Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 34


__ADS_3

Pukul 7 malam, acara resepsi pernikahan telah usai. Para keluarga, kerabat dan saudara satu persatu meninggalkan gedung.


Sementara kedua pengantin kini berada di dalam mobil menuju hotel Star Sudiro. Rencana awal resepsi akan dilaksanakan di tempat itu namun berubah karena kapasitas tak mencukupi akhirnya memilih gedung yang lebih besar.


Beberapa pegawai hotel tempat sepasang pengantin baru itu menginap menyambutnya di depan lobi dengan senyuman ramah.


Keduanya diarahkan ke kamar yang telah di dekor begitu indah.


Raline tampak begitu senang, kamar pengantin impiannya akhirnya diwujudkan.


"Aku sangat lelah hari ini!" Raline merebahkan tubuhnya di ranjang penuh dengan bunga mawar.


"Jangan tidur dahulu!" ucap Harlan.


"Kenapa?" tanya Raline polos.


"Kamu akan tahu nanti, ku mau mandi. Bersiaplah!" Harlan tersenyum misterius. Kemudian berlalu ke kamar mandi.


Raline gegas bangkit kemudian duduk, "Kenapa senyuman Mas Harlan begitu aneh?" gumamnya.


Tak sampai 10 menit Harlan keluar dari kamar mandi, ia lalu mengangkat tubuh Raline yang sedang berbaring.


"Mas, aku mau dibawa kemana?" Raline tampak ketakutan.


"Bersihkan tubuhmu, karena aku ingin menyantapmu malam ini!" Harlan tersenyum menggoda.


"Mas, aku bukan makanan jangan disantap!"


"Cepatlah mandi, Raline. Aku sudah sangat lapar, tadi di resepsi tak bisa makan dengan tenang keburu dikejar tamu."


"Oh, Mas Harlan ternyata lapar."


"Iya."


"Ya sudah, keluarlah biarkan aku mandi."


"Jangan lama-lama!"


"Iya!"


Harlan duduk di ranjang sembari menunggu pelayan hotel mengantarkan makan malam untuk dirinya dan istrinya.


Pintu kamar diketuk, Harlan bergegas membukanya dan menerima nampan berisi makanan dari pelayan tersebut.


"Terima kasih, Mas." Ucap Harlan.


"Sama-sama, Pak."

__ADS_1


Pelayan itu pun berlalu, Harlan gegas menutup pintunya.


Raline keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono, membuat mata Harlan tak berkedip.


"Mas!"


"Ya," Harlan menggerakkan kedua matanya membuyarkan lamunannya.


Raline duduk di samping suaminya, Harlan dengan cepat menyuap nasi ke dalam mulut.


"Mas, tidak menunggu aku?"


"Aku sudah tak sabar."


Raline mengernyitkan dahinya.


"Cepat makan makanan kamu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap Harlan.


"Jalan-jalan? Malam-malam begini?" Raline semakin bingung.


"Jalan-jalan malam yang membuat kamu tidak bisa melupakannya seumur hidup," jawab Harlan tersenyum menggoda.


"Mas, aku tidak mengerti maksud ucapan kamu!"


"Nanti kamu akan mengerti," ucap Harlan.


Raline mulai menikmati makan malamnya sementara nasi di piring Harlan telah habis separuh.


Harlan merapikan rambutnya dan memakai minyak wangi.


"Mas, mau kemana?"


"Jalan-jalan dengan kamu."


"Dengan pakaian piyama seperti itu?" tanya Raline.


"Iya."


"Ih, Mas Harlan aneh," ujar Raline.


"Cepat selesaikan makanmu, buruan kita jalan-jalannya!"


"Iya, Mas." Raline menyudahi makan malamnya.


Pergi ke kamar mandi menyikat gigi, lalu menghampiri suaminya yang sedang berbaring.


"Ayo Mas, kita pergi jalan-jalannya!" ajak Raline.

__ADS_1


Harlan dengan cepat menarik tangan istrinya hingga wanita itu jatuh dipelukannya.


"Mas, tidak jadi perginya?"


"Jadi."


"Ayo ganti pakaiannya!"


"Aku mau pakai ini saja," Harlan mengecup pipi istrinya.


"Mas Harlan tak jelas, katanya tadi mau ajak jalan-jalan tapi tidak jadi."


"Jalan-jalannya di tempat tidur!" Harlan memutar tubuhnya hingga kini posisi Raline dibawahnya.


Jantung Raline berdegup kencang dan tubuhnya membeku.


"Aku mau jalan-jalan di ranjang bersama kamu," Harlan mencecap leher istrinya membuatnya geli.


"Mas!" lirihnya.


Harlan mengangkat wajahnya dan menatap istrinya, "Ada apa?"


Raline menggeleng.


Harlan lanjut mengecup bibir istrinya.


Raline mendorong tubuh suaminya, dengan cepat bangkit dan duduk memperbaiki gaun tidurnya yang tersingkap.


Harlan merebah tubuhnya di samping istrinya, "Kamu belum siap, ya?"


Raline mengarahkan pandangannya kepada suaminya lalu mengangguk.


Harlan gegas duduk, memperhatikan wajah istrinya perlahan mendekatinya.


Raline memejamkan matanya ketika bibir suaminya menyentuh bibirnya.


Keduanya saling menikmati setiap gigitan penuh kelembutan.


Harlan merebahkan tubuh Raline tanpa melepaskan tautan bibirnya, kini tubuhnya berada di atas sang istri.


Setelah dari bibir Raline kini bibirnya menyusuri jenjang leher hingga ke seluruh bagian tubuh.


Raline hanya bisa menggelinjang dan mengeluarkan suara halus yang begitu menggoda.


Mendengar suara erangan kenikmatan istrinya semakin membuat Harlan semangat memporak-porandakan isi mahkota wanita itu.


Dan hampir dua jam pergulatan mereka di atas ranjang.

__ADS_1


Harlan mengecup kening istrinya lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Raline kemudian memeluknya, "Aku mencintaimu!" bisiknya.


Raline menoleh ke samping lalu membalasnya, "Aku juga mencintaimu, Mas!" mengecup kening suaminya.


__ADS_2