Dikejar Cinta Putri Atasan

Dikejar Cinta Putri Atasan
Bab 13


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Raline lebih banyak diam. Ya, dia tak cerewet seperti biasanya.


Begitu sampai, Raline membuka helmnya lalu mengucapkan terima kasih dan masuk ke rumah.


Harlan menarik sudut bibirnya melihat sikap Raline yang berubah drastis karena pernyataannya di rumah makan itu. "Aku harap kau tidak akan pernah menggangguku lagi!"


Sementara itu Raline mencari keberadaan Mama Shireen begitu bertemu Raline gegas memeluknya dan menangis.


"Ada apa, Raline?" Shireen mengelus rambut putrinya.


"Ma, aku ingin bicara berdua!" jawabnya terisak.


"Mama akan dengarin, bicaralah!"


Raline mengajak mamanya mengobrol di kamarnya.


"Kenapa menangis? Apa yang terjadi?" Shireen menyelipkan rambut Raline di telinga.


"Om Harlan, Ma."


"Kenapa dengan Harlan?"


"Dia sudah memiliki kekasih," jawabnya kembali menangis.


"Kamu marah?"


Raline mengangguk.


"Jika dia tidak pernah menyukaimu, Mama sarankan lebih baik mundur."


"Tapi, aku sangat mencintainya, Ma." Raline memeluk mamanya.


"Jangan memaksa hati orang lain untuk mencintai kita, Raline. Kamu yang akan rugi," nasehat Shireen.


"Jadi aku harus bagaimana, Ma?"


"Menjauhinya dan lupakan dia," jawab Shireen.


"Aku sudah berusaha melupakannya dan menghindarinya, Ma."


"Mama akan bicara kepada ibumu dan ayahmu untuk tidak menyuruh Harlan bertemu denganmu."


"Bagaimana jika mereka tahu kalau aku menyukai Harlan, Ma?"


"Tidak akan, kamu tenang saja."


"Jangan katakan apapun, Ma. Ibu pasti akan mencecar banyak pertanyaan untukku dan Om Harlan, aku takut saja kalau pengakuan ku membuatnya dipecat."


"Jadi, kita harus bagaimana lagi?" tanya Shireen.


"Sebentar lagi ku akan Jogja, setelah itu libur kuliah. Aku mau di sana sementara waktu," jawab Raline.


Shireen menyetujui rencana putrinya.


-


Makan malam Raline tak seceria biasanya membuat keluarganya heran.


"Raline, kamu lagi sakit?" tanya Alka.


"Tidak, Yah."


"Kenapa diam saja?" tanyanya lagi.


"Lagi mikirin final di Jogja, Yah."


Alka tersenyum lega, putrinya hanya memikirkan itu saja.


"Kakak yakin kamu akan juara!" Varrel memberikan dukungan.


"Terima kasih, Kak."


"Semangat, Kak Lin!" Alshe memeluk kakaknya.


"Terima kasih, Als!" Raline menepuk bahu adiknya.


Shireen yang tahu kegundahan hati Raline bukan hanya tentang perlombaan saja tetapi perasaannya dengan Harlan, pria yang selalu menemani putrinya ke mana saja.


****


Dua minggu kemudian....

__ADS_1


Hari ini seluruh keluarga Alka berangkat ke Jogja tentunya Rani beserta kedua orang tuanya turut mengantarkan Raline juga ke bandara sekaligus memberikan semangat kepada gadis itu.


"Ibu do'akan kamu juara, sayang!"


"Terima kasih, Bu."


Oma Rita dan Opa Andi juga memberikan doa dan kata-kata penyemangat buat cucunya.


Raline tersenyum ke seluruh keluarganya tetapi tidak dengan Harlan, dia memilih menjauh bahkan tidak menyapa pria itu.


Meskipun kemarin ia masih di jemput Harlan, namun tak membuat hubungan keduanya sehangat seperti biasanya.


Alka tampak heran dengan sikap putrinya terhadap Harlan namun ia tak mau memikirkannya terlalu jauh.


Raline dan keluarganya berangkat ke Jogja.


Harlan menatap punggung Raline, "Maafkan aku!" batinnya.


-


-


Begitu sampai di Jogja, Shireen mengabarkan kepada Lilis dan Rani jika mereka sudah tiba di kota itu.


Rani bernafas lega anak-anaknya selamat sampai tujuan.


"Apa mereka sudah sampai, Bu?" tanya Harlan, kebetulan sedang berada di ruangan atasannya itu memberikan laporan.


"Sudah baru beberapa menit yang lalu," jawab Rani.


"Syukurlah." Harlan tersenyum lega.


Berjalan keluar ruangan, Harlan mengecek ponselnya apakah ada pesan dari Raline ternyata sama sekali tidak ada.


Sejak makan siang itu, Raline seakan menjauh dan menghindar. Tak pernah mengirimkan pesan atau menelepon meminta sesuatu dengan gaya manjanya dan memaksa.


Harlan mencoba menghubungi ponsel gadis itu namun tak aktif, mengirimkan pesan di aplikasi berwarna hijau juga hanya centang satu. Lanjut menelusuri sosial media Raline lagi-lagi dirinya tak menemukan akun dengan nama yang dimaksud.


