. Saya ingin mengobrol dengannya. Tapi, kalau kamu tidak mau karena ada Raline. Tak masalah juga."
"Bu Rani seperti tidak pernah muda, saya ingin leluasa mengobrol dengan dia."
"Iya, saya mengerti. Kekasih Raline mau saya ajak makan siang bersama bahkan bukan dengan saya saja."
"Bagas 'kan bakal jadi calon menantunya ibu," ujar Harlan.
"Berapa lama kamu bekerja dengan saya?"
"Sebelas tahun, Bu."
"Apa orang tuamu mengenal saya?"
"Iya, Bu."
"Diantara para karyawan, siapa yang paling lama bekerja di sini?"
"Saya, Bu."
"Lalu hubungan kamu dengan anak-anak saya, bagaimana?"
"Seperti keponakan dan adik-adik sendiri."
"Kenapa kamu tidak mengenalkan kekasihmu kepada saya yang juga akan menjadi calon menantu saya?"
Lagi-lagi Harlan tak mampu menjawab.
"Saya tidak akan memaksamu, kamu boleh kembali ke ruanganmu," ujar Rani.
Sepuluh menit selepas Harlan keluar dari ruangannya, Rani bergegas ke parkiran kantornya.
Rani tak menegur Harlan yang juga berada di parkiran.
__ADS_1
Rani akan makan siang bersama ketiga anak kandungnya dan kekasihnya Raline.
Sesampainya di restoran, ibu dan anak saling berpelukan.
"Ibu tadi ingin mengajak Harlan dan kekasihnya makan siang bersama kita, tapi dia menolaknya," tutur Rani.
"Baguslah dia menolaknya," ketus Varrel.
Orang-orang yang ada di meja makan bersama Varrel mengarahkan pandangannya ke arahnya.
Varrel menatap ke arah keempatnya. "Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
"Dari nada bicara kamu, sepertinya tidak menyukai Harlan," celetuk Rani.
"Hanya perasaan Ibu saja," ujar Varrel.
"Mungkin," Rani menyetujuinya.
"Jangan menceritakan dia, lebih baik kita pesan makanan dan membicarakan yang lainnya," sambung Varrel berujar.
"Ya, Nak." Rani tersenyum tipis.
Lima belas menit kemudian, pesanan yang mereka pesan tiba. Kelimanya menikmati hidangan dengan sesekali berbicara.
"Sean, kamu pulang dengan Kak Raline dan Kak Bagas, ya!" perintah Rani dengan lembut.
"Ya, Bu."
"Ibu ingin bicara dengan Kak Varrel," ujar Rani.
Sean mengiyakan lagi.
Varrel melihat arlojinya, "Masih, Bu."
Selesai makan siang, Sean, Raline dan kekasihnya pamit pulang.
Kini tinggal Varrel dan ibunya.
"Ada yang ingin Ibu tanyakan padamu, Rel."
"Tanya apa, Bu?"
"Apa Raline sering bercerita kepadamu?"
"Kami sering mengobrol bukan hanya dengan Raline tapi adikku yang lainnya juga."
"Apa Raline pernah cerita tentang hatinya?"
"Hati?" Varrel menautkan alisnya.
"Ya, mungkin dia pernah cerita siapa pria yang disukainya."
"Pernah, Bu."
"Siapa dia?"
"Ibu jangan memarahi Raline atau dia."
__ADS_1
"Ibu janji!"
"Dia Om Harlan."
"Sejak kapan dia selalu bercerita tentang Harlan?"
"Ketika SMA."
Rani menarik nafasnya.
"Om Harlan tidak pernah menyukai Raline dan Kak Bagas hanya pelarian hatinya. Aku berharap pria yang bersama Raline saat ini mampu membuat adikku melupakannya."
"Ya, semoga saja."
-
Rani tiba lebih dahulu di kantor daripada Harlan sedangkan karyawan lainnya juga telah berada di meja kerjanya masing-masing.
"Nanti suruh Harlan ke ruangan saya!" Rani memberikan perintah kepada bawahannya.
"Baik, Bu."
Rani mengerjakan pekerjaannya, 20 menit kemudian pintunya diketuk.
"Silahkan masuk!"
Pintu terbuka, "Siang, Bu!" sapanya.
"Duduk!" titahnya.
Harlan mengikuti perintah atasannya.
"Apa kamu tidak melihat jam di ponsel atau di tanganmu?" Rani menyindir.
Harlan sedikit menunduk kepalanya.
"Waktu makan siang kamu lewat dua puluh menit, mau gaji dipotong?"
"Tidak, Bu."
"Kamu memang lama bekerja di sini, tapi jangan sesuka hati tak mengikuti peraturan kantor," Rani berkata tanpa menatap.
"Maaf, Bu."
"Apa kamu lebih memilih kekasihmu itu daripada pekerjaan?" tanyanya dengan nada dingin.
Harlan terdiam.
"Professional, Lan!"
"Sekali lagi minta maaf, Bu."
"Ini yang peringatan terakhir untukmu!" ancam Rani.
"Iya, Bu. Saya janji takkan mengulanginya lagi."
"Minggu depan aku dan Raline akan ke Paris mencari sekolah untuknya. Sekalian kami liburan, ku harap kamu tidak melanggar kebebasan yang saya beri."
__ADS_1
"Saya akan menjalankan tugas dengan baik, Bu." Janji Harlan.
"Aku ingin menikahkan Raline dengan Bagas. Apa kamu setuju?"