
Beberapa hari kemudian....
Alka dan keluarganya telah kembali dari Jogja hanya Raline yang masih tinggal di kota itu. Ya, dia memilih berlibur di sana agar sejenak bisa melupakan pria yang ia sukai.
Hari ini Rani mengajak kedua putranya untuk makan siang bersama karena dirinya sangat jarang bertemu dan mengobrol dengan dua orang jagoannya itu.
Karena kesibukan Varrel dan Sean yang selalu saja menolak bertemu Rani, makanya wanita itu lebih sering mengajak Raline.
"Ibu senang Raline menjadi juara dua," ujar Rani.
"Iya, Bu. Katanya setelah lulus kuliah di sini Raline mau melanjutkan sekolah di luar negeri," tutur Varrel.
"Ibu setuju saja dia ke sana, apalagi Bibi Rina ada di sana," ujar Rani.
"Makanya, ayah dan mama setuju saja dia ke sana karena ada yang mengawasinya. Paman Gani dan Bibi Shila juga di Paris, Bu." Ungkap Varrel.
"Syukurlah kalau begitu, kita tidak khawatir dengannya. Jika memang Raline jadi ke sekolah di Paris, kita bergantian dengan ayah dan mama kalian mengunjunginya," janji Rani.
"Benarkah?" Sean tampak semangat.
"Iya, Sean." Jawab Rani.
"Om Harlan juga ikut, Bu?" tanya Sean.
"Sepertinya Om Harlan tidak perlu ikut, Bu!" Varrel memotong pembicaraan.
"Kenapa, Kak?" tanya Sean.
"Tidak apa-apa, dia 'kan bukan keluarga kita," Varrel memberikan alasan berbohong padahal Raline yang meminta setiap acara keluarga atau apapun tak ingin bertemu dengan Harlan.
"Om Harlan hampir tiap hari selalu bersama dengan Kak Raline, kenapa dia tidak boleh ikut bersama kita?" tanya Sean lagi.
"Kenapa Harlan tidak boleh ikut?" tanya Rani.
"Ya, seperti apa yang ku katakan tadi, Bu." Varrel tampak gugup.
"Tidak biasanya Raline menolak kehadiran Harlan, padahal dia paling semangat jika bertemu dengannya," tutur Rani.
"Ya, karena Raline yang memintanya, Bu."
"Ibu curiga pasti ada yang dirahasiakannya," ujar Rani.
"Tidak ada, Bu." Varrel berusaha menyakinkan ibunya.
"Saat di bandara, Raline lebih banyak diam dan enggan mengobrol dengan Harlan. Apa yang sebenarnya terjadi, Rel?"
"Tidak ada, Bu. Mungkin Raline sedang memikirkan lomba, makanya ia malas bicara dengan Om Harlan," jelas Varrel.
"Mungkin juga, ya." Rani mengiyakan ucapan putranya.
Selesai makan siang, Rani kembali ke kantor dan kedua putranya pulang mengendarai motor tak lupa ia juga memberikan makanan ringan buat Alshe dan Aksa.
Begitu sampai kantor Rani membagikan kue dan salad buah buat para karyawannya yang berjumlah 10 orang.
"Apa kamu sudah makan siang, Lan?" tanya Rani kepada Harlan.
"Sudah, Bu."
"Bisa kita bicara berdua?"
"Bisa, Bu."
"Ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya.
Harlan mengiyakan, ia lalu mengikuti langkah wanita paruh baya itu ke ruangan kerjanya.
"Duduk!"
Harlan pun duduk.
"Apa kamu memiliki masalah dengan Raline?" tanya Rani.
"Tidak, Bu."
"Kamu yakin, tak ada disembunyikan?"
"Iya, Bu."
"Apa kamu dan Raline sering berkomunikasi?" tanya Rani.
"Tidak terlalu sering, Bu."
"Tapi, kenapa kata Varrel jika Raline tidak mau bertemu denganmu?"
Harlan terdiam, dia tahu alasan Raline tak ingin bertemu.
"Tidak biasanya putriku menolak kehadiranmu," ujar Rani.
__ADS_1
"Ya, saya tak tahu alasan dia. Kenapa tidak Ibu tanya saja dengannya?"
"Kalau saya bisa bertanya dengannya, tidak perlu tanya kamu!" kesalnya.
Harlan tersenyum nyengir.
"Saya sangat menyayangi, Raline. Karena kesalahan masa lalu membuat dia sangat tertutup. Saya begitu khawatir padanya, apa kamu tahu pria yang disukainya?"
"Tidak, Bu Rani."
"Siapa tahu kamu melarang pria itu mendekatinya, makanya dia marah?"
"Saya tidak ada melarangnya, Bu."
"Apa sebenarnya kamu yang memiliki perasaan kepadanya?" Rani menuding.
"Putri anda yang menyukai saya," Harlan menjawab dalam hati.
"Lan, apa kamu menyukai putri saya?"
"Tidak, Bu. Saya sudah memiliki kekasih," jawab Harlan berbohong.
"Lalu kenapa dia menjauhimu? Bukankah itu sangat mencurigakan?"
"Saya tidak tahu, Bu."
"Apa Raline menyukaimu?" Rani menebak lagi.
Harlan tertawa kecil, "Tidaklah mungkin, Bu."
