Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Ikatan


__ADS_3

Dara membuka mata dengan perlahan lalu mencari asal suara. Dia melihat satu sosok wanita tersenyum kepadanya. Dara lekas membalas senyuman itu dengan senyuman hangat juga.


Tubuhnya mulai bangkit dari tidurnya lalu dia perlahan melangkahkan kaki mendekati sosok wajah yang dia kenal dan dia rindukan.


Setelah mendekat, dia peluk erat wanita yang berdiri di hadapannya. Wanita itu membalas pelukan Dara dan mengelus puncak kepalanya. Pertemuan singkat antara keduanya begitu mengharukan, selembut kehangatan benar benar di rasakan oleh Dara.


Dara memejamkan mata dalam pelukan yang damai tersebut, dia dengar sebuah kata kata yang begitu menyejukkan jiwa.


"Kamu adalah darahku, jangan pernah membuang ikatan kita. Karena ikatan paling kuat adalah antara seorang ibu dan anaknya."


Dara semakin menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan yang amat lama dia rindukan. Tanpa terasa air mata pun mengalir pada kedua pipinya.


"Aku tidak akan melepas ikatan berharga ini."


Satu kalimat terucap dari bibir Dara. Kenyamanan itu benar benar di rasakan oleh perempuan yang haus akan kasih sayang tersebut. Setelah di rasa telah lama memejamkan mata, Dara berusaha membuka kembali pandangannya. Dan satu hal yang berbeda terlihat di sana, karena wajah hangat yang awalnya tengah menenangkan jiwanya, kini berubah menjadi sosok wajah garang yang lengkap dengan tatapan mematikannya.


"Bangun, bangun, bangun Dara..." satu panggilan kembali terdengar di telinga Dara, dan rupanya itu adalah panggilan dari Gaston.

__ADS_1


Mata Dara terasa lengket dan sembab karena air mata baru saja membanjiri area wajahnya. Namun dia tetap berusaha membuka kedua netranya dengan lebar untuk memastikan siapa yang tengah berada di hadapannya.


Belum sampai kesadaran Dara kembali sempurna, wajah teduh nan menghangatkan itu kembali melintas.


"Ibu... ibu... jangan pergi ibu, aku janji tidak akan melepas darah kita..."


Teriak Dara sambil menggelengkan kepala dengan mata tetap tertutup. Sementara tubuhnya di penuhi keringat dingin dengan nafas yang tidak beraturan. Teriakan Dara berhenti setelah dia rasakan ada sebuah sentuhan di pipinya. Bukan sentuhan hangat dan lembut, melainkan sentuhan dengan berkali kali menepuk pipi kanan dan kirinya.


Dara terkejut ketika dia buka matanya lebar lebar, ternyata suaminya sudah berada di hadapannya.


"Ngapain sih teriak teriak? Mengganggu orang tidur aja!" celetuk Gaston sambil berdiri dari duduknya dan kembali ke kasur.


"Maaf," jawab Dara dengan segera dan singkat.


"Terlambat, aku sudah terlanjur terganggu." jawab Gaston datar.


Dara menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.

__ADS_1


"Dasar laki laki tidak punya perasaan, tidak tahu caranya perhatian." gerutu Dara dalam hati melihat kelakuan angkuh Gaston.


Tak mau merusak suasana hati dengan memikirkan tingkah Gaston, Dara memilih mengingat petuah penting yang dia dengar di mimpinya.


"Aku janji tidak akan melepas ikatan kuat antara ibu dan anak?"


Satu kalimat itu jelas tercatat di kepala Dara. Tiba tiba dia teringat dilema yang saat itu sedang dia rasakan.


"Apa aku memang harus tetap mempertahankan apa yang menjadi milikku?" tanya Dara dalam hati.


Setelah berkali kali memikirkannya, akhirnya Dara menemukan keputusan yang harus dia pilih. Dengan penuh keberanian, Dara memanggil Gaston dan mengucapkan sesuatu.


"Ada yang ingin aku bicarakan." tukas Dara.


Gaston hanya menjawab dengan kode di alisnya.


"Aku sudah memikirkan apa yang harus aku lakukan, dan maaf jika apa yang aku lakukan ini akan membuat kamu tidak nyaman." Dara berhasil menarik perhatian Gaston dengan kalimat yang dia ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2