Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Lancang


__ADS_3

Malam itu Gaston sulit memejamkan mata, apalagi tangan Dara tak kunjung lepas dari pinggang Gaston. Pria itu sulit membayangkan jika besok dia akan pergi ke kantor bersama istrinya. Padahal, waktu bekerja adalah satu satunya waktu terbebas baginya dari jerat status rumah tangga yang dia jalani. Dan esok, jerat itu akan semakin menjeratnya, bahkan di tempat kerja. Setelah lelah memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu ketenangannya, Gaston pun akhirnya tertidur hingga pagi menjelang.


Ketika dia membuka mata, dia ingin memastikan bahwa apa yang dia pikirkan semalam itu hanyalah mimpi belaka, tapi dengan melihat sang istri yang sudah mandi dan berdandan di depan cermin, membuat pria itu sadar bahwa semua bukanlah mimpi.


"Astaga, dia benar benar akan membuntuti ku.." gumam Gaston sambil mengacak acak rambutnya.


Dengan penuh kekesalan, pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di sana dia mencoba mencari cara untuk menghindari Dara, hingga akhirnya ada satu ide yang terlintas di benaknya.


"Mungkin hari ini aku tidak perlu ke kantor agar dia tidak perlu ikut aku ke kantor juga." lirih Gaston sambil manggut manggut.


"Eh, tapi tunggu tunggu. Pakai alasan apa? Kalau aku bilang sakit, pasti aku akan di perlakukan seperti anak balita lagi." Gaston mempertimbangkan keputusan yang akan dia ambil.


"Enggak enggak. Aku nggak bisa pakai alasan sakit. Mungkin yang lain?" pria itu seperti tidak waras karena terus saja bicara pada dirinya sendiri.


"Emmmm, apa aku bilang saja kalau aku harus ke luar kota? Oh tidak, dia pasti juga akan ikut! Astaga, kepalaku seperti mau pecah rasanya...." gerutu pria itu sambil menjambak sendiri rambutnya.

__ADS_1


Tok... tok .. tok...


Di tengah tengah kebimbangannya, dia mendengar pintu kamar mandi di ketuk.


"Sayang, kenapa kamu lama sekali? Kamu ngapain? Apa kamu sakit perut?" teriak Dara dari balik pintu.


"Nggak" Gaston hanya menyambar dengan satu kata untuk menjawab pertanyaan Dara.


"Oke, aku tunggu ya. Jangan lama lama, nanti kesiangan." tukas Dara dari luar kamar mandi.


Ceklek,


Dengan wajah lemas Gaston keluar kamar mandi.


"Kok gitu sih mukanya? Yang semangat dong!" ujar Dara dengan menyambar pipi Gaston tanpa permisi. Pria itu tentu saja menjadi garang seketika saat Dara mengecupnya tanpa izin.

__ADS_1


"Heh, lancang banget kamu!" bentak Gaston sambil mengelap pipinya dengan telapak tangan.


"Emangnya kenapa? Aku kan istri kamu!" Dara menjawab ucapan Gaston dengan enteng.


Gaston masih mengerutkan dahi, ingin dia balas ucapan Dara, tapi jika di pikir pikir, ucapan Dara memang benar. Dara adalah istrinya, dan seorang istri pasti punya hak penuh atas suaminya.


Tak mau berlama lama debat dengan Dara di pagi hari, Gaston memilih untuk mempercepat aktifitasnya. Segera dia pakai pakaian kantor yang sudah di siapkan oleh Dara, dan segera ke meja makan untuk sarapan.


Setelah meneguk segelas susu dan memakan sepasang roti dengan selai, Gaston berangkat kerja dengan di temani Dara. Bukan hanya di temani, tapi Dara senantiasa menempelkan kepalanya di pundak sang suami. Hal itu tentu membuat pria itu merasa sangat risih.


"Duduk sendiri kenapa sih? Jangan nempel mulu!" bentak Gaston sambil mengangkat paksa kepala Dara dari pundaknya.


"Ish, kok gitu sih kamu? Aku sebenarnya nggak kepengen menyandarkan kepalaku ke pundak kamu, tapi dia yang pengen bersandar!" tukas Dara sambil mengerucutkan bibir.


"Dia? Dia siapa?" tanya Gaston dengan datar.

__ADS_1


"Ini." jawab Dara sambil mengelus elus perutnya dan seketika hal itu membuat Gaston susah payah menelan saliva. Calon bayi yang masih sangat mentah itu terpaksa harus mendapat fitnah dari sang ibu agar bisa mendekati bapaknya.


__ADS_2