Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Ceroboh


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan kehadiran Garda mampu melunakkan hati Gaston meski pria itu masih terkesan arogan. Satu bukti nyata yang terlihat adalah, selama ini tangis Garda di malam hari tidak reda jika tidak berada di tangan Gaston.


Suatu sore Nyonya Mariam berkunjung ke rumah putranya karena rindu kepada cucunya. Namun, di tengah tengah cengkerama hangat mereka, beliau melontarkan pertanyaan yang mencengangkan Dara dan Gaston.


"Dara, kapan kamu mulai melakukan program KB?"


Seketika Dara membuka kedua kelopak matanya dengan lebar lalu perlahan menatap ke arah Gaston. Sementara Gaston justru memalingkan pandangan. Melihat tanggapan putranya, Nyonya Mariam pun kembali bersuara.


"Gaston, baiknya kamu bicarakan hal ini dengan istrimu. Kamu itu sekarang udah jadi kepala keluarga, jadi kamu harus bisa mengatur semua kegiatan kamu dalam berumah tangga. Dari mulai bekerja, bermain bersama anak istri, dan juga mengatur program KB." tukas Nyonya Mariam.


"Memangnya harus seperti itu ya?" tanya Gaston.


"Iya, kecuali kalau kamu memang pengen punya banyak anak." jawab Nyonya Mariam.


Seketika mulut Gaston menganga mendengar kalimat itu, satu anak saja membuatnya sering begadang, bagaimana jika punya banyak anak?


Pertanyaan itu yang melintas di benaknya.

__ADS_1


Bahkan Gaston susah payah menelan saliva usai memikirkan hal tersebut, apalagi dia teringat bahwa sudah dua kali dia menyalurkan hasratnya kepada Dara tanpa KB selama sepekan terakhir .


Rupanya petuah dari Nyonya Mariam itu begitu mengganggu pikiran Gaston. Dan ketika Nyonya Mariam sudah pulang, dia lekas mengintrogasi istrinya.


"Kamu yakin kan, kalau yang kemaren itu nggak ada yang masuk? " tanya Gaston tepat di telinga Dara.


"Apanya? " otak Data belum bisa mencerna pertanyaan suaminya karena Gaston menanyainya tanpa aba aba.


"Issh, pakai nanya lagi? Itu, yang kemaren kita gituan! " jawab Gaston sembari mendengus kesal.


"Perasaan sih enggak." jawab Dara dengan ragu.


"Kok perasaan sih? Yang yakin dong! " sahut Gaston sedikit kesal dengan jawaban Dara yang ambigu.


"Iya, perasaan emang nggak ada yang masuk." jawab Dara sekali lagi.


"Astaga, masih pakai perasaan lagi! " tukas Gaston sembari mengacak acak rambutnya karena merasa frustasi. Sementara Dara sendiri di buat bingung harus menjawab apa?

__ADS_1


"Gimana kalau ternyata kemaren ada yang masuk? Harusnya kamu itu KB sejak awal! " Gaston justru menyalahkan Dara.


"Loh, bukannya kamu yang melarang aku untuk KB dulu biar ASI ku lancar? " Dara balik bertanya.


"Duh, ribet banget sih! Tapi kan kamu bisa nyari program KB yang nggak menghambat ASI? " Gaston tidak mau kalah.


"Tapi kan... " Dara ingin mengingatkan bahwa Gaston tidak mengizinkan dirinya keluar rumah apalagi meninggalkan Garda, sehingga dia belum sempat konsultasi lagi ke Dokter tentang program KB.


"Ah, jangan banyak alasan! Kamu ini memang ceroboh! " cecar Gaston.


"Loh, kenapa aku yang di kata ceroboh? " Tanya Dara dalam hati karena tidak mungkin pertanyaannya itu dia ungkapkan secara langsung karena pasti hanya akan memancing amarah suaminya. Dia pun akhirnya hanya memilih diam, agar tidak memperkeruh keadaan.


Berbeda dengan Gaston, malam itu dia di buat gelisah jika benar benihnya masih ada yang tertinggal di rahim istrinya. Karena jika hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan ada satu bayi lagi di hidupnya.


"Astaga, kenapa aku tidak berpikir sejauh itu? "


gerutu Gaston dalam hati. Dia menyesali kecerobohan yang dia lakukan tetapi justru dia lempar kecerobohan itu kepada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2