Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Buah hati


__ADS_3

"Aduh sakit sekali, tolong aku Dokter. Bayi ini mau keluar dari perutku.." teriak Dara.


"Dokter tolong istri saya Dok, kasihan dia. Biarkan dia melahirkan sekarang juga. Tidak perlu menunggu satu jam lagi." pinta Gaston kepada sang Dokter.


"Tidak bisa Tuan, kita harus menunggu pembukaannya sampai sempurna." jawab Dokter tersebut.


"Tahan nak, kamu pasti bisa. Semua wanita juga mengalami apa yang kamu rasakan." Nyonya Mariam berusaha menguatkan sang menantu sambil memegang tangannya.


"Tapi sakit sekali Ma rasanya.." rintih Dara.


"Iya nak, Mama tahu kamu pasti kuat." jawab nyonya Mariam sambil mengelus bahu Dara.

__ADS_1


Hati Gaston benar-benar terkoyak mendengar rintihan sang istri apalagi dia mulai lihat darah yang mengalir dari area sensitifnya. Otaknya mulai berpikir yang tidak tidak, dia membayangkan jika organ vital itu akan robek sampai lebar karena mengeluarkan seorang bayi. Gaston menggelengkan kepala sambil menutup mata lalu mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tersiksa dengan pemandangan itu, apalagi dia harus menunggu satu jam lagi.


Detik demi detik pun berjalan sangat lama. Hingga akhirnya waktunya pun tiba dimana pembukaan Dara sudah sempurna. Para tim medis sudah menyiapkan alat untuk mengeluarkan sang jabang bayi.


"Ayo Nyonya, diatur nafasnya. Kita mulai proses persalinan." ucap sang Dokter.


Telinga Gaston semakin tidak kuat mendengar suara rintihan Dara ketika mengejan. Ingin rasanya dia keluar dan melarikan diri dari ruangan itu, tapi itu tidak mungkin dia lakukan karena tangan Dara memegang erat tangannya. Sementara tangan Dara yang satunya berpegangan pada tangan Nyonya Mariam. Rintihan demi rintihan Dara membuat Gaston semakin mengerti arti sebuah pengorbanan, terutama pengorbanan seorang wanita.


Ketegangan mereka mencair ketika terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan tersebut.


"Selamat nak, kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah." tugas Nyonya Mariam.

__ADS_1


"Selamat juga untuk kamu Dara. Kamu hebat, persalinannya berjalan dengan lancar. Putra kamu terlahir dengan sehat." Nyonya Mariam memberi ucapan selamat kepada menantunya.


Tanpa banyak berkata-kata Gaston mencium kening Dara. "Terima kasih kamu sudah berjuang untuk keturunanku" ungkapnya.


Dengan wajah yang masih berpeluh dan tubuh yang lemas, Dara memberi senyuman dan anggukan kepada sang suami. Satu perhatian kecil itu mampu membangkitkan kembali stamina tubuh Dara. Rasa sakit yang tadi dia rasakan sejenak menghilang ketika melihat buah hati dan juga perhatian dari sang suami. Tidak ada kata yang mampu mengungkapkan. kebahagiaannya kecuali dengan air mata.


Bayi mungil itu pun lekas dibersihkan dan Dara masih menerima penanganan medis untuk luka robek pasca persalinan.


"Permisi Nyonya, kami akan menjahit luka robek anda agar kembali ke bentuk semula." satu kalimat itu juga sempat membuat Gaston merasa ngilu membayangkan organ vital yang robek lalu akan dijahit. Seketika kedua tangannya menggenggam erat tangan istrinya untuk memberi semangat dan kekuatan.


"Tenang Tuan, tidak akan menimbulkan rasa sakit karena kami memberi suntikan bius lokal." ujar seorang perawat.

__ADS_1


"Iya Sus, di bius semua juga tidak apa-apa biar istriku tidak kesakitan lagi." jawab Gaston.


Dara semakin terharu mendengar perhatian dari. sang suami yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Tiga puluh menit kemudian bayi Gaston diberikan kepada Dara untuk diberi ASI pertama. Momen itu benar-benar sangat istimewa bagi Dara, satu nyawa telah terlahir dari keturunan seorang laki-laki kaya dan arogan yang dulu sangat mengacuhkannya tapi sekarang dia menjadi orang yang pertama kali khawatir akan dirinya.


__ADS_2