
"Sepertinya aku perlu pergi ke kutub untuk mendinginkan otak" sahut Gaston dengan wajah yang kesal.
"Woy, ada apa ini? Sepertinya begitu genting? Apa urusan anak lagi?" tanya Dory langsung ke inti pertanyaan.
"Bukan, ini soal istri." jawab Gaston datar.
"Istri? Ya elah, sejak kapan kamu pusing mikirin istri? Emang dia minta dibikinin anak berapa sih sampai kamu pusing gitu?" ledek Dory.
"Ngaco ni anak kalau ngomong!" seru Gaston semakin kesal.
"Lah terus minta apaan dong yang bikin kamu pusing? Kalau masalah duit dan kebutuhan, nggak mungkin lah bikin kamu pusing?" tanya Dory selanjutnya.
"Bukan minta, tapi aku risih di perhatikan terus. Makan di temani, di lihatin, di perhatiin. Masuk kamar juga di buntuti, ngapain aja di perhatiin. Serasa kayak di terror!"
Dory tertawa lepas sambil memegang perutnya mendengar jawaban Gaston. Kedua pria tengil itu memang susah dia atur dan semaunya sendiri, jadi mereka merasa tidak nyaman jika ada yang selalu memperhatikan mereka.
"Apaan sih ketawa mulu? Emangnya lucu?" tukas Gaston sambil menghisap penghasil asap yang menjadi kesukaannya.
__ADS_1
"Astaga, aku prihatin banget sama hidup kamu sekarang. Itu sebabnya aku nggak mau kenal dulu ama yang namanya rumah tangga. Jauh jauh dulu dah buat menikah. Bisa berasa hidup di pedalaman amazon, salah bertingkah bisa di terkam binatang buas...!" ucap Dory sambil menggelengkan kepala. Kedua pria dewasa itu memang masih benar benar menolak suatu pernikahan, karena mereka merasa belum puas menikmati masa lajang, tanpa mereka sadari bahwa usia mereka sudah cukup matang untuk berumah tangga.
"Entahlah, kenapa nasibku begitu sial. Tapi sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan semua keadaan ini." ungkap Gaston yang terdengar begitu frustasi.
"Aku turut berduka atas keadaanmu sob, semoga kamu lekas keluar dari jerat rumah tanggamu." Satu doa yang terdengar sangat menyesatkan dari Dory untuk sahabatnya.
Belum juga mereka berhenti membahas tentang Dara, tiba tiba ponsel Gaston berdering karena ada satu pesan masuk dari nyonya Mariam yang memberi kabar bahwa Gaston benar benar akan punya seorang anak.
"Makasih ya sayang, akhirnya mama akan segera menimang cucu." satu pesan masuk dari nyonya Mariam.
"Iya maksudnya kamu akan punya seorang anak."
Satu balasan dari nyonya Mariam membuat Gaston susah payah menelan saliva.
"Tidak mungkin, kenapa secepat ini?" tanya Gaston dalam hati sambil mengusap wajah kasar.
"Ada apa bro? Minta apa lagi istri kamu?" tanya Dory terdengar seperti meledek setelah melihat ekspresi wajah Gaston.
__ADS_1
"Jangan bercanda, aku lagi beneran panik!" ungkap Gaston.
"Ish, ada apa lagi ini?" Dory masih belum berhenti bertanya.
"Aku, aku, aku beneran akan punya anak."
Mulut Dory terbuka lebar ketika mendengar ucapan Gaston.
"Amazing! Cepat banget jadinya?" tanya Dory dengan mulut menganga.
"Entah lah, aku juga tidak tahu!" sahut Gaston dengan wajah frustasi.
Hari itu tubuh Gaston terasa lemas dan tidak bergairah untuk beraktifitas. Bahkan dia berharap waktu akan tetap berada di titik itu tanpa harus berputar ke depan. Jika bisa, malah ingin dia putar waktu ke belakang agar dia bisa memakai pengaman supaya benihnya tidak tertanam.
Namun, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Meratapi diri bukan jalan terbaik, dia harus tetap melangkah seiring waktu yang terus berjalan.
Hari telah menjelang sore, tiba waktunya Gaston harus pulang dan meninggalkan kantornya. Dia masih belum sanggup membayangkan sambutan apa yang akan Dara berikan ketika dia sudah di nyatakan akan menjadi seorang ibu.
__ADS_1