Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Alasan


__ADS_3

" Aku tidak akan mengkonsumsi makanan dan minuman yang kamu berikan."


Dengan segala keberanian, Dara mengungkapkan keputusannya. Tentu saja hal itu menarik perhatian pria yang awalnya tengah kembali berbaring di kasur, dan kini bangkit kembali guna menghampiri Dara.


"Apa kamu bilang?" tanya Gaston semakin mendekat.


"Aku tidak mau menuruti kemauan kamu." jawab Dara dengan cepat sambil memalingkan wajahnya.


Brakkh,


Dara menutup kedua telinga nya sambil memejamkan mata ketika mendengar Gaston menggebrak meja yang ada di depannya.


Tanpa mengucapkan kata kata Gaston berlalu dari hadapan Dara.


Pria itu keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan keras.


Braaakh,


Dara belum juga melepas kedua telapak tangan yang menutupi kedua telinganya. Sebenarnya dia sangat ketakutan melihat kemarahan Gaston, tapi dia sudah bulatkan tekad untuk tetap berada pada keputusannya.


Malam itu Gaston keluar dari kamar dan tidak kembali hingga pagi, Dara tidak berani untuk mencarinya. Karena mungkin Gaston memang masih ingin menyendiri atau memang ingin menghindarinya.


Di dalam kesendiriannya, Dara merasa gelisah. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman tidur di kamar tanpa suaminya. Ketika pertengahan malam telah tiba, Dara berniat untuk keluar kamar untuk mencari tahu keberadaan Gaston. Namun, di setiap sudut ruangan di rumah besar itu, Dara tidak menemukan keberadaan suaminya.


Dia di buat cemas dengan menghilangnya Gaston malam itu, sehingga dia berniat untuk menghubungi Gaston dan mencari tahu keberadaannya.


Sementara di tempat lain sedang ada dua orang pria duduk di tepian kolam renang. Suara tawa terdengar nyaring dari salah satu pria itu.


"Kalau nggak bisa diem, aku ceburin kamu ke kolam!" tukas Gaston kepada Dory. Rupanya pria itu pergi ke rumah Dory seusai bicara dengan Dara.


"Widih, tenang bro. Jangan tegang gitu. Yang slow dong," tukas Dory dengan enteng tanpa dia sadari bahwa ucapannya membuat sahabatnya pusing.


"Slow gimana? Dia nggak mau ngelakuin apa yang aku minta. Dan itu fatal banget kalau beneran sampai bikin dia bunting." ungkap Gaston dengan wajah yang serius.

__ADS_1


"Terus sekarang kamu mau apa? Lagian perempuan yang sudah jadi istri pasti nggak mau ngelakuin hal itu, apalagi kamu kaya raya." sahut Dory.


"Maksud kamu?" Gaston merasa kurang paham dengan ucapan sahabatnya.


"Yah, gitu aja masak nggak paham. Kalau kamu punya anak, pasti dia dapat hak dong atas harta kamu." jawab Dory tanpa dosa.


Gaston rupanya mudah sekali termakan ucapan sahabatnya, hingga dia terdiam dan mulai membenarkan pendapat Dory.


"Woy, kenapa melamun?" tanya Dory.


"Lagi mikir." jawab Gaston singkat.


"Mikir apa? Mikirin harta yang akan di minta sama anak kamu? ha..ha..ha.." Dory masih saja meledek sahabatnya.


"Udah diem, nggak lucu! Tapi aku pikir pikir, omongan kamu itu ada benarnya juga." tukas Gaston.


"Nah kan, apa aku bilang? Otakku ini berkualitas tinggi." ucap Dory sambil membanggakan diri.


"Kadang kadang doang!" celetuk Gaston.


Kali ini Gaston terdiam karena memang apa yang di ucapkan sahabatnya itu benar. Setelag Gaston menyadari bahwa hari sudah mulai larut dan hendak berganti hari, dia memutuskan untuk pulang. Sebelum beranjak pergi, dia sempat membuka gawai pilihnya dan di sana ada dua panggilan serta satu pesan dari Dara beberapa menit yang lalu. Ponsel Gaston memang di setting dalam mode hening, sehingga dia tidak mendengar ada panggilan dan notifikasi pesan masuk.


