
Setelah melewati malam dengan kegelisahan, pagi itu Gaston bangun lebih awal. Pikiran yang tidak tenang membuat matanya tidak bisa terpejam, padahal tadi malam Garda juga mengajaknya untuk begadang. Namun, keesokkan harinya dia sudah kembali terjaga di pagi buta.
Tidak seperti biasanya, pagi itu setelah mandi dan membersihkan diri, Gaston tidak mengenakan pakaian kantor.
"Kamu hari ini tidak bekerja? " tanya Dara kepada suaminya.
"Tidak, hari ini kita harus pergi ke Dokter untuk konsultasi mengenai program KB. Kalau bisa hari ini juga kamu mulai program KB itu." jawab Gaston sembari membenahi kancing kemejanya.
"Garda di ajak? " Dara kembali bertanya.
"Tidak, kita titipkan dia ke Mama." tukas Gaston.
Usai mendengar jawaban dari suaminya, Dara juga lekas bergegas untuk bersiap siap pergi ke Dokter.
Enam puluh menit kemudian, Gaston dan Dara telah tiba di sebuah ruangan Dokter dan mereka mulai menyampaikan tujuan kedatangan mereka.
"Maaf Tuan dan Nyonya, jika ingin memulai program KB, harus menunggu datangnya menstruasi. Kira kira di mulai pada dua hari sebelum masa menstruasi itu berhenti." jawab Dokter tersebut ketika Gaston dan Dara untuk memulai program KB pada hari itu.
"Jadi, nggak bisa mulai hari ini Dok?" tanya Gaston sekali lagi.
__ADS_1
"Maaf Tuan, tidak bisa. Harus menunggu datangnya jadwal menstruasi. " Sang Dokter kembali mempertegas jawabannya.
Karena merasa rencananya gagal, Gaston segera undur diri dari ruangan tersebut dengan wajah yang kusut.
"Suami kamu kenapa? " tanya Nyonya Mariam ketika Gaston dan Dara datang untuk mengambil Garda yang tengah di titipkan kepada Mamanya.
"Dia kesal Ma, karena hari ini aku tidak bisa pasang KB. Harus menunggu menstruasi." jawab Dara apa adanya.
Bukannya menjawab, Nyonya Mariam justru tertawa mendengar jawaban Dara sembari menggelengkan kepala melihat sikap putranya.
"Kenapa Mama malah tertawa? " tanya Dara.
Setelah sempat beristirahat beberapa menit, Gaston dan Dara kemudian berpamitan untuk pulang. Dan ketika sedang di perjalanan, dia bertanya sesuatu kepada Dara.
"Kapan datang waktu menstruasi kamu?"
"Oh, mungkin satu minggu lagi." jawab Dara.
Usai menanyakan hal tersebut, Gaston tidak banyak bicara lagi. Bahkan usai mengantar Dara hingga ke rumah, dia tetap pergi ke kantor.
__ADS_1
Setelah tiba di ruangannya, dia hempaskan kasar tubuhnya ke kursi dengan kepala yang bersandar. Dan tak lama kemudian, terdengar pintu di ketuk dan gagang pintu mulai bergerak hingga membuat benda segi empat itu membuka.
"Kenapa siang banget datangnya? Ini ada banyak berkas yang harus kamu tandatangani! " sapa Dory sembari menaruh beberapa berkas di atas meja Gaston. Gaston pun segera meraih bolpoin untuk menandatangani berkas itu.
"Kenapa tuh muka kusut macam kain pel? " tanya Dory dengan nada meledek.
"Udah diam aja! Dari pada aku lap mulutmu pakai kain pel beneran! " sahut Gaston dan membuat Dory menutup mulutnya.
"Busyett! Di kira ini mulut ember apa? "
"Makanya, jadi mulut jangan kayak ember bocor! " Dory justru menjadi pelampiasan kekesalan hati Gaston.
Waktu terus berjalan, dan satu minggu telah berlalu. Gaston segera bertanya kepada Dara ketika jadwal menstruasi nya tiba.
"Apa hari ini kamu sudah mengalami menstruasi?" tanya Gaston, dan sayangnya Dara menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan suaminya.
Pikiran Gaston mulai di buat resah, tetapi Dara mencoba menenangkan suaminya.
"Bisa saja mundur satu atau dua hari."
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, Gaston akan menambah penantiannya hingga dua hari ke depan.