
Sebulan kemudian...
Hari pernikahan yang ditunggu akhirnya datang, Raline mengenakan kebaya berwarna putih keemasan. Gadis itu begitu cantik dan sangat anggun.
Sementara itu Harlan mengenakan jas berwarna hitam duduk berhadapan dengan Alka dan di saksikan ratusan pasang mata.
Jantungnya berdegup kencang, keringat mulai mengucur di dahinya. Ya, tentunya ia sangat gugup apalagi dirinya akan mendampingi seorang wanita seumur hidupnya dan tentunya hal ini juga kado terindah untuk ibu kandungnya.
Mata Alka tampak berkaca-kaca, dirinya akan melepaskan putrinya untuk seorang pria yang membuat anak keduanya jatuh cinta. Ada rasa sedih, ketika Raline akan bersama dengan orang lain namun sebagai orang tua ia tak boleh egois karena kebahagiaan putrinya itu yang utama.
Tepat pukul 9 pagi, Harlan mengucapkan janji suci pernikahan dengan menggenggam tangan Alka secara lantang.
"Sah..!" teriak salah satu saksi pernikahan.
Membuat para tamu mengucapkan syukur karena janji suci berjalan lancar, begitu juga dengan Raline yang menunggu di kamarnya.
Selesai ijab kabul, Raline pun muncul diapit oleh kedua wanita yang sangat disayanginya yaitu Rani dan Shireen.
Harlan dari kejauhan meneteskan air matanya, perlahan Raline menghampiri suaminya.
Harlan mengulurkan tangannya dan Raline meraihnya dengan wajah tersenyum.
Harlan mengecup kening istrinya kemudian keduanya duduk kembali di meja yang menjadi saksi sumpah setia pernikahan.
Setelah menandatangani berbagai berkas, keduanya berpose menunjukkan cincin dan buku pernikahan.
"Kenapa kamu hari ini begitu cantik?" bisik Harlan.
"Aku juga tidak tahu, Om."
"Jangan memanggilku Om, jika tidak ingin aku menggigitmu!"
"Pasti sangat mengasyikkan jika digigit Mas Harlan," goda Raline.
"Awas nanti malam, ya." Harlan tersenyum menyeringai.
Raline memajukan bibir bawahnya.
"Aku tidak sabar untuk memakannya," Harlan berkata pelan.
"Sabar, Mas. Kamu harus menunggu beberapa jam lagi menunggu malam," ledek Raline.
Candaan kedua pengantin terhenti ketika beberapa tamu menghampiri mereka mengucapkan selamat.
__ADS_1
Sementara itu, Varrel menunggu Aurel dan keluarganya di parkiran gedung. Tak lama kemudian mobil hitam berhenti tepat dihadapannya.
Seorang gadis memakai gaun pesta selutut berwarna navi melemparkan senyuman kepadanya.
Varrel membalas senyuman itu.
"Maaf kami datang terlambat," ucap Pak Raka.
"Tidak apa-apa, Pak. Acara juga masih berlangsung," ujar Varrel.
"Maklum, Aurel tadi sangat lama sekali dandannya," celetuk Istri Pak Raka.
"Bukankah Mama yang lama dandannya?" Aurel membalasnya dengan memanyunkan wajahnya.
Varrel hanya tersenyum.
Keempatnya berjalan ke dalam gedung resepsi, Varrel memperkenalkan calon mertuanya kepada kedua orang tuanya.
Alka menyambut uluran tangan Raka dengan senyuman. "Terima kasih telah hadir."
"Saya yang harusnya berterima kasih kepada anda karena sudi mengundang kami," ucap Raka.
Alka tersenyum begitu juga Shireen.
"Setelah putri kami menikah, saya ingin datang berkunjung ke rumah Pak Raka untuk melamar Aurel sebagai menantu saya. Apa Pak Raka dan istri bersedia?" tanya Alka.
"Tentunya," jawab Raka semangat.
Aurel dan Varrel saling melempar senyuman.
-
Aurel dan kedua orang tuanya memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin sebelum berpamitan pulang.
"Selamat bahagia buat kalian, ya!" ucap istrinya Raka.
"Terima kasih, Tante!" balas Harlan dan Raline.
"Selamat menempuh hidup baru," ucap Raka.
"Terima kasih, Paman," ujar Harlan dan dibalas dengan senyuman oleh Raline.
"Oh, ini calon istrinya Kak Varrel," celetuk Raline ketika Aurel berada dihadapannya.
__ADS_1
Gadis itu hanya tersenyum malu.
"Sangat cantik pantas saja Kak Varrel jatuh cinta," ucap Raline.
"Pastinya, aku tak salah pilih 'kan," Varrel berkata bangga.
Kedua pengantin dan orang tuanya Aurel tertawa kecil.
"Ayo kita turun, masih banyak tamu yang ngantri," ajak Mamanya Aurel.
Keempatnya pun turun.
"Aku belum pernah lihat Varrel seantusias itu kepada seorang gadis," ujar Harlan.
"Ya, semoga Aurel tak menyakiti hati Kak Varrel," harap Raline.
-
Kedua orang tuanya Aurel berpamitan pulang kepada Varrel dan Alka namun tidak dengan gadis itu yang masih tetap berada di gedung resepsi.
Varrel mengenggam tangan Aurel memasuki kembali gedung pernikahan. "Aku akan memperkenalkan kamu dengan keluargaku yang lainnya."
Aurel menyapa Nenek Lilis dengan senyuman.
"Kamu temannya Varrel?"
"Iya, Nek."
"Cantiknya."
"Terima kasih, Nek."
"Dia akan menjadi cucu menantu, Nek." Bisik Varrel.
Lilis tersenyum, "Ternyata cucuku sudah dewasa!"
Varrel dan Aurel saling pandang dan senyum.
"Semoga kalian berjodoh," doa Lilis.
"Terima kasih, Nek." Varrel tersenyum.
Keduanya lanjut menyapa tamu yang lainnya.
__ADS_1