Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Bodo Amat


__ADS_3

Dara menahan tawa mendengar ucapan Gaston, karena sepertinya pria itu sudah mengetahui bahwa mamanya tidak berpihak padanya. Tanpa banyak berkata dan tanpa di minta, Dara segera menuangkan nasi dan mengambilkan lauk di piring Gaston karena pria itu sudah menempati kursi di ruang makan.


Dengan setia, Dara menemani suaminya sampai selesai makan. Merasa risih karena di perhatikan oleh Dara, Gaston kembali berulah.


"Ngapain sih kamu masih duduk di situ? Nggak capek apa? Kurang kerjaan banget, mending pindah aja duduk di tempat lain, toh juga di sini nggak ikut makan!" Gaston sengaja mengucapkan kata kata yang mengesalkan agar Dara beranjak dari tempatnya.


Tapi sayang, Dara justru malah balik menggoda Gaston, "Enggak, aku nggak capek kok. Aku malah seneng duduk di sini menemani kamu."


Gaston sejenak menghentikan aktifitas mengunyah makanan di mulutnya, karena mendengar istrinya sekarang mulai berani menggoda. Tapi, tak lama kemudian dia kembali menyendok makanannya dan lekas dia telan agar segera habis dan masuk ke kamar. Gaston pikir setelah masuk ke kamar dia akan lepas dari Dara yang dari tadi memperhatikan gerak geriknya, tapi ternyata nyonya Gaston itu juga ikut mengekor di belakang suaminya ketika masuk ke dalam kamar.


"Astaga, sampai kapan kamu akan membuntuti aku terus? Apa kamu nggak punya pekerjaan lain?" tanya Gaston dengan kesal.

__ADS_1


Dara menggelengkan kepala dengan mimik wajah yang memelas. Dan hal itu membuat Gaston semakin pusing di buatnya. Pria itu mengacak acak rambutnya dengan mimik wajah geram.


"Ah, terserah kamu lah. Bodo amat kamu mau ngapain aja. Aku mau tidur!"


Di ambang rasa frustasinya, Gaston memilih merebahkan tubuhnya di kasur lalu matanya dia pejamkan dengan paksa dan berharap Dara akan berhenti memperhatikan dirinya jika dia tertidur.


Namun, niatnya yang hanya ingin berpura pura tidur, ternyata dia ketiduran sungguhan. Gaston terbangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia lihat suasana kamar sudah gelap, dan di sampingnya telah terbaring istri yang dari tadi menemaninya.


"Dasar, perempuan bodoh. Kenapa kamu itu penurut dan lugu? Dan kenapa juga kamu yang terpilih jadi istriku?"


Gaston tertawa sendiri mendengar pertanyaan yang muncul dari kepalanya sendiri. Kadang dia juga sadar bahwa sikapnya memang keterlaluan kepada Dara. Tapi sayang, kesadaran itu hanya berlaku sesaat. Karena di detik selanjutnya, Gaston menarik kembali ucapannya.

__ADS_1


"Ish, bicara apa aku ini? Ngapain coba aku merasa bersalah? Dia sendiri yang salah, kenapa nggak nurut sama aku?" tukas Gaston dalam hati. Dia turun dari kasur untuk mengambil air dingin, dan setelah tenggorokannya basah, Gaston kembali tidur hingga keesokkan pagi.


Saat mentari sempurna menampakkan diri, di situlah pula Dara sempurna menampakkan diri juga di hadapan sang suami. Tak mau suasana hatinya berubah suram di pagi buta, Gaston memilih diam dan tidak menghiraukan tingkah Dara yang dari tadi memperhatikan dia seperti layaknya seorang ibu yang tengah mempersiapkan anak SD nya hendak berangkat ke sekolah.


Pria itu masuk ke dalam mobil dan segera menancap gas dengan kencang agar segera tiba di kantor dan jauh dari jangkauan Dara.


Bruukh,


Gaston menjatuhkan diri dan juga tasnya di sofa ruang kerjanya. Kepalanya dia sandarkan di sandaran kursi yang dia duduki. Melihat suasana hati sahabatnya sedang tidak baik, Dory mendekat.


"Duuh, duh, duh, duh ada apa dengan calon bapak ini? Kok mukanya cemberut gitu?" ledek Dory sambil berjalan mendekati sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2