
Keesokan sorenya sepulang kerja, Varrel mengajak kekasihnya ke restoran terdekat dari kantor Rani.
Varrel dan Aurel lebih dahulu tiba, lalu memesan minuman sembari menunggu.
Dua gelas es jeruk tersaji dihadapan keduanya, Varrel menyeruput minumannya hingga tersisa setengah. Sementara Aurel masih memandangi gelas dengan wajah cemas.
"Kenapa dilihat saja? Ayo minum!"
Aurel hanya mengangguk.
"Kamu gugup?"
"Ya."
"Tenanglah, ibuku tidak menakutkan," ujar Varrel.
"Karena kamu anaknya, aku belum pernah bertemu dengannya jadi wajar sangat takut," ungkap Aurel.
Selang 15 menit kemudian, Rani datang dan melemparkan senyuman ia duduk berhadapan dengan Varrel dan seorang gadis.
"Jadi dia ini kekasihmu?" tanya Rani.
"Iya, Bu," jawab Varrel.
"Cantik!" pujinya.
Aurel tersenyum tipis karena grogi.
"Siapa nama kamu?" tanya Rani meskipun ia sudah mengetahuinya.
"Aurel Rakasyah, Tante."
"Putri Raka Adrian, dia pesaing perusahaan milikku," ujar Rani tersenyum. "Apa benar kamu sangat mencintai putraku?" lanjut bertanya.
"Iya, Tante."
"Apa kamu sudah siap untuk dilamar Varrel?" tanya Rani.
Deg...
Lamaran?
Kenapa buru-buru?
"Saya siap, Tante." Aurel menjawab dengan cepat meskipun hatinya masih ragu.
Rani dan Varrel saling pandang dan tersenyum.
"Aku sudah membicarakan ini dengan ayah, Bu. Katanya jika ingin menikah harus tahun depan setelah Raline," tutur Varrel.
"Ibu setuju saja kamu menikah kapanpun, asal dirimu," ujar Rani.
Varrel lalu berucap, "Terima kasih, Bu."
"Iya, Nak. Oh ya, kalian sudah pesan makanan?" tanya Rani.
"Belum, Ma."
"Ayo pesan!" ucap Rani.
Keduanya mengiyakan.
Sementara itu di lain tempat, Raline dan Harlan berada di sebuah kafe dengan seorang kedua sepasang suami istri yang merupakan pemilik wedding organizer.
Ya, calon sepasang pengantin baru hendak mempersiapkan acara pernikahan mereka. Raline dan Harlan memilih pakaian dan dekorasi yang ingin digunakan ketika mereka menikah.
"Aku ingin menggunakan gaun berwarna serba merah muda," pinta Raline.
"Tapi, aku tidak mau," Harlan menolaknya.
"Kita harus memakai pakaian yang senada," ujar Raline.
"Aku tidak suka warna itu!"
"Mas Harlan harus mau!"
__ADS_1
"Aku pakai warna yang lain, kamu mau teman-teman ku pada mengejek," ucap Harlan.
"Begini saja Mba Raline, Mas Harlan memakai jas berwarna putih," saran wanita pemilik WO.
"Aku setuju!" ucap Harlan.
"Lagian kalian nanti tidak hanya memakai satu pakaian saja," ujar wanita itu lagi.
"Ya, aku setuju yang penting tidak warna merah muda," ungkap Harlan.
Raline menunjukkan wajah cemberutnya padahal ia ingin melihat calon suaminya memakai pakaian berwarna merah muda.
Hampir sejam memilah dan memilih serta nego harga akhirnya keempatnya selesai berbincang. Harlan membayar uang muka buat pelaminan serta pakaian pengantin yang akan ia dan calon istrinya gunakan.
Didalam mobil wajah Raline masih ditekuk, ia mengarahkan pandangannya ke jendela.
"Apa aku ada salah?" tanya Harlan
"Ada," jawabnya ketus.
Harlan tergelak.
Raline menoleh ke arah Harlan dan wajahnya semakin cemberut karena calon suaminya tertawa lebar.
"Kamu marah karena aku tidak mau memakai pakaian merah muda?" tanya Harlan.
"Iya."
"Apa kamu tidak tahu warna kesukaan aku, Raline?"
"Aku tahu, tapi Mas Harlan sangat lucu jika memakai warna itu!"
"Aku memang mencintaimu tapi untuk urusan pakaian dan warna ku menolaknya. Maafkan aku calon istriku!" Harlan tersenyum mengejek.
"Suatu hari aku bisa memaksa Mas Harlan memakai pakaian warna merah muda," Raline tersenyum sinis.
"Kamu tidak akan bisa memaksaku!" Harlan tersenyum puas.
