
Sejak hari itu Gaston mulai memberi perhatian kepada istrinya meski dia terkadang juga tetap menunjukkan sikap arogannya. Beberapa hari telah berlalu, tiba di suatu malam ketika Dara mulai merasakan perutnya mulas dan mengeluarkan cairan kental dari organ vitalnya bercampur dengan darah. Dia bangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas.
"Gaston, tolong aku. Perutku sakit." rintih Dara. Dalam keadaan yang belum sadar sempurna, Gaston berusaha membuka mata dan melihat istrinya sedang meringis kesakitan.
"Kamu kenapa? Apa kamu akan melahirkan?" tanya Gaston.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi perutku rasanya mulas sekali dan bercampur nyeri. Aku juga mengeluarkan lendir dan darah." jawab Dara.
"Astaga ! Ayo kita cepat ke rumah sakit." dengan gugup dan takut serta khawatir, Gaston bergegas untuk menyiapkan diri menuju ke rumah sakit. Dia bantu istrinya untuk bangun.
"Apa perlu aku gendong?" tanya Gaston.
"Tidak, kamu tidak akan kuat menggendong ku," di tengah-tengah rasa sakitnya, Dara tersenyum sendiri mendengar tawaran sang suami.
"Beratku saja tujuh puluh lima kilo, emang dia kuat mau gendong aku?" tanya Dara dalam hati.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu pelan-pelan. Ayo aku bantu kamu buat berjalan." sahut Gaston.
Tepat pukul satu dini hari mereka tiba di rumah sakit. Gaston sempat menghubungi Nyonya Mariam sebelum Dara ditangani oleh petugas medis.
"Halo Ma, sekarang aku berada di rumah sakit. Sepertinya Dara mau melahirkan."
Percakapan diantara mereka pun tak panjang karena nyonya Mariam bergegas pergi ke rumah sakit juga.
"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Gaston kepada sang Dokter.
"Ya Tuhan, kenapa orang yang mau melahirkan terlihat begitu tersiksa?" tanyanya dalam hati. Dengan langkah lebar dan cepat, Gaston mengikuti kemana arah perawat membawa istrinya menuju ruang persalinan.
Setibanya di sana, beberapa perawat dan juga Dokter sudah menyiapkan peralatan Dara untuk bersalin.
"Apa dia akan benar-benar melahirkan sekarang Dok?" Gaston masih saja mengajukan pertanyaan karena panik melihat istrinya yang semakin kesakitan.
__ADS_1
"Iya Tuan, tetapi pembukaannya belum sempurna, mungkin akan butuh waktu satu jam lagi untuk pembukaan yang sempurna." jawaban sang Dokter itu membuat Gaston kembali bertanya. Kenapa harus menunggu satu jam Dok? Dia kan sudah kesakitan, kasihan istriku." ungkap Gaston.
"Tidak bisa Tuan, kita harus menunggu pembukaannya hingga sempurna karena jika tidak, nanti istri anda akan mengalami pembengkakan di area vitalnya." Gaston semakin terkejut mendengar jawaban Dokter . Dia bayangkan bagaimana organ vital Dara membengkak, pasti rasanya sangat sakit.
Gaston merasa sangat bersalah karena yang menyebabkan Dara menjadi seperti ini adalah dirinya.Tiba-tiba dia memeluk tubuh sang istri yang sedang kesakitan sambil berkata. "Aku minta maaf, maafkan aku. Aku yang membuatmu seperti ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Seketika permintaan maaf Gaston mengundang gelak tawa para dokter dan juga perawat yang ada di situ. Akan tetapi karena takut menyinggung perasaan Gaston, mereka pun menahan tawa. Sementara Dara tak menjawab ucapan Gaston karena rasa sakit yang dia rasakan semakin mendera.
Tak lama kemudian Nyonya Mariam pun datang, "Gaston ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Nyonya Mariam ketika melihat mata putranya berlinang air mata.
"Gaston kasihan dan merasa bersalah Ma sama Dara." jawab pria yang baru saja insaf itu.
"Merasa bersalah kenapa Gaston? " tanya Nyonya Mariam lagi.
"Aku yang membuat Dara menjadi seperti ini, Gaston janji setelah ini Gaston tidak akan mengulangi kesalahan lagi."
__ADS_1
"Maksud kamu?" berbeda dengan para Dokter dan juga perawat, rupanya Nyonya Mariam tidak paham arah pembicaraan putranya itu