
Siang itu nyonya Mariam datang ke rumah putranya setelah menerima pesan dari menantunya.
"Ma, apa kita bisa ketemu? Aku mau bicara."
"Baiklah, biar mama saja yang main ke rumah kamu."
Satu percakapan singkat yang sempat di lakukan oleh Nyonya Mariam dan menantunya.
"Ada apa Dara? Sepertinya ada masalah penting." Tanya Nyonya Mariam setelah bertemu dengan Dara.
"Aku mau bicara soal Gaston Ma, sepertinya aku sudah nggak kuat lagi menghadapi dia." satu jawaban dari Dara memancing pertanyaan di benak ibu mertuanya.
"Loh, loh, loh ... Ini ada apa? Kenapa kamu tiba tiba bicara seperti itu?"
"Aku nggak bisa bersikap seperti ini terus Ma, ini juga bukan sifat asliku. Aku nggak bisa selalu bersikap manja dan agresif sementara Gaston masih saja dingin kepadaku. Yang ada dia malah semakin ilfil sama aku. Aku nggak kuat Ma, apalagi sekarang Gaston sepertinya punya kekasih baru," ungkap Dara.
__ADS_1
Nyonya Mariam meminta agar Dara bersikap lebih agresif dengan harapan Gaston akan terpancing dan mulai bersikap lebih hangat, tapi yang ada pria itu justru kesal dengan sikap manja Dara.
"Apa kamu bilang? Gaston punya kekasih? Benar benar ya tuh anak, biar mama labrak dia di kantornya sekarang!" tukas Nyonya Mariam dengan menggebu gebu.
"Jangan Ma, nanti dia malah marah sama Dara di kiranya Dara tukang ngadu. Udahlah Ma, lebih baik Dara menjadi diri Dara sendiri, biarlah dia bersikap semaunya saat ini karena Dara yakin suatu saat dia akan berubah. Andai saja saat ini Dara belum mengandung, mungkin Dara memilih mundur menjalani pernikahan ini. Tapi karena Dara sedang mengandung, sekuat hati Dara akan bertahan." Ungkapan Dara terdengar sangat memilukan.
"Maafkan Mama dan juga Gaston Dara, mama hargai keputusan kamu. Semoga setelah hadirnya buah hati kalian, perlahan bisa merubah kepribadian Gaston." jawab Nyonya Mariam.
"Iya Ma, terima kasih mama sudah mau mengerti." sahut Dara.
"Entahlah Ma, Dara juga tidak paham betul. Mama jangan langsung negur dulu, lebih baik di selidiki aja kebenarannya." tutur Dara mengutarakan pendapatnya.
"Baiklah, mama setuju sama kamu. Kalau gitu mama pura pura nggak tahu aja soal kekasih Gaston, tapi mama akan tetap mencari tahu kebenarannya. Kamu jangan banyak pikiran, kasihan bayi kamu. Kalau ada apa apa kamu bilang aja sama mama ya,"
"Iya Ma, terima kasih."
__ADS_1
Setelah melakukan pembicaraan empat mata tersebut, Nyonya Mariam berpamitan untuk pulang dan Dara masuk ke kamarnya untuk beristirahat serta menenangkan pikirannya.
"Siap siap kena sidang nanti sore sama mama kamu!" Dory menakut nakuti sahabatnya yang dari tadi masih duduk santai di ruangannya.
"Bodo amat! Kalau mama ngomel nggak usah di dengerin, yang penting aku nggak di usir dari rumah, gitu aja. Lagian mama nggak bakalan tega ngusir aku, paling cuma marah marah dengan nada petir menyambar, abis itu udah!" jawab Gaston dengan enteng.
"Tapi, gimana kalau kali ini Tante Mariam beneran marah dan ngusir kamu? Masalahnya sekarang kamu udah nikah dan bini kamu sedang hamil. Gimana kalau mama kamu akan bertindak keras sama kamu?" Dory semakin meracuni pikiran Gaston. Dan sayangnya ucapan Dory tersebut berhasil membuat Gaston cemas.
"Ngomong apaan sih? Jangan mikir aneh aneh! " sahut Gaston.
"Ya elah, aku kan cuma ngingetin doang! " Dory masih meladeni sahabatnya.
"Sepertinya ada benarnya juga dengan ucapan Dory. Gimana kalau sekarang mama akan semakin tegas padaku? Gimana kalau aku beneran akan di usir dari rumah? Ah tidak tidak. Itu tidak mungkin karena hanya aku anak laki mama, mama nggak mungkin tega mengusirku!" Gumam Gaston dalam hati.
Hingga sore menjelang dan tiba waktunya Gaston pulang, kecemasan itu masih menyelimuti pikirannya. Selama di perjalanan dia mencoba membayangkan sambutan apa yang akan dia terima dari istri dan mamanya.
__ADS_1