
Varrel masih diam ketika Harlan melemparkan pertanyaan kepadanya.
"Sebelum gadis itu direbut pria lain, lebih baik kamu katakan jika menyukainya," saran Harlan.
"Aku masih bingung, Mas."
"Bingung kenapa?"
"Dia gadis manja dan sedikit keras kepala," jelas Varrel.
"Kalian pertama kali kenal di mana?"
"Di kantor, dia menjadi asisten ku."
"Kamu punya asisten?"
"Aku juga bingung, entah kenapa karyawan biasa dan masih baru sudah diberikan asisten. Asal Mas Harlan tahu, jika dia itu sama sekali tidak memiliki keahlian di bidang desain bangunan. Dia mengambil kuliah jurusan sama seperti Raline."
"Berarti dia sengaja ingin dekat denganmu. Memangnya kerjanya apa selama jadi asistenmu?"
"Aku menyuruhnya buat kopi atau teh, kadang ku suruh fotokopi bahkan ku pernah meminta dia untuk menyapu ruangan kerja."
"Dia tak membantah?"
"Tidak, Mas."
"Jika kamu memang menyukainya, cepatlah menjawabnya."
"Ku belum yakin, Mas."
"Siap-siap dia akan pergi darimu!"
"Mas, kenapa begitu?"
"Belajarlah dari pengalaman aku, Rel."
"Bagaimana kalau mama dan ibu tidak setuju dengannya?"
"Kamu belum mencoba mengenalkannya," ujar Harlan.
"Jadi, aku harus menerimanya?"
"Terserah kamu," jawab Harlan.
****
Beberapa hari kemudian...
Hari bahagia bagi Harlan dan Raline terlaksana, keluarga besar dari pihak pria datang ke Sudiro Star Hotel untuk melamar.
Raline dan Harlan duduk saling berhadapan, keduanya tampak malu-malu.
Sahabat Harlan juga datang menghadiri acara tersebut, ketiganya tak hentinya menggoda pria itu.
"Pagi ini kami dari pihak keluarga Harlan Hadinata datang ingin melamar Raline Alkara Sudiro putri dari Bapak Alka Adhitya Sudiro. Apa kalian mau menerima lamaran dari pria tampan dan baik hati sepertinya?" tanya seorang pria yang bertugas sebagai pembicara.
"Bagaimana Raline, apa kamu bersedia dilamar Harlan Hadinata Sudiro?" tanya pria perwakilan dari pihak keluarga Alka kepadanya.
"Saya bersedia," jawab Raline dengan wajah memerah karena saking bahagianya.
Seluruh keluarga dan tamu tersenyum lega mendengarnya.
"Kapankah ikrar janji suci itu akan diucapkan?" tanya pembicara dari pihak Harlan.
Alka menjawab, "Semoga tak ada halangan, kami ingin pernikahan dilaksanakan sebulan lagi."
"Baiklah, kami menyetujuinya," ucap pembicara dari keluarga Harlan.
Acara pun selesai, setelah sejam berlangsung. Para kerabat dan sahabat mengucapkan selamat serta mendoakan agar acara akad pernikahan keduanya berjalan lancar.
Varrel mendekati adik dan calon kakak iparnya dan mengucapkan selamat.
"Mana dia?" tanya Harlan.
"Dia siapa?" tanya Raline.
"Kakakmu ini katanya menyukai seorang gadis," tutur Harlan.
"Benarkah, Kak? Siapa dia?" Raline tampak antusias.
"Aku belum berani mengatakannya," jawab Varrel.
"Jangan sampai kamu seperti Mas Harlan," singgung Raline.
"Ya, jangan sampai seperti aku!" melirik calon istrinya.
"Baiklah, aku akan mencoba membawanya di hari pernikahan kalian," janji Varrel.
"Baiklah, kami tunggu," ucap Harlan.
Para keluarga, saudara, kerabat serta sahabat telah membubarkan diri dan tentunya Harlan juga.
-
-
Sore harinya selepas acara lamaran Raline, Varrel menghampiri Shireen yang sedang duduk memainkan ponselnya di ruang santai keluarga bagian tengah rumahnya.
__ADS_1
"Ma.."
"Ya, Rel," Shireen menoleh.
"Ayah mana?" tanyanya.
"Ke tempat nenek kamu dengan Aksa."
Varrel lantas duduk di sebelah Shireen. "Aku ingin berbicara pada mama," ucapnya.
Shireen meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap di wajah putranya. "Bicaralah!"
"Aku menyukai seseorang, Ma."
Shireen tersenyum. "Siapa gadis yang berhasil mencuri hatimu?"
"Putri atasanku tempatku bekerja, Ma."
"Bagaimana sikap dan sifatnya?" tanya Shireen.
"Dia gadis ceria, sepertinya pekerja keras."
"Sepertinya?" Shireen mengerutkan keningnya.
"Beberapa minggu ini dia menjadi asisten ku, Ma. Dia mau ku suruh membuat minuman dan lainnya, padahal dia sama sekali tidak memiliki bakat di desain bangunan."
"Mungkin dia menyukaimu," Shireen menebak.
"Memang iya, Ma. Dia pernah mengungkapkan jika menyukaiku."
Shireen kembali tersenyum, "Perkenalkan dia kepada kami."
"Serius, Ma?"
"Iya."
Varrel lantas memeluk Shireen, "Terima kasih, Ma."
"Jangan lupa perkenalkan dia juga dengan ibumu," ucap Shireen.
"Iya, Ma."