"Kamu kemana?"


Satu pesan singkat dari Dara itu membuat Gaston tersenyum kecut karena kepala Gaston kini telah terkontaminasi oleh pemikiran sahabatnya Dory. Pria itu segera bergegas pulang untuk menemui Dara serta mencari jalan terang untuk permasalahannya.


Setelah tiba di rumah, Gaston melihat Dara masih setia duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya karena tadi Gaston sempat membalas pesan Dara dan memberitahunya bahwa dia sedang berada di perjalanan.


Dara merasa heran karena Gaston pulang dengan wajah yang lebih segar serta ada sedikit senyum tersirat di wajahnya. Tak mau melewatkan kesempatan emas itu, Dara segera membalas senyum Gaston dengan senyuman hangat juga.


"Aku sangat cemas." sapa Dara sambil menatap ke arah sang suami.


"Apa yang kamu cemaskan?" tanya Gaston.

__ADS_1


"Ya, kamu. Karena tengah malam nggak ada di rumah." sahut Dara.


"Emang aku anak kecil, lagian aku kan juga sering keluar malam tanpa bilang sama kamu." sahut Gaston sambil merobohkan tubuhnya ke sofa.


"Iya sih, tapi kan nggak lagi marah." jawab Dara dengan sedikit kaku.


"Aku mau membahas tentang pembicaraan kita tadi sore." ungkap Gaston.


Bola mata Dara membulat sempurna ketika mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Gaston, pasalnya dia mengira mungkin Gaston sudah berubah pikiran dan mulai menerima keputusan yang di ambil Dara.


Demi menjaga agar tidak salah bicara dan merusak suasana hati Gaston, Dara memilih untuk diam dan menanti dengan seksama apa yang akan Gaston sampaikan.


"Sebenarnya apa alasan kamu tidak mau mencegah kehamilan?" tanya Gaston dengan serius.


"Ya, karena anak itu adalah pemberian Tuhan. Kita tidak boleh menolaknya. Banyak di luar sana orang yang menginginkan keturunan tapi tidak di beri, lalu kita yang mungkin masih di beri kesempatan, kenapa harus menolak?" sahut Dara dengan berharap Gaston akan menerima alasan yang dia ungkapkan.


"Itu saja?" Gaston masih saja bertanya.


Dara mengerutkan dahi karena sepertinya Gaston kurang puas dengan jawabannya. Namun setelah sempat sejenak berpikir, Dara kembali memberi jawaban.


"Ada, ada lagi alasan mengapa aku tidak mau melakukan perintahmu." tukas Dara.


"Apa?" Gaston semakin penasaran dan berharap apa yang ada di kepalanya akan sama dengan apa yang akan di sampaikan oleh Dara.


" Mimpi. Karena mimpi itu aku semakin yakin, mimpi bertemu mendiang ibu dan beliau meminta agar jangan melepas ikatan darah antara ibu dan anak." jawab Dara dengan mimik wajah lesu karena dia teringat kepada mendiang sang ibu.


Bukannya simpati, Gaston malah tersenyum sumbang. Dan hal itu tentu saja membuat Dara kesal.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Dara dengan geram karena dia merasa tersinggung atas tanggapan Gaston mengenai mendiang ibunya.


"Alasan alasan kamu itu lucu dan basi." jawab Gaston.


Dara kebingungan mengartikan kalimat yang di ucapkan oleh suaminya,sehingga dia lanjut bertanya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu? Apanya yang lucu dan basi?"


"Ya alasan kamu. Mana ada mimpi di jadikan alasan suatu keputusan dari suatu masalah? Ini zaman modern, bukan zaman peradaban kuno. Semua terjadi berdasarkan logika, dan mimpi kamu itu datang karena kamu berlebihan menginginkan keturunan dariku. Lagian mana ada perempuan yang menolak aku kasih keturunan? Bahkan di luar sana banyak para wanita yang rela memberikan tubuhnya hanya karena ingin memilikiku dan mendapat keturunan dariku."


__ADS_2