
"Mau diberi nama siapa anak kita?" tanya Dara kepada Gaston. Laki-laki itu diam sejenak lalu menyebutkan satu nama, "Garda."
"Garda?" tanya Dara.
"Kenapa namanya Garda?" sahut Nyonya Mariam.
"Iya, namanya terlalu menyeramkan." ungkap Dara.
"Garda adalah singkatan Gaston dan Dara."
Seketika jawaban Gaston melelehkan hati Dara karena suaminya memberikan nama kepada putranya dari penyatuan kedua nama mereka. Nyonya Maryam pun tak banyak protes, karena hal itu menandakan bahwa putranya sudah memulai memiliki rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
"Baiklah, jika pulang nanti kita adakan acara syukuran atas kelahiran Garda." tukas Nyonya Mariam mendukung pemikiran putranya.
Pada usia tiga hari Garda sudah dibawa pulang. Nyonya Mariam menyiapkan perlengkapan untuk acara tasyakuran. Di sela sela kesibukannya nyonya Mariam menyempatkan diri menyapa cucunya di kamar.
"Apa kita perlu mencari baby sitter untuk Garda? " tanya Nyonya Maryam kepada Gaston.
"Tidak perlu, kami akan berusaha merawatnya sendiri." jawab Gaston.
__ADS_1
"Kamu yakin? Apa kamu tidak akan merasa kerepotantan?" tanya nyonya Mariam.
"Tidak ma, aku ingin belajar menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab." Dara dan Nyonya Mariam tentu sangat lega dan bahagia mendengar jawaban dari Gaston.
"Baiklah, Mama sudah persiapkan semua perlengkapan untuk acara nanti malam." ucap omah Garda.
"Ada berapa orang yang diundang Ma? "tanya Gaston.
"Tidak banyak, mungkin sekitar lima puluh orang." jawabnya Nyonya Maryam. Malam itu rumah Gaston dipenuhi oleh para tamu undangan. Mereka bersama-sama memanjatkan doa mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Garda. Usai para tamu telah pulang, terdengar Garda sedang menangis.
Cup cup cup cup , anak Daddy jangan nangis sayang," Gaston berusaha menenangkan putranya yang sedang menangis. Namun rupanya usahanya sia-sia karena bayi kecil itu masih tetap saja menangis.
"Entahlah Ma, Dara juga tidak tahu." jawab Dara.
"Mungkin dia mau minum ASI," tugas Nyonya Maryam.
"Iya Ma, tapi ASI ku tidak lancar." ungkap Dara.
"Kasihan, mungkin Garda sedang haus, apa perlu kita bantu dengan memberi susu formula?" tanya Nyonya Maryam.
__ADS_1
"Baiklah Ma, jika memang Garda membutuhkan susu formula, akan Gaston belikan sekarang."
Pria itu bergegas keluar untuk membeli susu formula untuk putranya tanpa bertanya merek apa yang harus dia beli.
"Ma, memang Gaston tahu susu formula yang tepat untuk Garda? " Dara meragukan suaminya.
"Mama juga tidak tahu, sudah biarkan saja. Biar dia berpikir bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anaknya. " sahut Nyonya Mariam.
Empat puluh menit kemudian Gaston datang dengan membawa kresek putih besar berisi susu formula untuk Garda. Dara dan Nyonya Mariam bersama sama mengeceknya, jika Nyonya Mariam sedang sibuk memperhatikan takaran gizi dan nutrisi dari susu tersebut, berbeda dengan Dara.
Wanita yang berpredikat sebagai Nyonya Gaston itu tengah mematung melihat satu lembar kertas kecil yang di dalamnya terdapat nominal angka pembelian susu.
"Satu juta dua ratus." ucap Dara dalam hati. Satu angka yang sangat fantastis untuk harga susu formula. Dara membayangkan jika susu itu akan habis dalam satu minggu, laku berapa uang yang harus di keluarkan untuk sekedar membeli susu?
"Jangan kelamaan di lihat apalagi di hitung. Kamu tahu kan jika Garda adalah putra Sultan? "
Seketika Gaston menyambar struk pembelian susu tersebut kemudian lekas merobeknya kecil kecil. Dara masih tercengang dengan ucapan Gaston, terlebih saat dia sebutkan bahwa dia adalah Sultan.
"Berarti aku ini menjadi istri seorang Sultan?" Entah kenapa Dara tiba tiba tersenyum sendiri dan hatinya ikut berbunga bunga.
__ADS_1