"Kita lihat saja nanti!"
******
Varrel menyesapnya sembari melihat pekerjaannya di laptop.
"Tentang pembicaraan kamu dan ibumu, aku mau kita tidak buru-buru menikah," ujar Aurel.
Varrel menoleh wajahnya dan meletakkan kembali cangkir tehnya lalu berkata, "Kamu tidak ingin kita menikah?"
"Aku sangat ingin menikah tapi....."
"Kamu masih terlalu muda," tebak Varrel.
"Iya."
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, sangat menjenuhkan jika harus berlama-lama dalam ikatan yang tak jelas," singgungnya.
"Kamu tidak ingin menungguku?"
"Pastikan berapa lama aku harus menunggu kamu siap?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kamu saja belum memastikan, bagaimana denganku?"
"Aku belum siap menikah muda, lalu hamil, melahirkan dan merawat bayi. Ku tak bisa membayangkan secepat itu, Rel."
"Lalu kenapa mengatakan kepada ibu jika siap aku lamar?"
"Karena aku ingin ibumu merestui kita."
"Ibuku itu akan mengikuti keinginan anak-anaknya asal mereka bahagia dan saling mencintai."
"Aku sangat mencintaimu, Rel. Tapi belum siap untuk menikah."
"Ya, aku maklum."
__ADS_1
"Maukah kamu menungguku?"
"Tergantung berapa lama," jawab Varrel.
"Kenapa jawabannya begitu?"
"Aku tidak tahu, apakah hatimu akan tetap untukku atau tidak selama masa menunggu itu."
Aurel menundukkan kepala, raut wajahnya sendu.
Varrel menarik sudut bibirnya.
Bahu Aurel bergetar, gadis itu pun menangis.
"Mengapa menangis?" tanya Varrel santai.
"Kamu berkata seakan-akan, aku mengkhianatimu."
Varrel mengenggam tangan Aurel. "Aku tidak mau kehilanganmu makanya ku ingin menikahimu segera."
Aurel mengangkat wajahnya dan menyeka air matanya dengan tangan kirinya, "Bagaimana jika aku belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna?"
"Kamu hanya perlu belajar, aku tidak mau saja ketika kita pergi liburan kedua orang tuamu meneleponku menanyakan tentang putrinya. Aku juga ingin menghindari fitnah."
Aurel semakin terisak.
Varrel berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati kekasihnya dan mengelus pundaknya. "Jangan menangis di sini, bagaimana jika papamu bertanya."
Aurel memiringkan tubuhnya lalu memeluk Varrel. "Aku mau kamu segera menikahiku!"
"Setelah Raline menikah, ku akan melamarmu," janjinya.
Aurel melonggarkan pelukannya dan mengangguk.
Varrel menghapus air mata kekasihnya, "Jangan menangis lagi, akan banyak pertanyaan dilayangkan padaku!"
Aurel menyeka matanya yang masih berair sembari tertawa kecil.
"Lebih baik kamu pulang, jangan di sini!" ujar Varrel.
"Kamu bosan aku di sini?"
"Tidak juga, aku malah senang. Cuma ku tak bisa konsentrasi jika kamu terus menggangguku bekerja," jawab Varrel.
Aurel mengerucutkan bibirnya.
"Pulang dan belajar agar cepat lulus kuliah!"
"Iya."
"Mau aku antar?" Varrel menawarkan diri.
"Aku dengan Pak Hasan, nanti ku dimarahi papa karena kamu selalu keluar kantor gara-gara diriku."
"Ternyata sekarang kamu sudah mulai dewasa, ya. Tidak egois lagi," ujar Varrel.
"Kamu yang mengajarkan ku," ucapnya.
Varrel tersenyum.
"Kalau begitu aku pulang, selesaikan pekerjaannya agar bisa libur ketika pernikahan Raline."
Varrel mengangguk.
Aurel pun berlalu dan Varrel melanjutkan pekerjaannya.
Sebelum pulang Aurel ke ruang papanya, ia meminta izin kepada pria itu. "Pa, apa boleh Pak Hasan mengantarkan pulang?"
"Tumben dengan Pak Hasan," jawabnya.
"Varrel lagi bekerja, ku tak mau merepotkannya," ujar Aurel.
"Nah, begitu dong. Papa senang mendengarnya, kamu tidak memaksa Varrel mengantarkanmu pulang," ucap Raka.
"Iyalah, Pa. Kan, aku ingin menikah," ceplos Aurel.
__ADS_1
Raka menoleh ke arah putrinya, "Kamu mau menikah?"
"Iya, Papa setuju 'kan?" tanyanya.