
Garda kini tengah berusia dua minggu. Tiap malam Gaston dan Dara sering terjaga karena Garda sering bangun di malam hari dan menangis.
"Cup.. cup.. cup.. sayang. Jangan nangis terus dong nak.." Dara menimang Garda yang tengah menangis.
Gaston yang mendengar putranya tengah menangis, segera membuka mata. Dia lihat Dara begitu lelah karena kurang tidur.
"Sini biar aku gendong. Kamu istirahat saja." tukas Gaston.
Setelah Garda berpindah tangan dari Data, ternyata tangisnya reda.
"Anak pintar, ternyata kamu pengen di gendong Daddy ya?" ucap Gaston sambil menimang putranya.
Makhluk kecil yang dulu sempat membuat Gaston risih, kini justru menarik perhatiannya. Setelah tiga puluh menit menggendong Garda, Gaston berniat untuk meletakkannya di kasur. Namun baru beberapa detik di baringkan, Garda kembali menangis. Gaston kembali mengangkat putranya agar tidak kembali menangis dan membangunkan Dara yang baru saja tertidur.
"Astaga, kenapa kamu nakal sayang? Daddy kan juga ngantuk. Kamu tidur ya," Gaston mengecup kening Garda berkali kali. Tatapan mata dari bayi mungil itu rupanya mampu melunakkan hati Gaston. Perlahan Garda mulai terpejam, dan ketika sudah sangat lelap, Gaston membaringkan putranya dengan pelan.
"Nice dream my baby, " satu kecupan lembut kembali Gaston daratkan di kening Garda. Putranya pun tertidur pulas sampai pagi tanpa menangis.
__ADS_1
"Hebat kamu!" puji Dara kepada suaminya ketika mereka bangun di pagi hari.
"Apa nya yang hebat?" tanya Gaston.
"Kamu bisa menidurkan Garda dan membuat tangisnya reda." jawab Dara.
Gaston tersenyum simpul mendengar pujian dari istrinya, "Aku sendiri tidak menyadari kelebihanku!"
Pagi itu seperti biasa, Gaston melakukan rutinitas paginya untuk pergi ke kantor.
"Selamat pagi Daddy nya Garda..." sapa Dory sahabatnya.
"Biasa gimana? Biasanya kan memang begini?" jawab Dory.
"Udahlah, masih pagi! Aku nggak mau ngeladenin celotehan kamu. Yang ada aku malah tambah sakit kepala karena semalam aku kurang tidur!" gerutu Gaston.
"Kurang tidur? Ngapain aja sob? Bikin adiknya Garda?" Dory memang gemar menggoda sahabatnya.
__ADS_1
"Nih anak minta di jitak kepalanya! Anakku nangis dan nggak mau tidur kecuali aku yang gendong."
Sontak jawaban Gaston mengundang tawa Dory hingga terpingkal pingkal.
"Apa nya yang lucu?" tanya Gaston merasa tersinggung karena Dory menertawakannya.
"Lucu banget! Itu namanya karma woy... " Dory masih belum juga bisa menghentikan tawanya.
"Enak aja! Abis ini giliran kamu ya yang kena karma karena udah ngetawain aku!" celetuk Gaston merasa kesal.
"Dih, nyumpahin! Nggak bakalan mempan. Aku nggak akan nikah kalau belum umur empat puluh tahun. Dan itu masih sangat lama sekali." jawab Dory dengan enteng.
"Kembali ke ruangan mu sana!" Gaston mengusir Dory dari kursinya. Pria itu pun akhirnya keluar dari ruangan Gaston sambil memegangi perutnya karena menahan tawa.
Hari demi hari telah berlalu, Garda semakin tumbuh menggemaskan dan membuat Gaston semakin terpikat. Tangis bayi yang dulu sangat dia takuti, justru sekarang dia menjadi penangkal tangis tersebut.
Nyonya Mariam sangat bahagia melihat perubahan sikap pada putranya yang semakin dewasa dan lebih pengertian. Begitu juga Dara, kini dia merasa rumah tangga yang sesungguhnya karena memiliki suami yang makin perhatian serta memiliki putra yang menggemaskan.
__ADS_1
"Terima kasih Dara, kesabaranmu selama ini sudah terbayar nak. Kamu mampu merubah putra mama menjadi seorang pribadi yang lebih baik." ucap Nyonya Mariam kepada menantunya.