
Dara mendekati Gaston usai membantu mak Inah membelah buah nanas itu.
"Apa mak Inah udah selesai merebus telurnya?" tanya Gaston.
Dara hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Kalau gitu cepat makanlah!" titah Gaston.
Dara menjawabnya lagi dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak mau? Aku bilang makan!" Gaston meninggikan suaranya dengan mata yang membulat sempurna.
"Apa kamu takut jika aku akan hamil?" Dengan segenap keberanian, Dara bertanya.
Gaston terkejut mendengar kalimat yang di tanyakan oleh istrinya. Namun pria itu tetap mempertahankan keinginannya.
__ADS_1
"Jangan banyak bertanya, lakukan saja perintahku!" titah Gaston kemudian.
"Tapi,..."ucapan Dara terpotong.
"Tapi apa? Kamu ingin cepat hamil? Kamu ingin menuntut ku ini dan itu sebagai seorang bapak? Tidak, aku belum siap menerima semua itu. Kecuali,..." Gaston memotong sendiri ucapannya.
"Kecuali apa?" Tanya Dara kemudian.
"Kecuali kamu siap dengan resikonya. Aku masih ingin bebas dengan duniaku. Aku belum siap di repot kan dengan tangisan seorang bayi!"
"Sabar nyonya, sabar..." lirih mak Inah sambil mengelus lengan Dara.
Tak mampu menahan kesedihan, Dara menghamburkan pelukan ke tubuh mak Inah.
"Aku sedih mendengarnya mak....." ucap Dara di sela sela tangisnya.
__ADS_1
Mak Inah berusaha menjadi teman terbaik untuk Dara karena dia tahu wanita itu jauh dari keluarganya. Usai menumpahkan tangis di pelukan mak Inah, Dara berusaha menenangkan dirinya sendiri. Semakin dia melihat minuman dan makanan yang di berikan oleh Gaston, hatinya semakin sakit.
Namun Dara tak mampu melawan kemauan Gaston, kecuali dia berani menanggung resiko seperti yang Gaston katakan, yakni jika dia hamil dan punya anak, maka akan di hadapkan sikap dingin Gaston padanya juga calon buah hatinya.
Sempat terlintas di benak Dara untuk mengadukan semua itu kepada mama mertuanya , tapi baru saja dia meraih ponsel untuk mengirim pesan, rupanya pesan dari Gaston sudah masuk lebih dulu.
"Jangan berani berani mengadu ke mama, atau kamu sendiri yang akan terkena masalah!"
Satu teguran itu membuat Dara semakin pilu. Dia yang sempat mengira bahwa suaminya sudah lebih melunak, tapi ternyata tidak. Pria itu tetap menjadi kepala batu.
Dara hanya bisa melampiaskan kekesalannya dalam tangis. Namun tiba tiba terpikir oleh Dara untuk menuruti saja kemauan suaminya agar tidak kena masalah. Dia berjalan menuju ke kulkas dan ingin memakan semua buah nanas serta meminum semua minuman kafein yang di simpan di lemari es tersebut.
Dia tarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, dia mencoba memikirkan lagi keputusan yang akan dia ambil. Dan setelah berulang kali berpikir, keputusannya tetap sama. Dara tidak ingin menambah beban hidupnya, cukup satu beban dengan menjadi istri Gaston itu sudah menyiksa dirinya. Tidak mau dia tambah lagi dengan menjadi calon ibu tunggal yang tidak di perhatikan suami dalam mengurus anak.
Dara memejamkan mata untuk kembali meyakinkan hatinya, dan setelah membuka mata, dia sudah tidak ragu lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku, bukan aku tidak mau menjadi seorang ibu. Tapi aku belum siap menerima perilaku dingin Gaston saat aku mengandung anaknya. Karena hal itu pasti akan mengganggu kesehatan calon bayiku."