Alka baru saja memasuki rumah dan mengucapkan salam namun tak ada jawaban, matanya melihat Shireen dan Varrel saling mengobrol, tampak ekspresi bahagia terpancar dari wajah putra pertamanya.
"Sepertinya ada yang senang," celetuk Alka.
Shireen dan Varrel menoleh.
Alka lalu duduk bergabung dengan istri dan anaknya.
"Sepertinya kita akan segera melamar gadis buat Varrel, Mas." Shireen tersenyum melirik putra sambungnya.
Varrel lalu menjawab, " Iya, Yah."
"Ayah sarankan tunggu setahun lagi, ya."
"Kenapa lama sekali, Mas?"
"Raline baru menikah bulan depan, tidak mungkin dalam setahun ada dua pernikahan," jawab Alka.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Shireen.
"Varrel masih muda dan butuh persiapan yang sangat matang untuk menjadi suami dan ayah," terang Alka.
"Tapi...."
Alka memotong ucapan putranya, "Ayah setuju kamu memiliki kekasih. Lagian tinggal tiga bulan lagi menuju tahun depan."
Varrel tersenyum.
"Pernikahan Raline, kenalkan dia kepada seluruh keluarga," ucap Alka.
"Iya, Yah."
******
Keesokan paginya, Varrel ke kantor dan bekerja seperti biasanya. Ia terus memperhatikan arlojinya namun Aurel tak kunjung datang.
Hingga jam makan siang, gadis itu juga tak menampakkan batang hidungnya. Varrel lalu beranjak dari kursinya hendak beristirahat dan mengisi perutnya yang lapar.
Raka dan Roni juga baru saja keluar dari gedung kantor tak terlihat sama sekali sosok Aurel ditengahnya.
Varrel meraih ponsel di saku celananya lalu menghubungi Aurel. "Halo!"
"Ya, Halo!"
"Kamu di mana?"
"Aku di rumah lagi sakit."
"Aku sekarang ke sana!" Varrel gegas mematikan ponselnya dan melesat ke rumah Pak Raka.
Sesampainya di sana, Varrel menekan bel pintu pagar yang tingginya 3 meter.
Tak lama seorang pria yang diketahui sebagai satpam keluar membukakan pintu pagar, "Cari siapa Mas?"
"Nona Aurel."
__ADS_1
"Nama anda siapa?"
"Varrel."
"Silahkan masuk!"
Varrel memasuki istana atasannya yang sangat luas persis seperti kediaman kakeknya.
Seorang wanita berusia 30 tahun, mengantarkan Varrel ke balkon lantai 3. "Mau minum apa, Tuan?" sesampainya di tujuan.
"Air putih saja."
"Baik, Tuan." Wanita itu berlalu.
Aurel sedang duduk dengan leher menggunakan syal, ia menoleh dan melemparkan senyuman. "Silahkan duduk!"
"Ya." Varrel duduk di hadapan Aurel.
Tak lama asisten rumah tangga yang mengantarkan Varrel datang membawa segelas air putih lalu disajikan di meja.
Setelah ART berlalu, Varrel lalu berbicara, "Kenapa tidak mengabari aku jika kamu sakit?"
Aurel mengernyitkan keningnya.
"Kamu tahu tidak ketika bilang sakit tadi, ku jadi khawatir," ucap Varrel.
"Rel, kamu tidak mengigau'kan?"
"Tidak."
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Aurel.
"Hah!"
"Apa aku tidak bermimpi? Coba cubit tanganku!" Aurel mengulurkan tangan kanannya.
"Aku tidak mau menyakiti tubuhmu," ucap Varrel.
"Cubit saja biar ku percaya!"
Varrel bukan mencubit namun membuka kepalan tangan Aurel dan bersalaman. "Percaya, kan?"
"Kenapa tidak mencubitku?" tanyanya heran.
"Karena aku menyukaimu." Jawab Varrel menatap gadis di hadapannya.
Jantung Aurel seakan berhenti, "Dia menyukaiku. Papa, Mama, cintaku terbalas!" batinnya berteriak bahagia.
"Hei, kenapa diam? Apa kamu syok mendengarnya?"
Aurel mengangguk.
Varrel melepaskan tangannya, lalu tertawa.
"Kamu bercanda?"
"Aku serius Aurel Rakasyah!"
"Benarkah?"
"Iya."
Aurel lantas tersenyum.
"Sekarang kamu sudah sehat'kan?"
"Sepertinya jantungku belum?"
"Kenapa begitu?" Varrel khawatir.
"Karena kamu baru saja mengatakan suka, jantungku jadi bermasalah," jawab Aurel tersenyum.
"Oh, aku pikir kesehatanmu tidak baik-baik," ujar Varrel lega.
"Sebegitu khawatirnya dirimu padaku, sungguh aku makin cinta!"
"Pintar juga menggombal!" singgungnya.
Aurel hanya tersenyum nyengir.
"Ayah dan Mama ingin bertemu denganmu," ucap Varrel.
"Apa!" Aurel memekik.
"Biasa saja, tak usah syok begitu!"
"Kenapa buru-buru? Kita baru beberapa detik lalu resmi menjadi kekasih."
"Aku lebih dahulu mengatakan pada mereka, cuma ku belum memberitahu ibu tentangmu."
"Bagaimana jika ibumu tidak menyukaiku?"
"Aku pun tidak tahu."
Wajah Aurel berubah menjadi murung.
"Ibu pasti merestui kita!"
__ADS_1
Aurel mencoba tersenyum walaupun ia ragu, apakah ibunya Varrel menerimanya atau tidak.