
Lagi-lagi Harlan dibuat tak berkutik dengan pertanyaan yang dilontarkan Rani kepadanya.
"Harlan!"
"Ya, Bu!"
"Apa yang kamu bicarakan dengan Raline?"
"Kami tidak bicara, Bu."
"Syukurlah, saya tidak ingin kamu mempengaruhinya. Saya tak mau Raline berubah pikiran karena mendengar ucapanmu. Saya dan Shireen sangat setuju jika dia menikah dengan Bagas."
"Kenapa Ibu ingin sekali menikahkan Raline dengan Bagas?"
"Karena saya lihat Bagas lebih memperjuangkan cintanya daripada kamu!"
Harlan tersudutkan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Tiara?"
"Dia akan segera menikah, Bu."
"Dengan kamu?"
"Tidak, Bu."
"Maksudnya kamu ditinggalkan dia untuk kedua kalinya?"
"Ya, begitulah kira-kira, Bu."
"Lan, harusnya kamu memilih wanita yang mencintaimu bukan seperti Tiara. Saya turut bersedih, saya yakin pasti perasaan kamu sangat sakit," ucap Rani.
"Saya senang Tiara akan menikah, tapi lebih sakit ketika melihat wanita yang mencintai saya nikah dengan orang lain."
"Siapa wanita yang mencintaimu?"
Harlan tak bisa menjawabnya.
"Kamu tidak mau memberitahu saya?"
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa memberitahu."
"Baiklah, tak apa-apa."
"Semoga kamu berjodoh dengannya, jika wanita itu belum menikah lebih baik dikejar."
"Ya, Bu."
****
Keesokan harinya, Raline dan Harlan bertemu di kafe yang menjadi langganan keduanya.
Memilih lantai 2 di sudut ruangan, keduanya saling berhadapan.
"Aku sudah memesan minuman favorit kamu," ucap Harlan.
Raline memandangi gelas berisi es coklat kesukaannya, lalu wajahnya ia arahkan kepada pria yang ada di depannya. "Apa yang ingin Om bicarakan? Jangan berbasa-basi lagi!" berkata dengan dingin.
Harlan kelihatan gugup, ia meraih tisu mengelap keringat yang menetes di dahinya.
"Bisakah katakan sekarang?"
"Raline, a... aku...."
Suara ponsel Raline berdering membuat Harlan berhenti berucap, gadis itu pun menjawab panggilan telepon.
"Aku lagi di kafe dengan Om Harlan, Ma."
Raline lalu menutup teleponnya.
Harlan hanya memandangi putri atasannya itu dengan grogi.
"Lanjutkan lagi, Om!" pintanya.
"Raline..."
"Ya."
"Apa kamu......"
"Lama sekali, Om. Cepat mau nanya apa?" desaknya.
"Apa kamu masih menyimpan perasaan itu?" tanya Harlan.
__ADS_1
"Perasaan yang mana?" pura-pura tidak tahu.
"Apa kamu masih mencintaiku?"
Raline tampak terkejut dengan cepat ia menjawabnya, "Tidak!"
"Apa aku tidak memiliki kesempatan lagi?" tanya Harlan terbata.
"Kesempatan apa, Om? Menyakiti perasaan aku?" singgungnya.
"Bu...bukan begitu. Aku mencintaimu, Raline."
Raline menahan nafasnya, jantungnya terasa berhenti, pria yang dikejarnya mengatakan cinta kepadanya.
"Raline, aku minta maaf telah menyia-nyiakan perasaanmu. Maukah kamu menerimaku?"
Raline yang masih syok belum bisa berkata apa-apa.
"Aku tahu salah dan terlambat, tapi ku harus mengatakan semuanya," terang Harlan.
Raline mencoba mengatur nafasnya agar tetap tenang. Setelah dirasa nyaman, ia lalu bertanya, "Om mengatakan cinta bukan karena Tiara menolak menikah 'kan?"
"Bukan, Raline."
"Aku tidak bisa menerima Om!"
"Kenapa?"
"Om datang padaku ketika hati itu tidak diterima Tiara. Makanya, aku menjadi pilihan terakhir," jawab Raline.
"Bukan begitu, Raline. Ku sadar jika ku memang mencintaimu," Harlan berkata dengan sepenuh hati.
Raline yang mendengarnya hatinya berbunga-bunga, perjuangan cintanya berbalas tapi ia tak semudah itu menerimanya apalagi dirinya pernah dijatuhkan oleh kata-kata Harlan.
"Raline, aku mohon. Jangan terima pernikahan itu!"
Raline menarik sudut bibirnya. "Aku terlanjur berjanji kepada Bagas, Om!"
"Kamu bisa batalkan!"
"Tidak bisalah, memang Om Harlan seenak hati menarik ulur hati orang lain!"
"Aku akan berbicara kepada Bagas," ucap Harlan.
"Om, ingin merusak kebahagiaan orang lain?"
"Om bicara apa, sih?"
"Raline, aku serius."
Raline tertawa. "Om pikir kemarin aku bercanda?"
"Aku minta maaf, Raline."
