
Merasa tidak ada yang merespon, Putra mengulangi lagi ketukan pintu itu.
Tok, tok, tok.
Ceklek,
Tak berselang lama pintu terbuka di ketukan kedua.
"Ada apa?" suara datar dengan tatapan dingin keluar dari mulut Gaston. Lidah putra sedikit membeku ketika melihat penampilan Gaston yang hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di pinggul. Bisa di pastikan adegan panas itu belum usai, dan Gaston merasa terganggu dengan kehadiran Putra.
"Ada apa?" Gaston mengulangi lagi pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi.
"Em, em ,saya mau, saya mau pamit." Jawab Putra dengan terbata bata.
"Pamit? Pamit kemana?" tanya Gaston lagi.
"Pamit pulang kampung dan mungkin tidak kembali lagi." jawab Putra dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ya sudah, pulang saja sana ! Tidak kembali juga lebih baik." tukas Gaston dengan membuang muka.
Dara sempat mendengar percakapan itu dan berniat ingin ikut bicara, tapi dia sadar kini tubuhnya masih polos tertutup selimut. Dia tidak mau menambah masalah dengan ikut nimbrung pada percakapan dua lelaki itu.
Putra sangat kecewa sekaligus kesal karena Gaston sama sekali tidak menahannya bahkan pria itu mengusirnya.
"Baiklah Tuan, saya permisi." ucap Putra sambil berbalik badan.
"Heh, tunggu..." seru Gaston.
Putra sejenak berhenti lalu membalikkan badan, dia sempat berpikir bahwa majikannya mungkin akan menahan kepergiannya. Namun ternyata, semua tidak seperti yang dia harapkan.
Sontak kalimat yang di dengar oleh Putra itu memancing emosinya. Pria yang merasa bukan lagi asisten Gaston itu memilih untuk membalas ucapan Gaston dengan sikap dinginnya dan berlalu begitu saja tanpa memberi jawaban.
Putra termasuk golongan orang kebal mental selama bekerja menjadi asisten sekaligus supir pribadi Gaston. Selama ini dia banyak menahan geram dengan sikap semena menanya majikannya itu, tapi semenjak hari itu Putra merasa sudah terbebas dari jerat aturan majikan arogannya.
Melihat Putra sudah pergi, Gaston kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali.
__ADS_1
"Kamu mengusirnya?" tiba tiba Dara punya keberanian untuk bertanya.
"Dia sendiri yang mau pergi!" jawab Gaston sambil merebahkan tubuhnya kembali di kasur.
"Tapi, apa kamu tahu alasannya?" tanya Dara sekali lagi.
"Tidak tahu dan tidak mau tahu!" jawab Gaston dengan nada dingin.
"Tapi dia sedang kena musibah, ibunya meninggal dan dia....," ucapan Dara terpotong oleh perkataan suaminya.
"Sudah cukup! Jangan bahas dia lagi. Dia sudah dewasa, sudah bisa mikir apa yang harus dia lakukan. Kamu tidak perlu berlebihan memikirkannya." tegur Gaston dengan nada yang terdengar geram pada istrinya.
"Tapi, apa kamu sama sekali tidak ikut berduka? Dia sudah lama menjadi asisten mu, apa semudah itu kamu membuangnya?" lagi lagi Dara mengajukan pertanyaan.
"Stop, aku tidak membuangnya. Dia sendiri yang minta pergi. Kalau soal kematian ibunya aku baru mengetahuinya darimu, jadi nanti akan aku kirim santunan bela sungkawa ke rekeningnya. Oke! Sudah, jangan menginterogasi aku seperti maling motor!"
Pria itu menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut dan ingin segera memejamkan mata. Sepertinya gairahnya tiba tiba menghilang karena pertanyaan pertanyaan Dara tentang Putra.Malam itu mereka berdua tidur pada satu selimut meskipun dalam keadaan yang saling mendiamkan.
__ADS_1
Mata Dara sulit terpejam hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Wanita itu sedang memikirkan nasib Putra, laki laki yang selalu perhatian kepadanya selama tinggal di rumah Gaston. Namun mulai malam itu mereka tidak akan pernah bertemu lagi.