
Sore ini, Harlan begitu senang karena Tiara mengajaknya bertemu. Menggunakan mobil hasil bekerja selama 11 tahun di perusahaan properti milik Rani.
Harlan tersenyum menghampiri wanita yang ia sukai sejak 9 tahun lalu. "Riko tidak ikut?" tanyanya membuka percakapan.
"Dia lagi bersama ayahnya."
"Oh."
"Lan, ada yang ingin aku beritahu," kata Tiara.
"Ya, apa?"
"Gadis yang kemarin kamu ajak bertemu denganku itu namanya siapa?"
"Raline."
"Dia lagi dekat dengan Bagas."
"Apa?" Harlan tampak tak percaya.
"Tadi Riko menghubungi aku menggunakan ponsel Bagas, aku melihat jika Raline ada bersama mereka."
"Apa Bagas pria yang dikatakan Raline waktu itu?" batinnya bertanya.
"Kamu harus memberitahu Raline agar menjauhi Bagas."
"Mungkin kamu salah orang," ujar Harlan.
"Tidak, Lan. Bagas juga mengatakan jika gadis itu bernama Raline." Jelas Tiara.
"Aku tidak bisa membiarkan Raline dengan pria itu."
"Ya, Lan. Aku tidak mau, dia mengalami hal yang sama seperti aku," ujar Tiara.
"Aku akan memberitahunya," janji Harlan.
-
Malam harinya menjelang tidur, Harlan mencoba menghubungi Raline namun tak aktif. "Apa dia masih memblokir kontakku?" gumamnya.
Harlan lantas menghubungi nomor Varrel dan pria itu menjawabnya.
"Halo, Om!"
"Apa ada Raline di rumah?"
"Ada Om."
"Bisakah aku berbicara padanya?"
"Sebentar ya, Om." Varrel lantas pergi ke kamar adiknya.
Varrel mengetuk pintu sembari bertanya, "Raline, apa kamu sudah tidur?"
"Belum, Kak." Raline membuka pintunya. "Ada apa, Kak?" lanjutnya bertanya.
"Om Harlan ingin bicara padamu!" Varrel menyodorkan ponselnya yang masih tersambung.
"Aku tidak ingin bicara padanya!"
"Sepertinya penting," ujar Varrel.
"Aku tidak mau, Kak!" Raline tetap menolaknya.
"Lin, jadi Kakak harus bilang apa pada Om Harlan?"
"Katakan saja sejujurnya, aku tidak mau berbicara padanya!" Raline lalu menutup pintunya.
Varrel meletakkan ponselnya di telinganya, "Om sudah dengarkan dia bicara apa."
"Ya, aku mendengarnya. Terima kasih ya, Rel."
"Iya, Om."
Harlan lalu menutup teleponnya. "Sebegitunya dia membenciku!"
****
Keesokan paginya, Harlan mendatangi rumah orang tuanya Raline. Dia berpura-pura akan mengantarkan gadis itu ke kampus.
"Harlan, mari sarapan bersama kami!" ajak Alka.
"Kebetulan sekali," Harlan tersenyum.
"Kamu mau teh atau kopi, Lan?" tanya Shireen.
"Teh saja, Mba."
"Sebentar Mba buatkan," ujar Shireen lalu pergi ke dapur.
Raline tampak tak suka dengan kehadiran Harlan di tengah keluarganya apalagi ketika sarapan. Selera makannya jadi hilang dan konsentrasinya berantakan.
Harlan duduk berhadapan dengan Raline dan melemparkan senyuman.
__ADS_1
Raline memilih tak menghiraukan senyuman pria itu.
Shireen membawakan teh buat Harlan, "Silahkan diminum!"
"Terima kasih, Mba."
"Sudah lama kamu tidak ke sini," ujar Alka.
"Raline tidak ingin saya mengantar dan menjemputnya, Mas."
"Aku ingin mandiri, lagian ku sudah dewasa. Anggap saja belajar sebelum sekolah di luar negeri," sahut Raline tanpa menatap Harlan.
"Ya, beberapa bulan lagi Raline akan sekolah di Paris," Shireen ikut menimpali.
"Om Harlan pasti akan kesepian," celetuk Alshe.
Harlan sedikit terkejut dengan ucapan gadis berusia 15 tahun itu. "Aku kesepian? Sepertinya tidak!" membatin.
"Ma, Yah, aku berangkat, ya!" Raline mengelap bibirnya dengan tisu mengakhiri sarapannya.
Harlan pun juga menyudahi sarapannya. "Aku akan mengantarmu!" menawarkan diri.
"Tidak perlu, Om. Aku naik bus saja!" Raline berdiri lalu mendekati Alka dan Shireen menyalim kedua tangan mereka.
"Biar Harlan yang mengantarkanmu kebetulan dia di sini," ujar Alka.
"Tidak, Yah!" Raline melangkah dengan cepat keluar rumahnya.
"Kenapa dengannya?" tanya Alka pelan kepada istrinya.
Shireen menaikan kedua bahunya.
"Mas, Mba, saya duluan. Terima kasih sarapannya," pamit Harlan. Ia sedikit berlari mengejar langkah gadis itu.