Raline menyeruput es coklatnya hingga tersisa seperempat gelas. "Aku mau pulang!" beranjak berdiri.
"Biar ku antar!" tawar Harlan.
"Kebetulan sekali, aku juga lagi menghemat," celetuk Raline.
Harlan bangkit dari tempat duduknya, "Aku pikir kamu tidak bisa menabung."
"Aku mau ke Paris tentunya harus hemat, tak mau menyusahkan dan merepotkan ayah dan ibu apalagi kakek," ujar Raline sembari berjalan ke parkiran kafe.
Harlan membukakan pintu untuk Raline, lalu berjalan ke bagian kemudi.
Memasang sabuk pengaman, "Kenapa tiba-tiba Om Harlan berubah hatinya?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Harlan sambil menghidupkan mesin mobil.
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam.
Begitu tiba di rumah Shireen dan Rani sedang duduk di teras rumah sambil menikmati teh.
Mobil Harlan berhenti tepat di depan pagar rumah Alka. "Kenapa ibumu di sini?"
"Memangnya kenapa kalau ibu main ke rumah Mama Shireen? Anak-anaknya 'kan masih tinggal dengan ayah dan mama."
"Gawat, bisa-bisa besok aku dicecar lagi," batinnya.
"Om, takut dengan ibu?" tanya Raline sebelum turun.
"Bukan."
__ADS_1
"Ayo sapa!" titah Raline.
Harlan keluar dari mobil, ia menghampiri dua wanita beda usia itu dan menyapanya.
"Kalian darimana?" tanya Rani.
"Dari kafe, Bu." Jawab Raline.
"Kalian bertemu?" tanya Rani lagi.
"Iya, Bu."
"Kenapa bisa? Harusnya kalian jaga jarak, ingat dengan pasangan masing-masing." Shireen ikut mencecar.
"Harlan tidak jadi dengan Tiara, Ren." Celetuk Rani.
"Benarkah?" Shireen begitu semangat.
"Iya, kasihan dia di tinggal wanita yang sama tuk kedua kalinya," singgung Rani.
"Sudah tahu Tiara tak menyukainya masih saja berharap," Shireen menyindir.
"Ma, Bu, kenapa memojokkan Om Harlan, sih?" protes Raline.
"Kenapa membelanya Raline?" tanya Rani.
"Bu, kasihan 'kan Om Harlan lagi patah hati malah di sindir. Kalau jadi aku, mau dibawa kemana ini wajah," Raline melirik asisten ibunya.
"Dia lagi, kenapa ikutan menyindir ku juga?" batinnya kesal.
"Jadi, kamu sudah bertemu dengan wanita yang menyukaimu?" tanya Rani pada Harlan.
"Sudah, Bu."
"Apa dia menerimamu?" tanya Rani lagi.
Harlan melirik Raline, "Belum, Bu."
"Huh, sungguh kasihan dirimu!" Rani menunjukkan wajah meledek.
"Aku akan membuktikan kepadanya, jika ku pantas untuknya," ujar Harlan melirik Raline.
Shireen yang mendengarnya mengulum senyum.
"Itu namanya baru pria sejati, saya akan tunggu pembuktian darimu!" ucap Rani.
"Iya, Bu."
"Kalau begitu pulanglah," kata Rani.
"Ya, Bu. Saya akan pulang," ucap Harlan. "Permisi!" pamitnya dan berlalu.
Rani dan Shireen tertawa ketika mobil Harlan menghilang.
Raline mengernyitkan dahinya. "Mama dan Ibu kenapa tertawa?"
"Harlan mengatakan tentang cintanya sangat begitu lucu," jawab Rani.
"Iya, Lin. Harlan akhirnya mengejarmu, kan?" ceplos Shireen. Dengan cepat ia menutup mulutnya. "Upss, maaf!" lanjutnya berkata sembari tersenyum nyengir.
"Jadi, Harlan menyukai Raline?" tanya Rani.
"Mama..." Raline ingin protes.
"Ibu sudah mengetahuinya, Lin."
Raline menatap sang mama, "Kenapa Mama memberitahu Ibu?" duduk di sebelah Rani.
"Raline, ibu kandungmu harus tahu tentang putrinya," terang Shireen.
"Kamu tidak suka kalau Ibu tahu siapa pria yang mengisi hatimu?" tanya Rani.
"Bukan begitu, Bu. Aku tidak mau jika Ibu memarahi bahkan memecat Om Harlan," jawab Raline.
"Ibu mengenal Harlan lebih dari sepuluh tahun, dia pria pekerja keras dan baik. Selama menjadi karyawan, tak pernah melihat atau mengenalkan wanitanya. Ibu hanya tahu jika dia menyukai Tiara." Jelas Rani.
"Ibu setuju aku dengannya?" tanya Raline.
"Tentunya," Rani tersenyum.
"Ibu tidak mempermasalahkan usianya dan aku yang sangat jauh?" tanya Raline.
"Mama dan ayahmu jarak usia kami sebelas tahun, tentunya itu bukan masalah," sahut Shireen.
__ADS_1
Raline tersenyum senang.
"Tapi, bagaimana dengan Bagas?" tanya Shireen.