"Apa dia begitu marah padaku?" gumamnya.


"Biarin sajalah, bukankah ini memang yang ingin aku mau. Dia menjauhiku dan tak mengusikku!" batinnya.


Sementara di Jogja, Raline dikamarnya fokus dengan rancangannya. Dia benar-benar ingin melupakan Harlan melalui kesibukannya.


Raline lalu menghubungi ibunya karena sejak dari tadi ia belum menelepon wanita itu meskipun Mama Shireen sudah mengabarkannya.


"Halo, Bu!" sapanya dari ujung telepon.


"Halo, Raline!"


"Bu, aku baru sempat menelepon. Maaf!"


"Tidak apa-apa, Mama Shireen juga sudah menelepon Ibu. Kamu fokus dengan lomba saja, jangan pikirin yang lain. Ibu berharap kamu bisa menjadi perancang busana yang hebat dan terkenal."


"Ya, Bu."


"Lomba di Jogja akan menentukan kamu mengikuti lomba tingkat internasional," ujar Rani.


"Iya, Bu. Aku juga ingin melanjutkan sekolah di Paris," ucapnya.


"Kamu mau sekolah ke Paris, Ibu bisa rindu denganmu!"


"Ibu bisa mengunjungiku," Raline tertawa kecil.


"Iya, juga. Apapun yang kamu lakukan, Ibu akan dukung selama itu baik!"


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


"Ya, Raline."


"Selamat malam, Bu."


"Malam juga, Nak." Rani menutup teleponnya.


Harlan yang sedang menyetir mendengar percakapan antara ibu dan anak itu, ia lantas bertanya, "Telepon dari Raline, Bu?"


"Ya."


"Dia mau sekolah ke Paris?"


"Katanya sih, tapi kalau tidak berubah pikiran."

__ADS_1


"Oh."


"Apa tadi Raline menelepon masih nomor yang lama, Bu?"


"Iya."


"Kenapa tadi saya telepon dia tak bisa, ya?"


"Mungkin ponselnya mati," jawab Rani.


"Mungkin saja, Bu."


Setelah mengantarkan Rani ke rumahnya, Harlan pulang ke rumah yang baru dibelinya 2 tahun yang lalu.


Mencari kontak Raline dan menghubunginya lagi, namun tetap gagal. "Apa aku diblokirnya?"


****


Hari ini lomba yang diikuti Raline, perlombaan ini menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan di ajang internasional.


Dua hari ini, Raline sangat giat memperhatikan detail gaun yang akan ia tampilkan dihadapan para juri dan penonton.


Raline menggandeng 2 orang wanita sebagai model pakaiannya.


Kedua wanita itu berlenggak lenggok di atas panggung menggunakan pakaian rancangan dari Raline.


Penonton yang menjadi pendukung Raline bertepuk tangan, mereka bersorak ketika melihat para model berjalan.


Tanpa disadari Raline sepasang mata memperhatikannya sembari mengabadikannya lewat kamera ponselnya, pria itu tersenyum kala melihat senyuman di wajahnya.


Selesai acara, Raline turun dari panggung ia lalu memeluk Shireen dan Alka.


"Mama bangga padamu!" mengecup pipi putrinya.


"Ayah juga!" Alka mengecup ujung kepala Raline.


Adik-adik Raline memberikan ucapan selamat juga.


"Hari ini juga pengumumannya, jadi do'akan aku!" pinta Raline.


"Kami selalu mendoakan kamu!" ucap Alka.


"Ayo kita cari makanan!" ajak Aksa sembari memegang perutnya.


Alka melihat arlojinya, "Waktunya makan siang."


Yang lainnya mengiyakan, akhirnya mereka memilih restoran yang berada di mall.


Raline lalu menghubungi Rani melalui panggilan video.


Semua yang berada di meja makan menyapa wanita berusia 49 tahun itu.


"Halo, Bu!" sapa Sean.


"Halo, tampan!" Rani melambaikan tangannya. "Bagaimana acaranya?" lanjutnya.


"Berjalan lancar, Bu!" jawab Raline.


"Apa kamu berhasil?"


"Belum pengumuman, Bu. Mohon doanya!" ucap Raline.


"Ibu selalu mendoakan kamu!"


Ditengah-tengah obrolan keluarga tersebut, terdengar suara Harlan.


"Ini laporan yang Bu Rani minta!" Harlan berdiri di belakang wanita paruh baya itu.


Rani menoleh ke belakang lalu memerintahkan bawahannya untuk meletakkannya di meja kerja.


"Baik, Bu!" Harlan mengikuti perintah atasannya lalu gegas keluar dari ruangan itu.


Raline dapat melihat sekilas wajah Harlan.


Hampir 15 menit, bertelepon ria. Akhirnya Rani pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Raline pun mematikan ponselnya.


"Om Harlan sepertinya cuek, apa dia tidak suka Kak Raline ikut lomba?" tanya Alshe.


"Dia suka, cuma mungkin lagi sibuk. Buktinya dia ikut mengantarkan kita ke bandara," jelas Shireen.

__ADS_1


"Iya, juga," ucap Alshe.


"Kakak yang ingin menghindarinya," Raline membatin.


__ADS_2