Raline membuka pagar.
"Raline, tunggu!" panggil Harlan.
Raline berhenti lalu menoleh ke belakang, "Ada apa lagi, Om?"
"Aku ingin bicara denganmu, ini sangat penting," jawab Harlan.
"Bicara di sini saja!"
"Tidak, kita bicara di mobil!" ujar Harlan.
Raline sejenak berpikir lalu mengiyakan.
"Om Harlan ingin bicara apa?"
"Apa kau mengenal Bagas?"
"Bagas yang mana?"
"Mantan suaminya Tiara."
"Aku tidak mengenalnya."
"Jangan berbohong, Raline!"
"Aku memang tidak mengenalnya, Om."
"Tiara bilang kemarin kau, Bagas dan Riko pergi ke Mall," ungkap Harlan.
Raline terdiam.
"Kau memiliki hubungan dengannya?" tanya Harlan sembari menyetir.
"Ya," jawab Raline bohong.
"Lebih baik cepat jauhi dia, Raline."
"Kenapa aku harus menjauhinya? Memangnya apa salahnya dia?"
"Bagas itu pria buruk, Tiara bercerai karena suaminya itu selingkuh dan kasar," jelas Harlan.
"Aku tidak percaya Bagas seperti itu!"
"Raline, percaya padaku!"
"Aku tidak percaya dengan Om!"
"Raline, aku hanya ingin menyelamatkanmu. Ku tak mau sesuatu hal buruk terjadi padamu!" Harlan berkata dengan penuh keyakinan.
Raline tertawa sinis.
"Raline, aku tidak mau kau jatuh cinta padanya!"
"Lalu aku harus jatuh cinta pada siapa?" tanya Raline.
"Banyak pria yang lebih baik darinya," ujar Harlan.
"Dan lebih baik dari Om Harlan!" sambungnya.
__ADS_1
"Ya, lebih baik dari aku."
"Sudahlah, Om. Tak perlu mengatur hidupku lagi, mending urus saja kekasih Om Harlan itu."
"Raline, kali ini tolong dengarkan aku!"
"Aku tidak akan pernah mau mendengarkan semua ucapan Om Harlan lagi!" Raline berkata tegas.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku?"
"Jangan pernah pedulikan aku lagi, paham!" Menekankan kata-katanya.
Harlan menghela nafas pasrah.
"Turunkan aku di sini, Om!" pintanya.
"Tidak, kau akan ku antar sampai kampus."
Raline memilih diam dan menuruti kemauan pria itu.
Begitu sampai, Raline bergegas turun tanpa mengucapkan terima kasih.
Harlan meremas wajahnya, ia melihat punggung Raline sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.
-
-
Sorenya, sepulang kerja dari kantor. Harlan melihat kedua orang tuanya telah menunggu di teras rumah.
"Ibu, Ayah!" mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu sekarang jarang pulang?" omel Mela.
"Aku lagi sibuk, Bu."
"Sibuk apa? Kamu ingin menghindari perjodohan, kan?" Mela menuding.
"Bukan, Bu."
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja Harlan membuka pintunya, Ayah sangat lelah sekali," ujar Amri.
Harlan gegas mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintunya. "Mari masuk, Yah, Bu!"
Mela dan Amri pun masuk, Harlan membawa tas kedua orang tuanya.
"Kenapa rumah ini berantakan sekali?" Mela melihat 2 gelas dan 1 piring di atas meja, selimut tergeletak di lantai dan 2 pasang sepatu tercecer dari pintu masuk hingga ke ruang telivisi.
Amri memilih masuk ke kamar tamu daripada mengomentari keadaan rumah putranya.
"Aku belum sempat membereskannya, Bu."
"Makanya, kamu menikah biar ada yang mengurusmu!" sindir Mela.
"Sebentar lagi Ibu akan memiliki menantu," ujar Harlan tersenyum.
"Benarkah?" Mata Mela berbinar.
"Ibu do'akan saja, dia mau menerima aku."
"Memangnya siapa wanita itu?" Mela penasaran.
"Tiara, Bu."
Mela terkejut mendengar nama wanita itu. "Kamu bukan menjadi perusak rumah tangganya, kan?"
"Ya, tidaklah."
"Tapi, Ibu kurang setuju kamu dengannya."
"Bu, aku hanya mencintai dia."
"Kenapa Ibu lebih senang melihat kamu dengan putri atasanmu itu," ujar Mela.
"Maksudnya Raline?"
"Ya, sepertinya dia sangat mencintaimu."
"Bu, dia itu masih kecil belum pantas diajak menikah. Aku tidak mau ibunya memecatku," ujar Harlan.
"Seandainya ibunya menyetujui hubungan kalian, apa kamu mau dengannya?"
"Tidak, Bu."
"Tapi, Ibu berharap kamu dengan gadis itu sepertinya sangat tulus."
"Bu, aku yang menikah. Ku yakin dengan pilihanku, tak mungkin salah," ujar Harlan.
"Ya, terserah kamu saja. Semoga pilihan kamu benar," harap Mela.
"Percaya padaku, Bu."
"Iya, Ibu percaya padamu!"
__ADS_1