
Hati Dara terasa sakit mendengar ucapan Gaston yang seolah olah mengatakan dirinya mengemis keturunan kepadanya seperti halnya para wanita di luar sana. Namun demi menjaga tidak berprasangka buruk, Dara memberanikan diri untuk bertanya tentang maksud Gaston yang sebenarnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Dara dengan bibir bergetar karena hati yang mulai tersayat dengan pernyataan suaminya.
"Justru aku yang mau tanya sama kamu, kamu itu harusnya jujur aja. Tujuan kamu ingin punya anak karena ingin mendapat hak dari sebagian hartaku kan? Lagian kita menikah juga atas kemauan mama, bukan kemauanku. Dan itu sebenarnya sangat menguntungkan kan buat kamu?"
Plaaakkkk,
Tangan Dara sudah tidak tahan menahan amarah yang menggunung kepada Gaston. Dia tampar pria itu tanpa dia pikir akibatnya. Andai saja Dara tidak merasa berhutang budi kepada mama Gaston yang sudah melunasi hutang hutangnya, Dara tidak akan pernah mau menikah dengan pria tidak punya tata krama itu.
Gaston membuka kedua kelopak matanya lebar lebar karena mendapat perlakuan kasar dari istrinya, dan dia ingin membalas perlakuan itu. Tangan Gaston sudah berposisi di atas kepala Dara dan siap menyambar pipi istrinya. Namun, bukannya merasa takut, Dara malah dengan suka rela memberikan nya.
__ADS_1
"Tampar saja sepuasnya, kalau perlu bunuh aku agar aku lepas dari penderitaan ini. Agar kamu puas membalas ku, agar semua impas dengan hutang hutang yang pernah di lunasi oleh mama kamu. Dan satu lagi, agar kamu bebas dari rumah tangga yang menyiksamu!"
Entah syetan apa yang merasuki tubuh Dara hingga dia menjadi pemberani waktu itu. Padahal Dara yang di kenal Gaston adalah wanita penurut yang tidak pernah melawan perintahnya, lebih tepatnya lagi bukan penurut tapi terpaksa menurut.
Gaston meninju sandaran sofa dengan keras sebagai bentuk amarahnya, rupanya pria itu masih punya celah hati untuk mendengar kalimat Dara sehingga dia tidak jadi membalas perlakuan istrinya. Dara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menangis.
"Diam lah, aku tidak suka melihat orang menangis. Apalagi bayi! Itu sebabnya aku belum siap punya anak. Jadi jangan maksa!" Gaston tak kalah emosi dengan Dara. Keduanya kini sama sama dirundung kekacauan di hati masing masing. Diam adalah jalan satu satunya yang bisa mereka lakukan.
Malam itu keduanya masih saling membisu hingga pagi menjelang. Ketika matahari sudah menampakkan diri dengan sempurna, Gaston sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk duduk di meja makan. Raut wajahnya masih tetap sama, datar dan dingin. Berbeda dengan raut wajah Dara yang layu dan juga sembab karena menangis semalaman.
Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya terdengar suara dentingan sendok saling bertautan dengan piring hingga menimbulkan suara yang nyaring. Setelah lima belas menit mereka mengisi perut masing masing, kini Gaston mulai berdiri dan bersiap untuk berangkat bekerja. Seperti biasa, Dara tetap setia membawakan tas untuk suaminya hingga masuk ke dalam mobil. Setelah Gaston berlalu bersama mobilnya, Dara kembali masuk dan pergi ke dapur untuk membantu mak Inah.
__ADS_1
"Ada apa nyonya? Sepertinya nyonya habis menangis?" tanya mak Inah sambil bersama sama membereskan peralatan memasak.
Dara menggelengkan kepala dengan wajah lesu, dadanya masih terasa sesak sehingga bibirnya masih sulit untuk berucap. Mak Inah memahami keadaan Dara yang sedang tidak baik baik saja, memilih untuk dia dan tidak banyak bertanya lagi. Dua puluh menit terjadi keheningan selama aktifitas di dapur, hingga akhirnya Dara sendiri yang memecah keheningan tersebut.
"Mak? Bagaimana hidup kita nanti jika tanpa seorang anak tapi punya banyak harta?" pertanyaan Dara langsung mengarah ke beban pikirannya.
Mak Inah sejenak berhenti dari aktifitasnya lalu menjawab pertanyaan Dara.
"Mak tahu bagaimana rasanya tidak punya anak kandung, tapi mak nggak tahu bagaimana rasanya punya banyak harta tapi tidak punya anak. Sebab mak bukan orang kaya nyonya."
Satu jawaban dari mak Inah sepertinya kurang memuaskan Dara, sehingga dia pun kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku belum tahu semuanya mak, yang aku tahu kehilangan itu sangat menyedihkan."