
Selesai sarapan dan membersihkan diri, Harlan mengantarkan Raline pulang. Ditengah perjalanan gadis itu meminta Harlan untuk menemaninya ke mall.
"Aku masih banyak pekerjaan," tolaknya.
"Om, apa tidak kasihan denganku?"
"Kasihan kenapa? Kau masih sehat."
"Om, di mall ada pagelaran busana. Aku ingin melihat-lihat, hanya Om Harlan yang punya waktu untukku!" Raline menunjukkan wajah memohon.
"Bisa tidak kau jangan menunjukkan wajah memelasmu itu!"
Raline tersenyum.
"Aku tidak bisa, cari teman yang lain!"
"Kalau begitu aku pergi dengan Vino saja," Raline membuang wajahnya.
"Ya, silahkan!"
Raline mengeluarkan ponselnya dari tas lalu menekan nomor yang ada dilayar telepon seluler itu. "Halo, Bu!"
Harlan sekilas menoleh dan mengernyitkan dahinya lalu kembali menatap jalanan di hadapannya.
"Apa Ibu memiliki waktu untukku?"
"Memangnya kenapa, Raline?" tanya Rani dari ujung telepon.
"Bu, temani aku ke mall."
"Ibu tak bisa, Nak. Hari ini Ibu sedang ada klien dari luar kota," jelasnya.
"Bu, semua orang hari ini pada sibuk cuma Om Harlan yang tidak. Apakah aku boleh pergi bersamanya?"
"Boleh, sayang."
"Terima kasih, Bu. Jangan lupa tambahkan bonus untuknya," pinta Raline.
"Iya, Raline."
"Terima kasih, Bu." Raline menutup ponselnya.
Gadis itu menoleh ke arah Harlan yang sedang menyetir.
"Kau pasti ingin mengatakan sudah meminta izin kepada ibumu?"
"Ya."
__ADS_1
Harlan menghela nafas pasrah.
"Om tenang saja, ibu akan memberikan bonus. Kapan lagi dapat tambahan gaji hanya menemani aku yang cantik dan imut ini?" Raline tersenyum menggemaskan.
"Kau hanya bisa mengancamku melalui ibumu!"
"Ya, memang harus begitu agar aku bisa dekat dengan Om Harlan."
"Kau tidak pernah menyerah juga, ya!"
"Tentunya, Om."
"Aku jadi takut denganmu," Harlan bergidik.
"Apa yang harus ditakutkan dariku?"
"Kau bisa melakukan hal yang tak masuk akal hanya demi sebuah tujuan," jawab Harlan.
Raline tertawa, "Aku tidak sebodoh itu juga. Lagian Om Harlan belum memiliki istri apalagi kekasih, jadi kesempatan aku menaklukkan hati Om tak ada hambatan."
"Sungguh pusing menghadapimu," Harlan menggeleng kepalanya.
-
Begitu sampai mall, Raline menggandeng tangan Harlan.
Raline hanya tersenyum tanpa menurunkan tangannya.
Harlan tampak risih Raline menggandeng tangannya.
"Pakaian yang digunakan para model, cantik-cantik, ya!"
"Ya," ucap Harlan singkat.
"Jika aku memakai pakaian yang berwarna cokelat itu. Menurut Mas Harlan cantik atau tidak?"
"Raline, panggil Om!"
Gadis itu hanya tersenyum nyengir.
"Berapa kali aku bilang panggil Om!" ujarnya tegas.
"Iya, Om."
"Ayo pulang!" ajak Harlan.
"Cepat sekali, Om tadi belum menjawab pertanyaan aku?"
__ADS_1
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa aku cantik jika pakai yang cokelat itu?"
"Pakaian yang membuatmu masuk angin?"
"Om, itu memang modelnya begitu!" Raline menepuk lengan Harlan.
"Dia pakai pakaian yang hampir seluruhnya robek."
"Om Harlan memang tidak tahu model pakaian," protesnya.
"Kamu salah bertanya, Raline. Jika tanya harga properti sama aku bukan bertanya tentang model pakaian!"
"Iya, aku salah."
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Aku ngantuk!"
"Jangan pulang!"
"Kamu mau sampai Mall ini tutup?"
"Om, ini masih siang. Bagaimana kalau kita nonton bioskop?"
"Tidak mau, sungguh membosankan!"
"Om, ayolah!" mohonnya dengan manja.
Harlan menatap wajah Raline yang menurutnya sangat menggemaskan. "Jika kau bukan putri atasanku, sudah dari tadi aku tinggal!"
"Jangan kejam begitu denganku, nanti Om Harlan bakalan rindu!"
"Aku tidak akan rindu denganmu!" menekankan kata-katanya.
"Hati-hati Om jika berbicara ntar jadi kenyataan," celetuk Raline.
"Biarin, aku juga tidak peduli kau mau pergi ke mana."
"Apa Om Harlan sangat membenciku?"
"Ya, begitulah."
Raline malah tersenyum, ia menggandeng tangan Harlan menuju tempat bioskop yang memang disediakan di mall. "Aku yakin Om suatu saat pasti akan jatuh cinta kepadaku!"
"Ternyata, tingkat kepercayaan dirimu cukup bagus juga!"
"Tentunya!"
__ADS_1