Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Gundah


__ADS_3

"Jangan,"


Satu teriakan membuat Dara menghentikan aktifitasnya yang hendak menggigit buah nanas.


"Ma_ma_ af nyonya, tapi kan..." ucapan mak Inah terhenti karena yang meneriaki Dara ternyata adalah mak Inah.


"Kenapa melarang ku mak?" tanya Dara.


"Ma_ maaf nyonya, karena saya, saya... saya dari dulu menginginkan kehadiran seorang anak tapi tidak bisa karena saya mandul." jawab mak Inah sambil menundukkan kepala.


Dara sedikit tertarik dengan perkataan mak Inah dan ingin mendengarkan apa yang menjadi alasan dia melarangnya.


"Mandul?" tanya Dara.


"Iya nyonya, saya dulu pernah menggugurkan kandungan karena waktu itu suami saya tidak mau bertanggung jawab jika saya hamil, sebab dia pengangguran dan penjudi. Akhirnya, saat kami benar benar ingin memiliki anak, saya sudah tidak bisa lagi mengandung karena rahim saya sudah rusak" tukas mak Inah.

__ADS_1


Hati Dara bergetar mendengar ucapan mak Inah karena sempat ada ketakutan jika hal itu akan terjadi kepadanya.


"Benarkah mak?" tanya Dara sekali lagi.


"Iya, jadi kalau bisa, jangan rusak harapan kamu nyonya. Anak adalah karunia Tuhan, meski kita meminta, jika Tuhan tak berkehendak, maka tidak akan kita dapat. Tapi meski kita menolak, jika memang sudah takdir kita, maka Tuhan akan tetap memberikannya." jawaban mak Inah membawa pencerahan untuk Dara.


Dara terdiam dan merenungi ucapan mak Inah, pikirannya ingin menolak tapi nuraninya bertanya tanya apakah tindakannya itu benar.


"Tapi saya bingung mak," tukas Dara sambil menutup kembali kulkasnya dan duduk di kursi ruang makan.


Mak Inah dengan setia berjalan mengekor pada Dara untuk mendengar segala isi pikirannya.


Mak Inah tersenyum simpul lalu mencoba memberi pencerahan lagi untuk Dara.


"Maaf nyonya, tapi ada satu hal yang belum anda ketahui bahwa kehadiran malaikat kecil tanpa dosa itu mampu menghidupkan hati yang mati, melelehkan hati yang beku, dan melunakkan hati yang keras" tukas mak Inah.

__ADS_1


"Tapi mak, Gaston itu orang yang keras. Dia tidak semudah itu goyah dan terlena." jawab Dara.


"Percayalah nyonya, mungkin tidak secara langsung. Tapi perlahan dengan kehadiran seorang buah hati akan menumbuhkan cinta di hatinya." mak Inah mencoba meyakinkan.


"Apa seperti itu ya mak? Berarti aku tidak perlu mengkonsumsi semua itu?" tanya Dara kepada mak Inah untuk mencari keputusan.


"Kalau menurut mak memang harusnya begitu nyonya, satu hal yang di harapkan dalam pernikahan adalah cinta dan keturunan." jawab mak Inah dengan yakin.


Dara membisu, dia masih di selimuti keraguan untuk menentukan keputusan.


"Baiklah mak, terima kasih atas sarannya. Biar aku pikirkan lagi mana yang harus aku lakukan." tukas Dara selanjutnya.


"Baiklah nyonya, semua keputusan ada di tangan anda. Saya hanya mengingatkan saja." sahut mak Inah sambil menundukkan kepala.


Usai bercakap cakap dengan mak Inah, Dara masuk ke dalam kamar untuk menenangkan pikiran demi mendapat satu pilihan yang tidak merugikan. Di dalam kamar Dara melihat suaminya tertidur pulas, karena tidak ingin mengganggu, Dara merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


Pandangannya terbang ke langit langit kamar dengan isi kepala yang melayang layang. Dua pilihan yang harus dia pikirkan matang matang karena setiap pilihan yang dia pilih akan memiliki resikonya masing masing. Setelah hampir tiga puluh menit memikirkan kegundahannya, tak terasa kantuk mendera mata Dara hingga akhirnya dia tertidur.


"Bangun, bangunlah Dara..." terdengar ada satu suara yang memanggil nama Dara.


__ADS_2