"Kenapa tidak? Kalian sering bertemu pasti benih-benih cinta tumbuh dihatinya," ujar Rani.
"Itu saya kurang tahu, Bu. Tapi, bagi saya Raline sudah seperti keponakan sendiri," jelas Harlan.
Rani mengangguk setuju dengan penjelasan Harlan.
Karena melihat Rani tak mengajukan pertanyaan lagi, Harlan lantas bertanya, "Apa saya bisa kembali bekerja, Bu?"
"Ya."
Harlan beranjak dari duduknya, "Permisi, Bu!" pamitnya.
Harlan bernafas lega, hampir saja dirinya mengatakan yang sebenarnya.
Harlan lalu mencoba menghubungi Raline, namun tetap saja tidak bisa terhubung.
Varrel kembali ke kantornya setelah mengantarkan Sean ke rumah.
Varrel memarkirkan motornya, di parkiran kantor. Lalu melangkah ke gedung tempatnya bekerja. Suara klakson mobil membuatnya berjengit kaget, gegas ia meminggirkan tubuhnya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, mobil yang hampir menyenggolnya itu berhenti. Seorang gadis cantik turun dari kendaraan roda empat tersebut.
Varrel melangkah memasuki gedung, dibelakangnya gadis itu.
Keduanya menaiki lift bersamaan. Gadis itu sekilas menoleh ke arah Varrel lalu kembali dengan tatapan lurus ke depan.
Varrel yang berada di sampingnya tanpa sengaja bersin.
Gadis itu menatapnya tak suka, "Jika sakit tidak usah kerja!" sindirnya.
Varrel hanya diam.
Keduanya keluar lift juga bersamaan.
Varrel berada di belakang gadis itu.
Aurel menoleh ke belakang, "Kamu mengikuti aku?"
"Ruang kerja saya di lantai ini, Mba!"
"Hei, aku masih muda jangan panggil aku Mba!"
"Jadi, saya panggil adik?"
"Aku bukan adikmu!"
"Lalu saya panggil apa?"
"Panggil aku Aurel!"
"Oh," ucap Varrel singkat, ia lalu melangkah melewati gadis itu.
"Kamu sengaja, ya. Biar aku memberitahu namaku!" protesnya.
"Tidak."
"Jangan modus, deh!"
__ADS_1
"Siapa yang modus?"
"Kamu!"
"Jika saya menyukai seseorang tidak perlu berbasa-basi, jadi jangan berpikiran kalau saya menyukai anda!" Varrel melangkah meninggalkan Aurel yang bergeming.
Aurel kesal dengan ucapan Varrel. Ya, baru kali ini seorang pria tampak cuek kepadanya.
Aurel memasuki ruang kerja papanya dengan wajah cemberut.
"Kenapa denganmu?"
"Aku kesal, Pa."
"Kesal kenapa?"
"Itu karyawan Papa sombong sekali!" tudingnya.
"Karyawan Papa yang mana?"
"Itu tuh yang beberapa minggu lalu baru bekerja!"
"Papa tidak ingat," ujar Raka.
"Ih, Papa masa tidak tahu!" protesnya.
"Jelaskan ciri-cirinya!" pinta Raka lembut.
"Dia itu tinggi, tidak gemuk, rambutnya sedikit kemerahan, kulitnya putih."
Raka berusaha mengingat. "Sepertinya Papa tidak tahu!"
"Ya ampun, Pa."
"Nanti saja kamu tunjukkan orangnya, sekarang ada apa kamu ke sini?"
"Aku mau minta uang, saldo rekening menipis," jawab Aurel.
"Bulan depan baru Papa berikan lagi," ujarnya.
"Papa dan mama sama saja, minta uang selalu tak pernah di kasih!"
"Kamu harus bisa berhemat, Aurel. Sampai kapan kamu hidup boros begini?"
"Pa, aku ini masih kuliah belum bisa bekerja jadi uang darimana buat aku jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman!"
"Fokus belajar, kurangi waktumu nongkrong dengan teman-temanmu itu!"
"Ya, tidak bisa Pa."
"Kamu bisa bertemu dengan mereka dua minggu atau sebulan sekali!"
"Sangat membosankan jika berada di rumah," ujar Aurel.
"Kamu bisa bantu mama di butik atau kerja di kantor Papa."
"Mau kerja apa aku di sini?"
"Bersih-bersih."
"Apa? Bersih-bersih?"
"Iya, kamu 'kan tidak bisa apa-apa," jawab Raka.
"Papa sungguh tega, masa gadis secantik ini harus bersih-bersih padahal papanya pemilik kantor," sindirnya.
"Kalau begitu, kamu bisa bantu Varrel."
"Siapa dia? Sepertinya baru mengenal namanya," ujar Aurel.
"Dia karyawan baru, kamu bisa membantunya!"
"Tapi, aku digajikan?"
"Ya, Papa akan menggajimu separuh dari upah karyawan," jawab Raka.
"Kenapa sedikit?"
"Karena kamu bekerja paruh waktu."
"Baiklah, aku mau tapi uang jajanku tetap diberi juga, kan?"
"Iya, uang jajan dan gaji tetap Papa kasih!"
Aurel menyetujui permintaan papanya.
Raka melihat putrinya mau bekerja, dalam hatinya tersenyum senang.
__ADS_1